Mohon tunggu...
Teopilus Tarigan
Teopilus Tarigan Mohon Tunggu... Pegawai Negeri Sipil

Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, memelihara hati dan pikiranku... Blog Pribadi: https://surantateo.wixsite.com/terraincognita

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"Don't Judge a Book by It's Cover," Belajar Tata Tertib dari Gadis Tangsi

28 Juni 2019   10:02 Diperbarui: 28 Juni 2019   18:01 0 1 0 Mohon Tunggu...
"Don't Judge a Book by It's Cover," Belajar Tata Tertib dari Gadis Tangsi
dokpri

Kalau pada masa abad pencerahan atau Aufklarung pada abad ke-18 di Eropa, dimana Friederich Hegel lahir dan dibesarkan, ia menjelaskan secara terperinci tentang proses logika dinamis yang diakibatkan oleh ketegangan dialektis dari dua konsep. 

Atau Niels Bohr yang lahir dan besar sesudah Hegel, yang menjelaskan ketegangan dialektis dalam penerapan ilmu fisika terkait konsep mekanika kuantum, ia menjelaskan tentang ketegangan dialektis yang melahirkan tindakan spontan yang mendorong terjadinya perubahan mendadak. 

Maka, jauh sesudah mereka berdua, dalam novel Gadis Tangsi yang berlatar kehidupan keluarga marsose rendahan di garnisun Tangsi Lorong Belawan-Medan pada masa kolonialisme, Teyi si Gadis Tangsi yang urakan memberikan gambaran bahwa hubungan interaktif yang dialektis dari dua kelas masyarakat yang berbeda ternyata bisa jauh dari ketegangan, bahkan mampu mendefinisikan ulang arti kebahagiaan bagi si mapan.

Sekali jadi dikisahkan, adalah Teyi, seorang gadis remaja yang baru akil balig, anak dari seorang sersan kepala marsose (unit pasukan kepolisian pada masa penjajahan Belanda). Sehari-harinya Teyi menjajakan goreng pisang dari blok ke blok tangsi. 

Teyi terdorong untuk menyeberang pagar pembatas bilik asrama prajurit rendahan dengan perumahan atau loji perwira. Salah satu loji perwira itu ditempati oleh Kapten Sarjubehi, lulusan sekolah perwira di Cimahi yang beristrikan seorang Gusti Bendoro, bernama Raden Ayu Kus Parasi atau Puteri Parasi, keturunan ningrat Keraton Surakarta.

Dalam sebuah kesempatan menyusup ke loji perwira itu, Teyi berjumpa dengan nenek Jidan, sang pengasuh gusti ayu. Dalam perjumpaan itu, nenek Jidan yang sebelumnya kaget setengah mati bertemu Teyi yang urakan, tapi kemudian menjadi senang bukan kepalang. 

Nenek Jidan bahkan berkata pada Teyi bahwa ia bisa datang kapan saja ke rumah itu. Hal ini dikarenakan nenek Jidan yang merasa sangat terbantu, karena bisa menitip belanjaan sayuran segar dan bumbu dapur kepada Teyi setiap ia datang.

Hal itu juga membuat Teyi menjadi sering punya kesempatan berkunjung ke rumah Kapten Sarjubehi, karena sering dititipi belanjaan. Pernah ia hendak dikasih upah hasil mengantarkan titipan belanjaan. Namun, Teyi menolak pemberian si nenek, karena mengingat pesan si mboknya yang mengajarkan bahwa rezeki nomplok datangnya tidak terus menerus. "Rezeki itu harus diburu, bekerja dengan memeras tenaga dan pikiran," begitu pesan si mboknya. "Memeras tenaga saja ya orang bodoh, berpikir saja ya pemalas, penggantang asap. Jadi harus bekerja dan berpikir," demikian kata si mbok.

Namun demikian, Teyi yang sehari-hari tinggal di bilik asrama prajurit yang sempit, yang ditempati bersama seluruh anggota keluarganya, sangat menikmati kunjungan- kunjungannya ke rumah loji perwira Jawa yang terang bersih bersinar dengan perabotan ala keraton itu. 

Pada suatu hari, saat gusti ayu, istri sang Kapten yang dengan keramahtamahannya meladeni keingintahuan Teyi tentang adat istiadat tanah leluhur dan tata tertib kehidupan di Keraton, karena lelahnya berjualan goreng pisang hingga mengantuk tak ketulungan, akhirnya tertidur di permadani alas duduk sang putri.

Kejadian itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah terjadi di keraton hadiningrat. Melihatnya tergolek, putri Parasi merasa geli, dan membayangkan betapa bahagianya anak itu. Sang putri meniatkan akan mengajari anak itu dengan berbagai cerita, ketimbang menegurnya sehubungan dengan tata tertib dan tata krama kehidupan keraton.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x