Mohon tunggu...
Theodorus BM
Theodorus BM Mohon Tunggu... Thinker

Seorang pemuda yang senang menyusun cerita dan sejarah IG: @theobenhard email: theo_marbun@yahoo.com wattpad: @theobenhard

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Pramodawardhani 3 [Novel Nusa Antara]

10 Januari 2019   13:30 Diperbarui: 10 Januari 2019   13:50 0 1 0 Mohon Tunggu...

Untuk semua kebaikan. Aku bersyukur.

Semboyan baru yang diusulkan oleh Rakai Pikatan langsung disetujui oleh raja. Pramodawardhani mengetahui bahwa Medang mulai memiliki semboyan ketika ia memasuki halaman istana sekembalinya dari perjalanan menuju candi-belum-bernama dan Kabupaten Mataram. Sungguh mengherankan, karena pada saat itu Kerajaan Medang tengah berada pada situasi khusus yaitu menjemput adik raja. Pramodawardhani diceritakan bahwa raja hanya butuh waktu yang sebentar dan persetujuan dari para pejabat kerajaan untuk segera menentukan semboyan tersebut.

Bukan semboyan yang buruk. Pramodawardhani bahkan yakin bahwa nirwana sudah menakdirkan kata -- kata itu bagi Kerajaan Medang. Kembalinya seluruh pasukan tanpa ada satupun yang terluka adalah bukti yang kuat. Hanya saja pasukan itu bertambah dua orang: Balaputradewa dan Udayaditya.

Pramoda memerhatikan dengan seksama tingkah laku kedua orang ini. Balaputradewa, pamannya, adalah orang dengan mata yang menyejukkan. Keramahan dan kesopanan yang ia tampilkan, meyakinkan setiap orang di Kerajaan Medang bahwa tidak ada sesuatu yang buruk berasal dari pulau seberang. Pramoda percaya dengan ucapan ini: tingkah laku seseorang mencerminkan hatinya. Dari semua orang yang ia temui seumur hidupnya prinsip ini terbukti benar.

Sedangkan keponakannya memiliki sifat yang hampir sama. Atau itulah yang kuperhatikan dari jauh. Pramoda belum memiliki kesempatan berbincang dengan Udayaditya.

Pagi hari itu Pramodawardhani bermaksud untuk mengunjungi Taman Anyelir untuk melihat apakah bunga mawar putih sudah mekar atau belum. Ia memang merencakan untuk menyertakan bunga tersebut ke dalam rancangan bunga yang sudah ia coba kerjakan selama sebulan. Teman -- temannya merangkai bunga pasti sudah menunggu di dalam Taman Anyelir. Setidaknya ia menebak Windadharma dan Puriningsih sudah berada di sana. Keluar dari kamar istana Pramoda menjumpai Ayu, pelayan kamar. Setelah memberi salam, ia melanjutkan langkah dan di halaman istana ia bertemu dengan Joko Wangkir. Percakapan yang dilakukan oleh orang ini menahan langkah Pramoda dalam waktu yang tidak sebentar.

Joko Wangkir langsung bertanya menuju masalah inti, "Ayahmu menceritakan sesuatu bersangkutan dengan kedatangan adiknya?"

"Tidak, paman. Ayahku tutup mulut dengan rapat. Kau sendiri ikut dalam perjamuan besar di hari pertama ketika Balaputradewa ikut menyantap hidangan bersama keponakannya. Itulah semua yang kutahu darinya."

"Ketika perjamuan makan malam, tentu pamanmu itu ada di sana. Apa saja yang dibicarakan?"

"Pamanku tidak pernah ikut dalam perjamuan makan malam keluarga. Ayahku menjelaskan bahwa ia memang tidak pernah menyantap makan malam karena ia sedang dalam kondisi puasa yang ia tetapkan sendiri."

Puasa apa yang ditetapkan oleh Balaputradewa? Apa yang ia sedang minta kepada sang Buddha? Pramoda sendiri bertanya -- tanya mengenai peraturan yang ditetapkan oleh pamannya itu.

"Lalu bagaimana dengan ayahmu?"

"Ya, ayahku sedikit berubah akhir -- akhir ini. Kau sendiri mengetahui bahwa ia berduaan saja dengan Balaputradewa di ruang pertemuan. Dari pagi hingga matahari terbenam. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku hanya bertemu dengannya ketika santap malam. Bahkan pagi ketika ayam baru berkokok ia sudah menghilang entah kemana. Dugaanku ia sudah berada di ruang pertemuan bersama paman Balaputradewa."

Pramoda balik bertanya, "Tidakkah engkau mengetahui, atau ayahku menceritakan kepada petinggi lainnya, apa yang sebenarnya terjadi?"

Joko Wangkir menatap Pramoda lekat -- leka dan menggeleng, kemudian melangkah meninggalkan Pramoda. Sang putri kerajaan dengan sedikit kecewa kembali melangkah menuju Taman Anyelir. Tidak boleh, Pramoda, jangan biarkan hal -- hal seperti ini menghancurkan semangatmu. Dan sesuai dengan tebakannya beberapa saat lalu, Windadharma dan Puriningsih sudah menunggunya di depan pintu masuk Taman Anyelir. Melihat teman -- temannya suasana hati Pramoda kembali menghangat.

"Selamat pagi, Tuan Putri, dharma Sang Buddha besertamu." Windadharma memberi salam terlebih dahulu. Ia kemudian membungkuk hingga ke tanah.

Pramoda menyatukan kedua tangannya dan mengangguk. Setelah itu ketiganya tertawa lepas.

Pramoda menjawab Windadharma, "Seandainya semua temanku menyapa seperti itu, aku harap aku hidup di sebuah kerangkeng besi, tidak pernah keluar sampai mati."

Memasuki Taman Anyelir, ia melangkah perlahan -- lahan untuk menikmati kesejukan taman ini. Taman Anyelir memang menawarkan pesona tersendiri kepada para pengunjungnya, walaupun itu adalah sang putri yang dapat mengunjungi taman itu setiap saat. Bunga -- bunga sedang sibuk -- sibuknya bermekaran, mengingat bulan itu puncak dari musim hujan dan curah sinar matahari sedang baik -- baiknya. Tidak dapat dikesampingkan adalah aliran air dari kaki Gunung Slamet yang mengalir lembut menuju kolam taman, suara air bertemu menambah suasana keindahan taman. Matanya segera tertuju pada padang bunga untuk mencari mawar putih.

"Nampaknya mawar putih belum mekar, Pramoda," ujar Windadharma.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4