Mohon tunggu...
S Aji
S Aji Mohon Tunggu... Freelancer - Nomad Digital

Ser Sensible es un poder no una delibidad!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Guru Kami Seorang Pemain Bola

29 November 2021   20:51 Diperbarui: 1 Desember 2021   14:00 979 24 11
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi pemain bola: envato elements

Ada banyak sosok datang dalam hidupmu yang singkat dan kebanyakan unfaedahnya ini sebagai guru. 

Di masa prasekolah, dalam sekolah, di luar sekolah, dalam hidup sehari-hari. Dalam lingkaran surut dan kacau. Dalam masa-masa di mana kamu sedang berusaha mencari-bentuk terbaik diri sendiri yang mungkin diwujudkan.

Karena itu, yang dimaknai sebagai guru semestinya melampaui pengertian yang formil-ASN sentris. Sebab itu juga, mereka yang berfungsi sebagai guru dalam hidupmu yang seolah-olah gak kemana-mana itu bisa saja mantanmu.

Jadi saya sekadar bernostalgia dengan seorang. Sosok bapak guru di dalam hingga di luar tembok dari sekolah. Tapi ada dua hal yang harus disampaikan sebagai konteksnya.

Pertama, ingatlah jika: Hampir bisa dipastikan kebanyakan bocah lelaki di Tanah Papua terjaga setiap hari dengan mimpi sebagai pemain sepak bola; sejenis cita-cita luhur. Dan di dalam kebanyakan mimpi sebagai pemain sepak bola itu, yang ingin menjadi kiper alias penjaga pintu terakhir adalah "minoritas yang gigih".

Saya termasuk yang menolak menjadi minoritas itu. Jadi tak usah heran jika kiper Persipura mesti dicari dari seberang pulau. 

Maka semenjak usia sekolah dasar, pikiran saya sudah hidup dengan sihir genius bernama Maradona. Saya bahkan melatih kaki kiri agar sehilai miliknya. Kemudian sangat mengidolakan trio Belanda di AC Milan: Basten, Gullit dan Riijkard. 

Sempat belajar-untuk-suka Liverpool di era John Barnes kemudian Robbie Fowler. Keduanya memiliki kaki kiri yang cakep. Namun cinta tertinggi saya berhenti di La Vecchia Signora. Meski sarat skandal, membosankan, konservatif dan medioker di daftar pemilik cincin juara Eropa, cinta adalah kemampuan menerima segala keburukan. 

Kedua, tak ada kewajiban kamu mengingatnya: Capaian tertinggi saya dalam masa-masa yang seringkali menjelang magrib pulang ke rumah dan disambut sabetan batang beluntas atau apa saja yang bisa dipukulkan ke betis saya adalah anggota tim PORSENI SD SE-KOTA SERUI. 

Tentu saja ini adalah peristiwa bersejarah yang tak pernah dicapai seorang pecinta timnas absurd seperti bapak Pebrianov. Termasuk komentator M. Kusnaeni atau bahkan Om Rayana Djakasuria yang berjasa mengabadikan sepak bola Serie A sekalipun. Kamu tentu tahu jawabnya kan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan