Mohon tunggu...
Tiara Ashila Syifanaya
Tiara Ashila Syifanaya Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa S1 Antropologi Universitas Airlangga (tiara.ashila.syifanaya-2021@fisip.unair.ac.id)

Memiliki minat terhadap budaya pop, termasuk film dan musik. Telah menjadi penikmat K-pop selama 11 tahun.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Peran Stasiun Televisi Mnet terhadap Popularitas Hiphop dalam Budaya Populer Korea Selatan

29 November 2022   11:47 Diperbarui: 29 November 2022   11:56 257
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Mnet baru saja merampungkan program kompetisi menarinya yang bertajuk Street Man Fighter pada November ini. Sebagai salah satu saluran televisi kabel yang populer, mereka selalu menghadirkan hal baru untuk diperkenalkan dalam blantika hiburan di Korea Selatan. Street Man Fighter melanjutkan popularitas program pendahulunya, yaitu Street Woman Fighter. Selain program seperti Street Woman Fighter dan Street Man Fighter, Mnet juga menayangkan program kompetisi rap berjudul Show Me The Money dan High School Rapper. Keempat program yang telah disebutkan mengangkat beberapa elemen dalam hiphop, seperti rap dan breakdance. Mnet yang menjadi saluran televisi populer, telah berhasil membuat hiphop digandrungi oleh para remaja, hingga elemen-elemen hiphop diadaptasi dalam budaya populer Korea Selatan.

Hiphop berawal dari sebuah pergerakan oleh orang Afro-Amerika di Amerika Serikat, tepatnya di wilayah Bronx, New York City. Pada tahun 1970-an, para remaja yang termarjinalkan akibat keadaan ekonomi, membuat suatu gerakan sebagai bentuk ekspresi diri. Para remaja ini didominasi oleh remaja Afro-Amerika, juga ada sebagian remaja Latin dan Karibia. Hiphop menggabungkan musik, tarian, seni grafis, orasi, dan gaya berpakaian sebagai kritik sosial dan perlawanan terhadap diskriminasi ras yang mereka alami (Price III, 2006).

Dewasa ini, hiphop telah menyebar ke berbagai negara, salah satunya adalah Korea Selatan. Hiphop masuk ke Korea Selatan sekitar tahun 1990-an melalui penyebaran kaset pita dan cakram padat (CD), migrasi dari Amerika Serikat ke Korea Selatan dan sebaliknya, serta komunitas pendengar musik hiphop. Saat banyak orang yang migrasi dari Amerika Serikat ke Korea Selatan, terjadilah proses difusi antara kebudayaan Korea Selatan dengan hiphop dibawa dari Amerika Serikat. Pada krisis moneter tahun 1997, banyak pelajar asal Korea Selatan di Amerika Serikat yang terpaksa pulang ke negara asal karena keluarga yang sudah tidak mampu membiayai pendidikan di luar negeri. Pelajar-pelajar ini lah yang terpapar hiphop selama mereka menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Para pelajar yang telah terpapar hiphop dari Amerika Serikat, membawa budaya tersebut kembali ke negara asalnya. Orang-orang yang terpapar musik hiphop mendapat inspirasi dan mencoba untuk menirunya. Kemudian, elemen hiphop yang dibawa akan beradaptasi terhadap bahasa dan konteks kebudayaan Korea (Song, 2019b).

Pengaruh hiphop dalam budaya populer Korea Selatan mulai terlihat sejak tahun 1990-an. Hal ini ditandai dengan munculnya sebuah trio musik bernama Seo Taiji and Boys pada tahun 1992. Seo Taiji and Boys bukan musisi pertama yang menggunakan elemen hiphop dalam karya mereka, namun Seo Taiji and Boys adalah musisi yang berhasil meletakkan nama hiphop dalam industri hiburan Korea Selatan (Song, 2019a; Kim dan Saeji, 2020). Seo Taiji and Boys berhasil menarik perhatian publik dengan penampilan musik sekaligus tarian breakdance. Penampilan mereka mampu mewakili kegelisahan dan gejolak remaja masa itu, sekaligus dipertunjukkan dengan riasan wajah, gaya berpakaian, dan lirik lagu tentang cinta, berbeda dengan apa yang ada pada hiphop asli Afro-Amerika (Jung, 2006; dalam Song, 2019b).

Seo Taiji and Boys berhasil memperkenalkan hiphop pada arus utama (mainstream). Sementara itu, pada tahun 2000-an, musik hiphop bawah tanah (underground) berkembang ditandai dengan pendirian Soul Company oleh The Quiett, Kebee, Fana, dan Jerry.k, yang kemudian menjadi label rekaman independen pertama yang berhasil mendapat kesuksesan. Satu dekade setelahnya, hiphop menjadi aliran musik yang bertahan dalam panggung musik independen dan sering muncul dalam budaya populer lewat televisi (Song, 2019b). Stasiun televisi kabel Mnet menjadi pionir dalam memajukan ekosistem hiphop di Korea Selatan lewat program kompetisi rap mereka yang sudah dibuat sejak tahun 2012, yakni Show Me the Money. Setelah kesuksesan Show Me the Money, Mnet lanjut membuat program kompetisi rap dengan konsep serupa, yaitu Unpretty Rapstar khusus wanita dan High School Rapper untuk remaja SMA. Mnet menempatkan hiphop yang berawal dari pergerakan masyarakat marjinal, ke muka publik.

Sejak pertama kali tayang pada tahun 2012, Show Me the Money telah menjadi proyek tahunan Mnet. Tahun ini, Show Me the Money melangsungkan program ini untuk yang kesebelas kali. Selama sebelas tahun menampilkan kompetisi rap, telah muncul banyak perkembangan dan seniman-seniman baru dalam panggung hiphop di Korea Selatan. Show Me the Money mencapai puncaknya pada musim keempat dengan perolehan rating tertinggi sebesar 3,5%. Lagu-lagu yang dirilis dari program Show Me the Money sering mendapat predikat Perfect All-Kill (PAK)[1].

Pada tahun 2021, Mnet membuat program kompetisi tari jalanan khusus para penari wanita secara berkelompok. Program ini diberi judul Street Woman Fighter. Street Woman Fighter meraih kepopuleran yang tinggi secara nasional dengan perolehan rating 2,9%. Program ini membawa tren "Hey Mama" yang diciptakan dari seorang koreografer bernama Noze hingga menjadi tren yang ditirukan oleh banyak kalangan, mulai dari para selebritas hingga remaja. Street Woman Fighter juga memperkenalkan aliran-aliran tari jalanan seperti waacking, krumping, dan locking yang berasal dari komunitas kulit hitam di Amerika Serikat.

Hiphop menyebar dari Amerika Serikat yang dibawa oleh para pelajar asal Korea Selatan yang kembali ke negaranya. Mereka turut membawa musik hiphop dari Amerika Serikat saat mereka kembali. Proses difusi kebudayaan terjadi dalam fase ini. Dari situlah, semakin banyak orang Korea Selatan yang tertarik dengan hiphop, lalu mengadaptasi tarian jalanan (street dance) dan musik rap. Komunitas penggemar musik rap dan tari jalanan terkonsentrasi di panggung bawah tanah (underground) sampai stasiun televisi kabel, Mnet, membuat program kompetisi mengenai hal tersebut. Mnet membuat program kompetisi rap tahunan berjudul Show Me the Money mulai tahun 2012 dan masih berlanjut hingga tahun ini. Mnet juga membuat program kompetisi tarian jalanan khusus penari wanita dengan judul Street Woman Fighter yang berhasil meraih kesuksesan. Mnet telah berperan besar dalam mempopulerkan hiphop pada publik, khususnya pada para remaja di Korea Selatan.

Referensi

Jung, E. (2006) "Articulating Korean youth culture through global popular music styles: Seo Taiji's use of rap and metal," in K. Howard (ed.) Korean pop music: Riding the wave. Folkestone, Kent: Global Oriental.

Kim, K.H. dan Saeji, C.B.T. (2020) "Introduction: A Short History of Afro-Korean Music and Identity," Journal of World Popular Music, 7(2), hal. 115--124. Tersedia pada: https://doi.org/10.1558/jwpm.42669.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun