Mohon tunggu...
Urip Widodo
Urip Widodo Mohon Tunggu... Peg BUMN - Write and read every day

Senang menulis, membaca, dan nonton film, juga ngopi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Saat Gontor di Teror

26 September 2022   15:27 Diperbarui: 26 September 2022   15:28 471
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Masya Allah. Luar biasa. Keduanya saling meminta salah satu di antara mereka untuk mengungsi. Keduanya bersikukuh merelakan diri berhadapan dengan PKI. Sungguh, bukan nasib mereka yang dipikirkan, tetapi nasib para santri. Sampai beberapa saat keduanya saling meminta.

"Daripada berdebat tak ada ujung, sebaiknya adik berdua bersama-sama mengungsi. Biar saya, sebagai Lurah, tinggal di sini yang akan menjaga Pondok."  Kiai Rahmat, sebagai kakak tertua, memberi solusi. Selain menjadi Lurah di Desa Gontor Kiai Rahmat Soekanto pun menjadi Imam salat di masjid Pondok.

Kantuk saya terasa hilang mendengar pembicaraan ketiga tokoh di dalam. Sungguh saya kagum kepada ketiganya, yang lebih mempedulikan saudaranya daripada dirinya sendiri. Ketegangan menghangatkan tubuh saya, membuat jantung terasa berdegup semakin keras. Apalagi kemudian, dengan tergopoh-gopoh seorang santri datang.

"Ada apa?" bisik saya saat santri itu sudah tiba di hadapan.

"Ini ... ini ada surat untuk Kiai," jawabnya.

"Surat dari siapa?"

"Surat dari PKI!"

"Hah!" Tentu saja saya kaget, keringat pun keluar membasahi seluruh tubuh. Segera saya menerima surat tersebut, lalu mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk.

Setelah mendapat izin saya masuk dan langsung menyerahkan surat tersebut. "Maaf, Kiai, ini ada surat dari PKI."

Beberapa jenak Kiai Zarkasyi tertegun sebelum menerima surat dan segera membacanya. Lalu beliau menatap wajah kedua saudaranya.

"Apa isi suratnya, Zar?" tanya Kiai Sahal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun