Mohon tunggu...
Tri Budhi Sastrio
Tri Budhi Sastrio Mohon Tunggu... Scriptores ad Deum glorificamus

SENANTIASA CUMA-CUMA LAKSANA KARUNIA BAPA

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Essi Nomor 208: Perjalanan Kematian

28 April 2021   06:45 Diperbarui: 28 April 2021   06:48 77 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Essi Nomor 208: Perjalanan Kematian
https://mymodernmet.com/

Essi 208 -- Perjalanan Kematian
Tri Budhi Sastrio

Seorang teman dosen pengajar bahasa, sastra
     dan budaya Tunisia,
Mengingatkan saya pada tragedi yang sedang
     berkecamuk di sana.
Wanita Tunisia yang satu ini pernah berkata --
      agak sedikit retorika,
Tetapi saya menangkap ini wanita paruh baya,
     status sudah janda,
Karena memang sudan agak lama berpisah dengan
     suami tercinta
Yang berasal serta bermukim di negeri Jerman sana,
     tak bercanda
Ketika berkata dia tidak akan kembali ke Tunisia
     tanah kelahirannya.
Saya akan menetap di Poznan, Polandia, sampai
     akhir menutup mata,
Begitu kurang lebih kata-katanya sambil bercerita
     tentang kebunnya,
Yang memang dibeli supaya ada kesibukan
     menanam bunga-bunga.
Janda yang kembali nona ini mungkin ada benarnya,
     jika kabar duka
Yang terus saja menyebar dari negaranya memang
     begitulah adanya.
Menetap di negara yang walau pernah dua kali
     hilang dari peta dunia,
Tetapi tetap saja jauh ledih teratur, bebas dan ...
     tentu saja sejahtera
Dibandingkan negara asalnya yang bukan saja
     kurang hargai wanita,
Tetapi perilaku korup pejabatnya -- agak mirip ya
     dengan Indonesia --
Benar keterlaluan serta melampaui semua batas
     imajinasi manusia.

Salah urus dan korupsi berjamaah yang rajin
     dilakukan para penguasa
Perlahan tapi pasti akhirnya menjadi bendera
     petaka di angkasa Tunisia.
Orang miskin terus bertambah, pekerjaan pun
     menguap entah ke mana.
Puncak mala petaka akhirnya tersisa dan menjelma
     jadi dua pilihan saja.
Mati kelaparan di tanah tercinta, atau menyongsong
     harapan di Eropa,
Walau taruhannya ternyata juga dahsyat luar biasa,
     hilang ditelan naga,
Naga gelombang samudera raya sebelum sampai
     ke pulau Lampedosa,
Yang memang gerbang surga terdekat di lepas
     pantai negeri pemilik lira.
Atau yang selamat dari naga samudera, sudah
     menunggu serdadu Roma,
Yang kebuasannya mungkin tidak jauh berbeda
     dengan penyalib nabi Isa.
Singkat kata sebagian besar mereka -- kalau tidak
     boleh dikatakan semua,
Jangankan masuk ke sorga, sampai ke gerbangnya
     saja jelas tidak bisa.
Apakah memang seperti begini nasib dan takdir
     keluarga miskin di dunia?

Ferjani bin Halima dan istrinya menjadi contoh
     nyata bagaimana orang tua
Ternyata memang tidak bisa melakukan apa-apa ...
     makanan tidak ada,
Pekerjaan sudah lama sirna, tanah juga tidak punya,
     hanya anak tersisa,
Dan ketika anak ini juga tak ada kabar beritanya
     tatkala naga Lampedosa
Mungkin menelannya, hanya derai air mata serta
     sedikit harapan tersisa
Yang bisa ditunjukkan pada dunia ... memang
     pemerintah korup yang lama        
Telah tumbang seiring merebaknya percikan api
     demokrasi di mana-mana,
Tetapi pemerintah yang baru pun pada kenyataannya
     tidak bisa apa-apa.
Teriakan revolusi, perubahan dan reformasi
     memang lantang bergema,
Rakyat pun pernah dengan sukacita dan gegap
     gempita menyambutnya,
Tetapi ketika perut tidak kenyang dibuatnya,
     sementara peluru terus saja
Menyambar tak henti-hentinya di atas kepala,
     lalu harapan yang tersisa?
Bukankah tak seharusnya negara hanya beri dua
     pilihan pada pemudanya,
Jika tidak ingin kelaparan dan menderita, ya silahkan
     pergi ke Eropa sana?
Apalagi keduanya bukan pilihan pantas yang layak
     disediakan oleh negara.
Yang pertama ujungnya bencana dan kematian
     harkat dan martabat manusia,
Sedangkan yang kedua ya sama saja, naga Lampedosa
     dan serdadu Roma,
Pasti tidak akan segan-segan menghantar ini
     anak muda ke gerbang neraka.

Perjalanan maut berbalut kematian, jalannya mulus,
     lebar, dan selalu terbuka.
Lambaian tangannya yang menggoda terus saja
     mengajak anak-anak muda
Untuk masuk ke sana, merasakan nikmatnya
     marga penuh aroma mantra,
Tetapi ujungnya ternyata hanya fatamorgana
     ciptaan para pengelola negara
Yang terus sibuk memperkaya kocek dan
     brankasnya dengan uang negara,
Sehingga lupa betapa banyak anak manusia
     yang lugu polos tidak berdosa
Harus menghantar nyawa sia-sia dan bukannya
      membangun tanah airnya.
Indonesia memang belum sampai ke sana --
     dan tak ke sana semoga saja,
Tetapi jika perilaku dusta dan korup para politisi
     serta pejabat negaranya,
Terus dibiarkan seperti yang sedang asyik merajalela
     di ini negara tercinta,
Adalah sangat mungkin dan bisa saja tragedi
     di banyak negara di Afrika sana
Pantulan bayangannya menjadi realita nyata
     di negara yang kepala negaranya      
Pernah dijuluki dan diberi label 'sang pendusta'
     oleh para tokoh pemuka agama.

Sekarang telah tiba masanya, dan tentu saja
     belumlah sangat terlambat kiranya,
Jika nakhoda utama negara berani memberi
     perintah guna putar halauan bahtera.
Cikar kanan boleh diteriakkan oleh sang nahkoda
     karena karang di depan sana.
Bahtera ini banyak muatan berharganya jadi
     tak layak dikorbankan begitu saja,
Apalagi jika penyebabnya hanya seorang saja,
     nakoda yang tak tegas namanya.
Ayo cikar kanan saja, jangan hantam karang
     di depan sana, selamatkan bahtera.
Hapus korupsi, hentikan perompakan negara,
     layarkan semua warga ini negara
Ke pantai harapan yang aman sentosa makmur
     dan sejahtera seperti amanatnya
Dalam konstitusi negara ... yang menjadi salah satu
     pilar utama negara tercinta.
Yang bersama pilar-pilar lainnya - NKRI, Pancasila
     dan Bhinneka Tunggal Ika --
Pastilah mampu membawa ini bahtera negara
     ke pantai tujuannya yang mulia.

Perjalanan maut dan kematian memang terus
     bergelombang terjadi di Tunisia.
Pilu, sedih dan prihatin memenuhi sanubari
     yang sempat mendengar ceritanya,
Belum lagi kesedihan yang langsung diderita
     dan dirasa para bapa dan bunda,
Yang terpaksa merelakan anak-anaknya pergi
     menapak pilihan penuh petaka.
Kabar tak ada, berita entah ke mana, sementara
     negara berpeluk tangan saja.
Memang menjengkelkan ini semua, tetapi inilah
     faktanya dan itulah realitanya.
Lalu apa yang bisa dikerja kita karena ini negara
     memang ada nun jauh di sana,
Sementara di depan hidung dan mata, sejuta
     problema juga menari berdansa?
Memang tidak baniak kecuali terus berharap dan
     berdoa semoga yang di sana,
Terutama mereka yang sedang berkuasa dan
     cukup mempunyai daya dan dana,
Segera sadar bahwa tidak selayaknya jika negara
     hanya memberi pilihan petaka.

Essi nomor 208 -- POZ10102012 -- 087853451949

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x