Mohon tunggu...
Urang Cibaduyut
Urang Cibaduyut Mohon Tunggu... -

Urang Cibaduyut

Selanjutnya

Tutup

Inovasi

Berkenalan dengan Dunia Publikasi

21 Februari 2016   09:45 Diperbarui: 19 Desember 2016   21:29 4223
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

 

Gambar 2: Screenshot peringkat jurnal bidang Biomedical Engineering dari JCR Web of Science.

Menurut pengamatan saya, jurnal yang berafiliasi dengan asosiasi profesi, meskipun kadang IF-nya lebih rendah dari jurnal lain sejenisnya, biasanya proses review-nya lebih ketat. Mungkin karena pertimbangan aspek ilmunya lebih kuat dari aspek bisnisnya. Contohnya eCM Journal, salah satu top jurnal di bidang riset ortopedi, Link-3, dimana paper kami mengalami dua kali major revision dengan komentar dari 4-5 reviewer tapi akhirnya rejected.

Paper yang diterima di jurnal yang bagus dan mengalami proses review yang ketat secara langsung akan memiliki mutu yang baik. Paper yang baik akan mendapat citation yang banyak yang pada gilirannya meningkatkan citation metrix (h-index) author-nya.

H-index merupakan perbandingan jumlah citation terhadap jumlah paper yang di-cite, misalnya h-index = 100 maknanya ada 100 paper yang di-cite minimal 100 kali.

E. Sekelumit tentang h-index

Ada banyak pro-kontra tentang h-index ini, misalnya “nebengers/tumpangers” juga bisa tinggi h-indexnya. Perkara ini tidak dibahas di tulisan ini. Yang jelas, jika sudah publish 100 paper tapi h-index = 5 saja, menandakan ada yang kurang dengan mutu paper-papernya.

Sekarang ini ada tiga database yang dikenal memberikan citation metrix: (1) Web of Science, yang lebih selektif dari (2) Scopus, lebih selektif dari (3) Google Scholar. Contohnya saya sendiri, untuk data pada 31/01/2016: publication/citation/h-index: Google Scholar 65/973/14; Scopus 40/633/11; Web of Science 32/514/10. Link-4.

H-index saya diatas bisa mengecil lagi jika datanya disaring. Misalnya self-citation dihilangkan, atau papernya diseleksi hanya yang saya sebagai main author saja (1st author dan corresponding author), atau rentang waktu publikasinya dibatasi hanya untuk yang lima tahun terakhir saja.

Di jaman serba online sekarang ini, siapa pun bisa mengecek author dan publikasinya, misalnya melalui Scopus author look-up, Link-5, atau paling tidak melalui Google Scholar. Ini bisa membantu klarifikasi terhadap bias dari memandang kepakaran seseorang karena: kekerapan muncul di media massa, selebriti medsos, pengrajin blog, bogus di CV (self-proclaimed), hiperbola promosi dari universitas, “kata orang” dan “urban legend” lainnya.

F. Sekelumit tentang Impact Factor

Kembali ke IF, nilai ini merupakan rasio jumlah citation terhadap jumlah citeable paper yang dipublish sebuah jurnal untuk waktu tertentu, misalnya setiap periode dua tahun. Sekarang ini yang paling dipandang adalah IF yang dikeluarkan oleh JCR Web of Science.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun