Parenting Artikel Utama

Speeltuin, Arena Bermain Anak di Amsterdam

16 Mei 2018   15:00 Diperbarui: 19 Mei 2018   01:32 2263 1 1
Speeltuin, Arena Bermain Anak di Amsterdam
Taman bermain tampak dari tempat tinggal, dokpri.

Mempunyai anak dan membesarkannya di negeri Belanda mempunyai tantangan yang berbeda dengan di Indonesia. Seingat saya yang lahir dan besar di Indonesia tepatnya di komplek perumahan di Bandung, saya banyak menghabiskan waktu bermain di sekitaran rumah.

Jalanan komplek adalah merupakan arena bermain, entah itu bersepeda, main bola dan main layangan (kalau yang ini areal permainan ditambah di atas genteng rumah).

Pada tahun 80-an masih sangat aman dan nyaman, karena kendaraan bermotor tidaklah semasif saat ini. Lalu yang lebih menguntungkan hidup di Indonesia, sepanjang tahun dapat dengan mudah untuk selalu bermain di luar rumah, entah itu mau musim hujan atau kering tidak masalah bagi anak-anak.

Di Belanda mayoritas penghuni banyak menghabiskan waktu di dalam rumah (kalau tidak sedang bekerja di luar tentunya), apalagi jika memasuki musim gugur dan dilanjutkan musim dingin, ribet kalau harus sering keluar rumah. 

Terus ketika waktunya memungkinkan untuk aktif keluar rumah, waktu memasuki musim semi dan panas, kesempatan ini harus digunakan semaksimal dan kreatif mungkin.

Bak pasir di De Waag, dokpri
Bak pasir di De Waag, dokpri
Setiap anak di bawah lima tahun tentu harus selalu didampingi ketika beraktivitas keluar rumah. Adapun alternatif yang praktis dan mudah untuk menemani anak beraktivitas secara reguler diantaranya adalah: taman bermain, peternakan, taman kota, museum, perpustakaan dst. Satu persatu tentang ini akan saya tulis, ya tentu tentang pengalaman saya pribadi yang tinggal di pusat kota Amsterdam.

Speeltuin (Taman Bermain)

Di setiap kawasan tempat tinggal sangat mudah ditemui taman bermain, taruhlah sekitaran radius 500 meter pasti dapat ditemui taman bermain, entah itu hanya secuil arena tempat bermain. 

Lalu biasanya diantara taman bermain itu terdapat tempat bermain yang lumayan besar, inilah yang akan saya fokus tuliskan. Kebetulan tepat di belakang tempat tinggal kami terdapat taman bermain besar yang bernama Speeltuin De Waag.

Papan peraturan di speeltuin De Waag, dokpri.
Papan peraturan di speeltuin De Waag, dokpri.
Fasilitas yang dimiliki Speeltuin De Waag diantaranya: gedung, lapangan futsal dan standart perlengkapan taman bermain seperti ayunan, perosotan, panjatan, bak pasir dll. Oh ya, untuk semua alat permainan, akan selalu dicek secara berkala untuk kelayakannya supaya aman untuk dimainkan dan gunakan.

Mengapa taman bermain besar memiliki gedung, biasanya buat menyimpan stok mainan seperti sepeda (beserta variannya), perlengkapan bermain anak, terdapat toilet, mungkin dapur, ruang bersama dst. 

Gedung juga dapat digunakan untuk keperluan warga dewasa untuk perkumpulan, yah kalau di Indonesia semacam balai RK. Karena mempunyai gedung, acara di dalam bisa menonton bersama, memasak untuk anak, juga kreativitas bersama.

Speeltuin besar memiliki organisasi yang di kelola mandiri oleh warga sekitar. Dana operasionalnya bisa didapat dari sumbangan warga sekitar, pengguna ataupun bisa mendapatkan semacam hibah dari yayasan dan juga bantuan pemerintah.

Keramaian di speeltuin sebenarnya tergantung cuaca, kalau hari cerah dan normal-normal saja, pagi hari biasanya sudah diramaikan anak sekolah dasar yang datang sebagai bagian pelajaran sekolah (buiten speelen - bermain di luar). Lalu keramaian dilanjutkan selepas pulang sekolah, yaitu pada pukul 3 sore sampai waktunya makan malam.

Sebenarnya selain untuk anak, speeltuin juga tempat untuk berkumpul orang dewasa (pastinya yang punya anak, sekalian mengasuh). Taman bermain besar juga menjadi pusat berkumpul untuk acara tahunan seperti: Sint maarten (semacam Halloween), Sinterklaas (bukan Santa Claus), Pasen atau Paskah dll.

Arena bermain di speeltuin, dokpri.
Arena bermain di speeltuin, dokpri.
Okei, bagi saya dimanapun berada masa anak-anak adalah masa yang indah, bagaimanapun itu cara untuk meluangkannya karena di setiap tempat dan budaya pasti berbeda-beda cara untuk beradaptasinya, terima kasih.