Mohon tunggu...
Taufan Satyadharma
Taufan Satyadharma Mohon Tunggu... Akuntan - Pencari makna

ABNORMAL | gelandangan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Menyelaraskan Percepatan Sinau Bareng: Padhangmbulan (Ta'dib - Pemberadaban Kehidupan)

22 September 2021   16:01 Diperbarui: 22 September 2021   17:16 165
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Streaming - Sinau Bareng Padhangmbulan/dokpri

Berapa banyak kucuran ilmu yang masih didapatkan dalam era pandemi? Dengan metode daring, kebijaksanaan menggunakan majunya teknologi memiliki banyak manfaat untuk mempermudah kita dalam mengakses sumber ilmu, salah satunya yang diadakan oleh Padhangmbulan, sinau bareng yang semalam diadakan di Menturo, Jombang.

Pertama-tama, apresiasi dan rasa terima kasih tak lupa disampaikan kepada redaksi caknun.com, khususnya pada kesempatan kali ini kepada tim teknis penyiaran Padhangmbulan. Berkat jasanya, kita semua mampu mengikuti proses sinau bareng, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dengan berbagai keadaan yang serba terbatas, kita mampu melipat jarak sekaligus waktu untuk dapat merasakan sedikit nuansa sinau bareng.

Sebagai salah satu penikmat online, tentu dibutuhkan adaptasi untuk menyelaraskan irama sinau bareng. Setidaknya, pandemi sudah memberi waktu 2 tahun lebih yang seharusnya sangat cukup untuk belajar menyelaraskan keadaan. Kita bukan anak kecil yang hanya bisa mengeluh dan merengek akan rindu yang tertahan akan suasana sinau bareng. Hingga tak sadar kehilangan ghirrah sinau bareng, lantas kebiasaan untuk mencari ilmu semakin luntur.

Kalau tidak waspada, tentu hal ini akan berakibat cukup riskan terhadap diri sendiri. Kebersamaan yang biasanya menjadi hal yang utama, lambat laun terkikis selama jaga jarak menjadi jargon. Kalau sudah mendapati sikap kewaspadaan, jarak bisa melatih kedewasaan dalam mencinta. Akan tetapi jika lengah, jangan kaget bila tercipta situasi yang berpotensi meruntuhkan kebersamaan.

***

Acara sinau bareng pada malam itu dimulai dengan sebuah pertanyaan kepada para jamaah yang hadir, "bagaimana pengalaman pada situasi pandemi?" Tentu setiap orang memiliki cara yang yang berbeda dalam menghadapi realita yang berbeda-beda pula.

Kemudian Mbah Nun mencoba mempermudah bahasa yang digunakan sebagai pintu sinau bareng, "2 tahun pandemi iki kowe ngrasakke opo? Terus lahir apa dalam hidup anda? Apa muatan pikiran anda yang terefleksikan dari situasi pandemi ini?"

Candaan dari Mbah Nun saat sinau bareng yang pasti dirindukan terkespresikan di awal-awal acara. Dengan tawa gempita para jamaah yang serentak menyambut gurauan yang terlontarkan dari Guru, orang tua, sekaligus Mbah mereka. Meskipun saya mengikuti tidak secara langsung, akan tetapi getaran kemesraan itu seolah mengantarkan saya untuk berada di tempat yang sama.

Beberapa respon diutarakan oleh beberapa jamaah, ada yang warungnya merasa terkokang (terkekang) atas aturan yang diberlakukan. Ada yang terganggu dengan 'nuansa' sekolah, pun dengan keresahan salah satu jamaah yang kemudian bertanya, "Pripun carane ngagengaken ati piyambak (bagaimana cara membesarkan hati diri sendiri)?"

Mbah Nun mulanya memberikan penjelasan terkait ta'lim (pengajaran), ta'rif (pendalaman pengetahuan), dan juga ta'dib (pemberadaban). Namun ta'dib menjadi sesuatu yang dicari karena dirasa belum banyak didapati di lingkungan pendidikan formal yang hanya bersifat ta'lim. Ta'dib merupakan suatu cara tentang bagaimana anak-anak didik berlatih untuk memiliki peradaban. Dengan kata lain, ta'dib merupakan suatu pembelajaran yang menyeluruh untuk mencapai pemberadaban kehidupan.

Metode ta'dib sendiri sudah berjalan di SMK Global dan juga ke depannya akan coba diterapkan dalam sinau bareng Padhangmbulan. Mbah Nun mencoba memberikan gambaran melalui sebuah pernyataan, "ono wong pinter dunyo, goblok akhirat. Ono wong pinter akhirat, goblok dunyo. Ono wong goblok dunyo, goblok akhirat. Ono wong pinter dunyo, pinter akhirat." Kita seringkali tidak tepat mengenai apa yang seharusnya menjadi pijakan, akibatnya tak sedikit dari kita jadi bermental pengemis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun