S Aji
S Aji Pelancong Sosial

Udik. Pinggiran. Kadang-kadang!

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Rahasia Manglehorn

14 September 2017   08:24 Diperbarui: 14 September 2017   08:57 559 12 8
Cerpen | Rahasia Manglehorn
Ilustrasi: malburian - DeviantArt

Manglehorn memiliki hidup dengan kota yang selalu sudi tersenyum padanya. Kota dengan orang-orang menunda hidupnya sendiri untuk berkata, "Selamat Pagi Manglehorn, kau terlihat tampan hari ini." Dan Manglehorn akan membalas, "Ketampananku belum kalah diringkus waktu."

Manglehorn memelihara ritus yang membuatnya mondar-mandir ke tempat yang sama. Pada menjelang akhir pekan, ia akan pergi ke sebuah bank. Mengambil donat, paling banyak dua gigit, membuat kopi dengan rasa pahit dan berdiri melihat lurus-lurus dari sebaris antrian yang sabar sembari berbicara dengan rambut memutih yang terus bekerja melipat pasang surut nasibnya. 

"Aku telah tua pula. Kota ini pun sama. Tidakkah kau turut merasa, kita tak pernah pergi kemana-mana?"

Rambutnya yang memutih berkibar-kibar sebentar. Seolah hendak mengatakan, "Demikian juga aku yang telah memutih tanpa pernah bisa memilih. Tidakkah kita lebih gigih dari bendera pusaka sebuah bangsa?"

Manglehorn akan pulang ke sudut dari mana ia pergi. Di sana, Fennie yang sering meminta dipeluk atau pergi bermalas-malasan di taman kota duduk menanti. Sudah tiga hari Fennie berjuang menyembunyikan murung dan melawan rasa sakitnya di balik meja cuci piring. Ia tak ingin Mangelhorn sendu. Ia ingin seperti rambut yang telah rata memutih itu, berusaha selalu terlihat gigih demi Mangelhorn. 

Tapi di hari ganjil ini, rasa sakit tak lagi mampu dibenamkannya. 

Ketika Manglehorn kembali, Fennie hanya bisa melambai-lambaikan ekor. "Hai Tampan, aku telah takluk sesudah dua hari berusaha sembunyi." Fennie ingin sekali mengatakan itu. Tapi tak tega menjumpai resah di mata Manglehorn. Serupa resah yang disembunyikan sebuah kamar dengan pintu terus tertutup sejak uban pertama mekar di kepala Manglehorn.

Fennie lalu berpura-pura tertidur di ranjang. Menyembunyikan rasa sakitnya kepada selimut. 

Manglehorn adalah lelaki dengan privasi yang rapi. Karena itu, Fenni tahu, ia hanya akan berkata, hari yang melelahkan, Cantik. Tidurlah, kita masih harus mengumpulkan sedikit senyuman untuk menghadapi esok pagi. Mangelhorn kemudian hilang di balik pintu kamar. Hilang di depan rahasia.

***

Kamar yang terletak di belakang rumah mungil ini hanya memiliki satu pintu tanpa daun jendela. Hanya kegelapan menemaninya selama Manglehorn belum kembali dari kota. Hanya Manglehorn!

Setiap keluar sesudah beberapa saat mendekam di dalamnya, Manglehorn terlihat kembali cerah. Ketampanan masa tuanya yang lelah seperti baru saja disiram petuah-petuah. Membuat Manglehorn selalu bisa menjawab, "Ketampananku belum kalah diringkus waktu," tanpa kehilangan senyuman. Seperti malakat penyabar ketika Mangelhorn hanya punya satu kesimpulan terhadap seluruh hidupnya.

Rahasia apa yang dipercayakan Manglehorn kepada kamar itu?

Fennie selalu cemburu sampai suatu hari, menemukan Mangelhorn dengan api menyala-nyala di sekujur matanya. Api membakar segala kegelapan kamar dalam sekejap. Selayaknya neraka terhadap sejarah dosa-dosa. Wajah lelah Manglehorn turut berubah abu. Rambutnya berubah keperakan, seperti mengatakan cukup kepada waktu.

"Aku telah membakar segalanya, Fennie. Berhentilah cemburu. Aku tak punya lagi cukup kesempatan untuk keluar dari hal-hal yang membuat hidupku terlalu sederhana."

"Apa yang telah kau bakar?"

"Aku telah membakar segala yang memaksa terikat pada kecemasan-kecemasan sendiri. Kecemasan yang lahir dari jawaban salah atau pertanyaan keliru tentang bagaimana memperlakukan kesalahan-kesalahan. Ada sekotak besar rasa bersalah di dalam kamar yang selalu meringkusku ke dalam ketakmampuan menemukan Manglehorn yang baru. Padahal setiap hari adalah pagi bagi kelahiran."

Selembar kertas selamat, terbang rendah lalu mendarat di ranjang. Sebaris kalimat bekas terbakar membacakan rahasia itu kepada Fennie. 

Kinasih, apa yang harus ditunggu dari kepergian dan tekad menebus kesalahan-kesalahan ketika penantian telah dekat dengan kematian? Rambutku telah tebal dengan putih, kota telah menjadi tanpa manusia dimana-mana, sedang kegelapan dengan arsip-arsipmu di dalamnya terus berkuasa!

Hari ini, aku membakar segalanya!

*** 

Flash fiction ini dipengaruhi kisah Manglehorn