Mohon tunggu...
George
George Mohon Tunggu... Konsultan - https://omgege.com/

https://omgege.com/

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Pentingnya Mendorong Petani Jadi "Chain Partners"

30 Maret 2020   13:37 Diperbarui: 25 Juni 2020   21:28 387
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi pertanian (Dok. Humas Kementerian Pertanian RI) via Kompas.com

Tetapi sebelum masuk musim panen, para tengkulak keluar-masuk desa di Kabupaten TTU, menawarkan pembayaran mete Rp 6.000 - Rp 8.000 per kilogram.

Serupa pula dengan vanili di Alor. Pada bulan Januari 2018 pada pedagang sudah mulai keluar-masuk kampung menawarkan pembayaran vanili petani seharga Rp 300.000 per kg. Padahal harga vanili basah di musim panen (Maret-Mei) 2018 di Alor mencapai Rp 850.000 per kg.

Melihat sepintas kenyataan bahwa para pedagang lebih makmur dibandingkan petani, boleh jadi benar pandangan bahwa akar keberadaan tengkulak adalah rendahnya moral dalam berbisnis.

Tetapi marjin besar yang diambil para pedagang---terutama tengkulak---tidak selalu demi keuntungan. Sebagian dari marjin tersebut sebenarnya merupakan alokasi lindung nilai.

Sebagian alasan tengkulak membeli komoditas petani dengan sistem ijon adalah demi menjamin pasokan. Jika menunggu musim panen tiba, persaingan memperoleh komoditi di tingkat petani sudah panas. 

Ada kemungkinan para tengkulak tidak bisa mengumpulkan komoditas dalam jumlah yang cukup. Membeli di depan---sebelum panen tiba---adalah cara mereka untuk melindungi pasokan.

Persoalannya, ketika membeli di depan, mereka belum tahu berapa harga di tingkat pedagang besar pada musim panen nanti. Begitu pula pedagang besar---yang umumnya pedagang antarpulau---belum tahu berapa harga beli oleh pedagang besar di Surabaya, tempat umumnya komoditas dari NTT dijual.

Karena inilah para tengkulak menawar rendah harga di tingkat petani. Jika kelak harga dari pedagang antarpulau lebih rendah dari prediksi mereka, marjin yang tersedia cukup untuk mencegah kerugian.

Selain itu, marjin yang ditetapkan tengkulak mencakup pula biaya modal. Ketika membayar di depan, dan baru memperoleh hasil petani dan menjual kembali 2-3 bulan kemudian, pedagang harus turut menghitung biaya modal (bunga) untuk 2-3 bulan tersebut. 

Ini lazim dalam bisnis di alam kapitalisme, ketika modal berlaku pula sebagai komoditas yang didagangkan. Harga modal yang diperdagangkan adalah bunga.

Dengan memahami rasionalisasi tengkulak, jawaban bahwa kehadiran dan praktik bisnis mereka disebabkan oleh rendahnya moral bisnis boleh kita kesampingkan. Adalah lebih tepat menjawab tengkulak lahir dari kondisi inefisiensi rantai nilai--ini berlaku saat kita menilai sistem dari kacamata kapitalisme.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun