Gayahidup

Cara Menulis Kreatif dengan Ditemani Kayu Putih Aroma

13 Januari 2018   20:39 Diperbarui: 13 Januari 2018   20:41 707 0 0

Menulis bukan suatu hal mudah yang dapat dikuasai oleh semua orang yang ada di muka bumi. Terkadang sebagian orang beranggapan bahwa menulis merupakan hal yang membosankan, sebab dari menulis tidak ada benefit langsung yang diperoleh malah meninggalkan lelah, bosan, dan lain sebagainya. 

Namun jangan salah, di balik asumsi negatif tentang menulis sesungguhnya terpendam banyak sekali hal-hal positif yang dapat diperoleh dari aktivitas bernama menulis. Salah satu sastrawan kondang Indonesia yang bernama Pramoedya Ananta Toer pernah berkata bahwa, "orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah." 

Sekilas kita bisa mengetahui betapa besarnya kesadaran sosok Prameodya tentang makna terdalam dari menulis. Penulis besar sekelas Pramoedya saja berkata seperti itu apalah arti bagi kita orang-orang yang membuang waktu dan tenaga hanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan malah mendatangkan mudarat.

Iya memang, menjadi seorang penulis bukan semudah membalikkan telapak tangan, akan tetapi patut kita sadari bahwa dari menulislah kita bisa menyalurkan kreativitas, ide, pemikiran, asumsi, opini, dan fakta dengan meraciknya manjadi sebuah mahakarya indah. 

"If you wait for inspiration to write you're not a writer, you're a waiter," sepintas kutipan dari Dan Poynter tersebut sudah dapat menggambarkan bahwa memang menulis adalah sebuah keberanian. 

Keberanian di sini menuntut kita untuk jangan menjadi seorang penunggu ulung melainkan menjadi seorang yang selalu menyempatkan diri untuk berburu dalam menemukan inspirasi demi menciptakan sebuah mahakarya.  

Ingatlah tidak ada orang yang dapat menceritakan ceritamu dan takada pula orang yang bisa menulis ceritamu, maka dari itu tulis ceritamu sendiri dalam lembar-lembar berkas karyamu.

'Saya akan menjadi seorang penulis.' Wah, itu merupakan suatu kalimat yang terkadang memang sangat menakutkan bagi sebagian orang karena tidak semua orang dapat membuat komitmen dalam hidupnya, bahkan dalam membuat komitmen butuh tekad yang bulat untuk mempertahankan komitmen tersebut. 

Orang yang bertekad ingin menjadi penulis tidak bisa hanya disalurkan melalui kata-kata, tetapi hal tersebut mesti direalisasikan dalam kata-kata yang tertancap dalam sebuah karangan. Jelas dalam membuat sebuah karangan dibutuhkan satu pengorbanan yang biasanya sangat sulit untuk dikorbankan yakni waktu. Tidak mudah bagi seseorang untuk meluangkan sedikit waktunya hanya untuk menulis bahkan sangat sulit bagi seseorang untuk mulai mengubah satu kebiasaan meskipun dia tahu bahwa hal tersebut buruk.

Contoh kecilnya saja seperti makan mi instan, sebagian besar manusia sadar bahwa mi instan mengandung zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan tubuh. Namun apa daya, semua hal tersebut dipatahkan oleh sebuah alasan, "ya udah sih cuma sekali seminggu." Iya benar, hanya sekali seminggu, tapi ingatlah hiduplah adalah pilihan. 

Kitalah yang menentukan pilihan tersebut. Sekecil apa pun bahan kimia masuk ke tubuh manusia pasti akan ada dampaknya, apalagi dengan alasan hanya sekali seminggu. 

Wow, sangat taklogis rasanya jika kita memiliki pengetahuan bahwa suatu kebiasaan memiliki dampak yang mampumerusak, namun semua itu terbantah oleh sebuah alasan kecil nan mematikan untuk memuaskan nafsu belaka. 

Mari kita coba menghitung, andaikan saja kita makan mi instan dengan berat bersih sekitar 68 gram perbungkusnya minimal empat kali dalam sebulan maka dalam setahun kita telah mengkonsumsi sekitar 3,264 gram atau sekitar 3 kg mi instan dengan balutan bahan kimia. Fantastik, sebuah angka yang cukup mengagetkan. 

Ada banyak bahan kimia yang telah kita konsmsi selama setahun dan bersabarlah untuk merasakan dampaknya. Semua pilihan ada di tangan kita.  Begitu pula dengan menulis, semua ada di tangan kita dan bergantung pada pilhan kita. Terserah kita ingin memilih dikenang melalui karya-karya yang tercipta selama hidup atau mati sia-sia dan dilupakan sejarah. Sekali lagi, life is choice.

'Baiklah, saya bulat untuk terus menjadi penulis.' Jika itu memang pilihan kita maka semua tantangan akan menunggu dan menanti kehadiran kita kemudian. Ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada puncak gunung yang dapat didaki tanpa sebuah hambatan dan rintangan selama mendaki. 

Begitu juga dengan menulis, takmungkin rasanya jika semua berjalan dengan adem ayem tanpa hambatan, rintangan, dan tantangan yang siap menghadang di depan jalan. 

Namun, sebesar apa pun badai yang menghadang tentu ada sebuah harapan untuk melihat sepucuk keindahan dari puncak. Oleh karena itu, mulailah menulis dan tuangkan segala pengetahuan yang ada karena sesungguhnya ilmu bagaikan air dalam sebuah tempayan, maka menulis adalah sebuah tutupnya untuk menghindarkan air dari segala pencemaran.

Jangan banyak mengeluh karena menulis itu bebas tanpa harus terikat dengan segala ikatan. Meskipun takjarang dan kerap kali kita menemukan kegagalan dan kesulitan yang senantiasa berusaha menjatuhkan tekad yang tertancap di dada. 

Tapi ingatlah, bahwa seorang pembicara yang besar itu datang dari pembicara yang awalnya buruk. Maka dari itu, tancapkan lebih dalam tekad tersebut agar akarnya dapat menahan setelah angin yang menerpa pohonnya.

Patut ditegaskan bahwa menulis merupakan sebuah proses panjang yang harus dihadapi oleh setiap insan yang ingin menjadi penulis yang handal. Banyak proses yang harus dijalani oleh seseorang untuk menjadi penulis sejati. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2