Mohon tunggu...
Timotius Apriyanto
Timotius Apriyanto Mohon Tunggu... Konsultan - OPINI | ANALISA | Kebijakan Publik | Energi | Ekonomi | Politik | Filsafat | Climate Justice & DRR

Penulis adalah praktisi Pengurangan Risiko Bencana dan Pengamat Sosial

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Rahwana Vs Guru Oemar Bakri

11 November 2021   14:36 Diperbarui: 11 November 2021   15:00 126 3 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Source: geotimes.id

Masyarakat sangat mengenal dua tokoh imajiner "Oemar Bakri" dan "Rahwana", serta secara reflek langsung mengerti perihal kedua sosok tersebut. 

Pak Oemar Bakri kita kenal melalui lagu populer Iwan Fals sebagai guru bersahaja yang penuh pengabdian, dedikasi dan integritas. Figur Oemar Bakri yang empat puluh tahun mengabdi menjadi guru jujur berbakti, meski banyak ciptakan menteri, profesor, dokter, insinyur tapi gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri. Saat ini sangat langka sosok guru yang masih menggunakan sepeda kumbang ke sekolah seperti pak Oemar Bakri. 

Hal demikian memang nampaknya satu kebaikan adanya peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik. Kemajuan jaman sudah berpengaruh terhadap kesejahteraan guru sehingga banyak tenaga pendidik yang mampu membeli mobil baru. Hendaknya soal peningkatan kesejahteraan ini tetap tidak mengurangi hakekat nilai-nilai moral Guru Oemar Bakri diantaranya yaitu kesahajaan, dedikasi, loyalitas dan integritas.

Pada sisi lain Rahwana yang hadir dalam legenda Ramayana sebagai sosok raksasa yang dipenuhi watak serakah, penuh angkara murka, dan pemuja kekuasaan juga masih banyak kita temui di dunia pendidikan

Jagat pendidikan dalam potret kebaikan figur Oemar Bakri dan keburukan Rahwana ini patut menjadi refleksi pentingnya memilih dan membentuk karakter manusia mulia sebagai penggerak sistem pendidikan kita. Banyak Rahwana di dunia pendidikan yang mencibir pada ketulusan dan jiwa pengabdian Oemar Bakri.

Pendidikan semestinya menghasilkan manusia yang cerdas dan mulia, berkemampuan penalaran maju dengan moralitas terpuji penuh ketulusan. 

Namun ironis jika proses pendidikan yang semestinya penuh dengan ajaran moral dan nilai sosial yang luhur harus dicederai dengan sikap tidak terpuji oknum insan pendidikan dan pengajaran di sekolah sejak penerimaan peserta didik. Komersialisasi pendidikan sebagai bisnis yang menjanjikan, sering meninggalkan atau mengabaikan tanggung jawab dan nilai moral. 

Salah satunya adalah pemahaman yang keliru tentang kajian empiris bahwa kehebatan manusia melalui pendidikan disebabkan oleh karena kemampuan nalar otak saja. 

Hal tersebut sudah memasuki alam bawah sadar sebagian masyarakat kita, termasuk insan pendidikan yang bahkan enggan membedakan perihal pengajaran dan pendidikan. Keberhasilan pendidikan sering dinilai dari output kemampuan kerja otak yang diukur secara kuantitatif saja. 

Sementara itu, hal terkait dengan kualitas moral subyek didik dan para pendidik sering terabaikan. Prof. Gunawan Santosa (2020) menyatakan bahwa realitas kehebatan manusia di alam semesta ini bukan semata karena otaknya, tetapi karena hatinya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan