Mohon tunggu...
Teopilus Tarigan
Teopilus Tarigan Mohon Tunggu... ASN - Pegawai Negeri Sipil

Pro Deo et Patria

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Empat Pelajaran dari Kisah Penebang Pohon Cemara Angin

18 November 2021   12:01 Diperbarui: 18 November 2021   13:33 675
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Petugas penebang pohon (Dok. Pribadi)

Hakekat orang yang hidup adalah bekerja. Selain untuk mendapatkan imbalan guna mencukupi kebutuhan, bekerja juga untuk aktualisasi diri, bahkan sebagai ibadah.

Namun, kenyataannya kita masih sering menjumpai orang yang mengeluhkan pekerjaan sebagai beban bahkan hukuman. Atau bisa juga kita sendiri yang pernah atau sedang mengalaminya.

Tanpa maksud untuk membandingkan pekerjaan satu dan yang lain sebagai pekerjaan besar atau kecil, pekerjaan mulia atau rendah, kita perlu belajar dari orang yang mengerjakan pekerjaan di luar bidang pekerjaan kita. Dari sana kita mungkin bisa lebih mengenal diri kita, mensyukuri kehidupan dan pekerjaan yang sedang kita geluti.

Pada dasarnya semua pekerjaan memiliki nilai dan patut disyukuri. Keahlian dalam pekerjaan, dalam tampilannya yang paling sederhana sekalipun, tidak mengurangi nilainya di antara pekerjaan lain yang bisa saja dipandang lebih mulia.

dokpri
dokpri

Lihat saja petugas penebang pohon yang berani memanjat dahan-dahan pohon cemara angin yang sudah lapuk itu hingga ketinggian belasan bahkan puluhan meter. Belum tentu seorang guru besar yang sangat pandai dan bijaksana mampu melakukannya bukan?

Sebuah kelebihan yang kita miliki mungkin dibutuhkan untuk hal lain, dan bisa saja kelebihan yang dimiliki orang lain adalah satu-satunya yang kita butuhkan pada suatu waktu. Tidak semua orang mampu menjadi penebang pohon yang pemberani.

2. Terkadang kita harus tebang pilih, menyisihkan sesuatu demi sesuatu lain yang lebih penting sesuai waktunya

Ada banyak alasan manusia menebang pohon. Salah satunya dan yang sering kali tidak terkendali adalah motif ekonomi. Manusia menebang pohon secara membabi buta demi mendapatkan keuntungan ekonomi tinggi, tanpa memikirkan kerusakan lingkungan yang diakibatkannya.

Selain itu bisa saja karena alasan pemeliharaan dan keselamatan seperti penebangan pohon cemara angin yang lapuk ini. Pohon cemara angin yang masih tumbuh baik tentu saja tidak ikut ditebang, karena berfungsi merindangkan suasana dan menjadi pelindung karena ia juga bermanfaat memecah angin.

Dari sanalah dikenal istilah sistem tebang pilih (high grading) atau penebangan selektif. Menebang pohon yang memiliki nilai jual tinggi, meninggalkan yang bernilai jual rendah, menebang pohon yang sudah tua, meninggalkan yang muda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun