Mohon tunggu...
Wahyu ferdinan
Wahyu ferdinan Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Perkenalkan nama saya wahyu ferdinan dan biasanya dipanggil fedi. saya lahir Lumajang pada 02 Februari 2003 dan saya merupakan anak pertama dari dua bersudara. Harapan saya semoga karya-karya saya ini bisa bermanfaat untuk diri saya sendiri dan orang lain.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kakek Mustakim, Pejual Buku Bekas Tahun 1964-an yang Masih Bertahan di Era Digital

25 September 2022   21:10 Diperbarui: 25 September 2022   21:16 214
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

PENA Ku - Di era digital, dimana perilaku manusia lebih banyak memih sesuatu yang instan,  begitu juga dengan urusan bisnis. Banyak sekarang orang lebih memilih belanja secara online sehingga pengusaha dituntut untuk bisa adaptasi dengan arus perubahan agar bisa tetap berada di zona nyaman. Tidak terkecuali dalam bisnis buku.

Di era digital, banyak orang lebih memilih menjual buku secara online karena lebih praktis dan tidak membutuhkan banyak modal. Tidak heran sekarang banyak kios-kios buku yang gulung tikar, dimana karena adanya faktor persaingan bisnis dengan toko online dan juga berkurangnya pengunjung.

Tetapi, Di Jember ada kios buku bekas yang tak hilang dimakan zaman. Kakek Mustakim namanya, warga Jalan Kenanga II, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember. Usianya sudah tidak muda lagi, Namun kecekatan jari-jemarinya dalam menata ribuan buku bekas masih mumpuni dan daya ingat nya juga masih kuat.

Minggu (25/9/22) Sore, PENA-Ku ditemani satu temannya Dyah memdatangi rumah Kakek Mustakim yang berada dipemukiman dengan melewati jalan tikus yang tak jauh dari pusat kota Jember. Sore itu, Kami dirumah bapak Mustakim di sambut dengan ramah. Rumah Bapak Mustakim sengaja di sulap menjadi kios buku, karena beliau sendiri untuk bembuka toko buku tidak memiliki modal dan sudah tua.

"Saya mulai usaha ini sejak masi muda, waktu itu awalnya berjualan koran, namun suatu ketika saya meliat transaksi buku bekas. setelah saya amati ternyata buku bekas masi ada peminatnya, dan dari situ saya tertarik untuk berjualan buku bekas" kenangnya.

Mulai dari sanalah di tahun perkiraan 1964an kakek Mustakim Merintis toko bukunya. dengan bermodalkan uang hasil penjualan koran dan juga dibantu adanya amanah yang di percayakan kepada beliau untuk menjualkan buku-bukunya tanpa diminta uang modal awal.

beliau juga mengaku tidak sempat menamatkan pendidikan di bangku sekolah dasarnya, karna adanya kendala ekonomi keluarga yang buruk pada saat itu.

" saya bukan orang berpendidikan. Bahkan saya saja awalnya tidak bisa membaca, tetapi kemudian saya punya semangat untuk belajar membaca, ya lambat laun lama-lama akhirnya saya bisa membaca, masak mau kalah sama anak-anak. karena dengan membaca kita bisa mengetahui hal-hal yang belum kita tau"ujarnya.

Dari profesinya, kakek Mustakim dipaksa untuk bisa membaca dan mau belajar dengan membaca buku-bukunya sambil menunggu pengunjung datang.

"saya disini sendirin, ketika saya didatangin temen-temen mahasiswa saya sangat senanag sekali. Selain saya bisa ngasih motivasi pengalaman, juga saya bisa mendapatkan ilmu dari mereka," ujarnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun