Kandidat

Khairul Imam di Mata Saya

11 Januari 2019   16:31 Diperbarui: 11 Januari 2019   16:38 166 0 0
Khairul Imam di Mata Saya
Foto Pribadi

Saya mengenal H. Khairul Imam, atau yang akrab disapa sebagai Imam sekitar tahun 2015 pada sebuah acara makan malam di Jakarta. Pada saat itu saya dan partner saya--yang kebetulan memang teman dekat Imam memang diundang H. Hasrul Azwar untuk merayakan milad anak bungsunya tersebut di daerah Jakarta Pusat. Hanya teman dekat yang datang, tidak ada selebritis, tidak ada musik, tidak ada kemeriahan-kemeriahan lain. 

Hanya beberapa kawan yang bercakap hangat diantara meja perjamuan, sesekali ayahanda H. Hasrul Azwar mengeluarkan joke remeh temeh diantara perbincangan mengenai sepak bola yang tidak saya mengerti dengan baik.

Makin lama saya mengenal Imam, baik dari narasi orang lain dan dari kesehariannya, ia tidak tampak seperti seorang 'anak pejabat' yang lekat dengan hidup mewah, jalan-jalan keluar negeri, barang-barang bermerk, serta mobil sport harga miliaran; Imam bukan orang seperti itu. Dari pertemuan yang sering saya hadiri bersama partner saya, mereka (kumpulan kawan Imam) seringkali berbicara mengenai pendidikan, pemerintahan, media masa, serta film apa yang sedang 'in' di Bioskop.

Di dalam hati saya penasaran, bagaimana seorang anak yang tumbuh bergelimang harta dan kekuasaan seperti Imam bisa sangat 'membumi'? Bisa sangat akrab dan hangat dengan orang-orang baru, yang mungkin dalam sudut pandang saya pribadi secara ekonomi jauh di bawah Imam. Dan tentu saja waktu menjawab semua pertanyaan saya.

Seiring jauh pertemanan kami, ternyata saya mengerti bahwa Imam lahir dari keluarga yang sederhana pula. Ibunya adalah seorang Ibu rumah tangga biasa yang punya perhatian khusus pada pendidikan. Ibunya bukanlah seorang Ibu 'pejabat' yang keluar masuk salon kencantikan, mempermak wajah, bermake up tebal, berbaju desainer dunia, Ibunda Imam H. Nani--atau akrab saya panggil Tante Nani adalah seorang Ibu kebanyakan, yang hangat dan selalu mengayomi siapapun yang ia kenal. 

Kehangatan inilah yang mungkin diserap Imam sebagai individu. Sosok Tante Nani yang sederhana dengan Jilbab Panjangnya, hobinya memasak untuk tamu-tamu Imam (Teman-teman), selalu berbicara baik, dan juga pendengar yang baik.

Kehangatan Imam dalam menerima individu juga tidak lahir dari bagaimana Ibunya mengasuhnya, ada peran penting dari Ayahnya saya kira; H. Hasrul Azwar atau Om Asrul saya memanggilnya, adalah pribadi yang punya kehangatan yang sama, pekerja keras, dan tentu saja tegas dalam mengambil sikap. Mungkin sifat inilah yang kemudian turun ke Imam; kerja kerasnya dan kesungguhannya dalam menyelesaikan setiap masalah yang ia temui.

Perkenalan kami kemudian jatuh pada tahun 2018 akhir, dimana Imam mengumumkan bahwa ia akan menjadi Calon Legislatif tingkat DPR RI untuk Daerah Pemilihan Sumatera Utara 1 (Dapil Sumut 1), dan disini saya bergertar, agak haru. Sikap saya yang apatis terhadap pemerintah dan penguasa serta merta luluh dari bagaimana Imam menerangkan tujuan-tujuannya turun ke ranah politik, mengikuti jejak sang Ayah H. Hasrul Azwar yang sudah kurang lebih 35 tahun menjabat sebagai anggota DPR RI, jabatan selama itu ia pertahankan tanpa cela, tanpa pernah sedikitpun tersandung masalah hukum.

Saya merenung, mungkin Imam adalah calon yang paling tepat untuk menjadi wakil masyarakat Dapil Sumut 1 yang mewakili Medan, Tebing Tinggi, Serdang Bedagai, dan Deli Serdang. Kerja kerasnya, kejujurannya, serta kemauannya untuk mengorbankan diri demi orang banyak adalah hal yang memang menjadi keunggulan Imam dibandingkan lawan politik yang lain, dan tentu saja dalam memperkenalkan dirinya ke masyarakat saya yakin Khairul Imam si gendut yang periang ini juga pasti berdiri jauh dari politik uang.

Selamat berjuang Imam.