Mohon tunggu...
Tasya Alfanindia
Tasya Alfanindia Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa Universitas Airlangga

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Kampung Budaya Polowijen Implementasi Pancasila Kota Pendidikan

27 Mei 2019   14:32 Diperbarui: 27 Mei 2019   14:34 0 0 0 Mohon Tunggu...

Kota Malang adalah sebuah kota yang terletak di Provinsi Jawa Timur. Kota ini merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya dan kota terbesar ke-12 di Indonesia. Kota ini didirikan pada masa Kerajaan Kanjuruhan dan terletak di dataran tinggi seluas 145,28 km. Kota malang sering disebut sebagai Kota Pendidikan dan Kota Bunga.

Kota ini diberi julukan Kota Pendidikan karena banyaknya jumlah kampus dan sekolah yang ada di Malang Raya. Pada masa Hindia Belanda, Malang sudah memiliki puluhan sekolah yang tersebar di segala penjuru, jumlah itu termasuk sangat banyak untuk kota dengan luas dan jumlah penduduk seperti Malang. Pertumbuhan jumlah sekolah yang sangat pesat ini, terjadi pada kisaran tahun 1914-1939. Dukut Imam Widodo, dalam bukunya yang berjudul Malang Tempo Doeloe menyebut bahwa pada tahun 1914, di Malang baru ada delapan sekolah saja. Delapan sekolah tersebut terdiri dari 1 MULO (sekolah lanjutan atau setingkat SMP), 3 ELS (Sekolah dsar dengan sistem Eropa), 1 HCS (Sekolah dasar khusus etnis tionghoa), dan 3 Inlands Scholen der 2e Klasse (Sekolah dsar pribumi atau biasa disebut sekolah ongko loro). Namun, jumlah itu meningkat sangat pesat pada sekitar tahun 1930-an. Pada saat itu jumlah sekolah yang sebelumnya hanya delapan, meningkat pesat menjadi puluhan jumlahnya.

Budaya merupakan suatu hal yang bisa dijadikan sebagai identitas unik dan khas bagi suatu daerah. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, pengertian budaya adalah segala hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya meliputi produk teknologi dan kebendaan lainnya, rasa meliputi jiwa manusia yang selaras dengan norma dan nilai sosial, sedangkan cipta meliputi kemampuan kognitif dan mental untuk mengamalkan apa yang diketahuinya Menurut Koentjaraningrat, Budaya merupakan sebuah sistem gagasan & rasa, sebuah tindakan serta karya yang dihasilkan oleh manusia didalam kehidupannya yang bermasyarakat, yang dijadikan kepunyaannya dengan belajar.

Seperti kita ketahui, Pancasila merupakan dasar Negara Indonesia. Maka dari itu semua warga Indonesia harus mencerminkan nilai -- nilai yang ada didalam Pancasila. Salah satu nilai pokok Pancasila adalah gotong royong. Namun, kita ketahui bahwa nilai gotong royong masyarakat Indonesia sekarang ini mulai luntur. Maka dari itu, Badan Pembinaan Ideologi Pncasila ( BPIP ) berusaha menggiatkan kembali nilai gotong royong tersebut. Akhir -- akhir ini Badan Pembinaan Ideologi Pancasila blusukan ke kampung -- kampung di Kota Malang untuk melihat praktik yang biasanya dilakukan oleh warga yaitu gotong royong.

Menariknya salah satu kampung yang dikunjungi merupakan sebuah kampung budaya baru bernama Kampung Budaya Polowijen. Setelah kita tahu sebelumnya bahwa terdapat juga kampung budaya di Malang yang sudah terkenal yaitu Kampung Warna Warni yang terletak di Jodipan. Kampung ini terletak di Kelurahan Polowijen, Kecamatan blimbing, Kota Malang yang buka setiap hari mulai pukul enam pagi hingga Sembilan malam.  Terletak dekat dengan wisata patung Kendedes. Didalamnya terdapat berbagai macam situs budaya seperti Tari Topeng Malangan, kerajinan topeng, kerajinan gerabah, maupun Sumur Windu yang merupakan tempat pemandian Ken Dedes. Selain itu, juga terdapat pasar jajan tradisional. Namun, Ciri khas dari kampung ini adalah Tari Topeng Malangan sendiri.

Tari Topeng Malangan adalah tarian yang para pemainnya menggunakan topeng. Biasanya, topeng tersebut dibuat sendiri oleh penari tersebut. Tari ini merupakan budaya yang masih sangat eksis di Malang dan memiliki sesepuh bernama Mbah Karimun. Menurut Mbah Karimun ( alm. ) Tari Topeng Malangan adalah perpaduan antara wajah manusia dan wayang dengan pergerakan tari yang patah -- patah. Gaya inilah yang lebih dikenal dengan Gaya Malangan. Malang yang artinya kuat dan menggambarkan kekesatrian.

Tari Topeng Malangan berasal dari Kediri. Diciptakan oleh Airlangga, putra dari Darmawangsa Beguh. Tarian ini menggambarkan semangat dari semua satria di cerita Panji dan mempunyai nilai kerukunan, keluhuran, dan kebersamaan. Cerita Panji adalah cerita yang selalu menceritakan tentang hilangnya Dewi Sekartaji atau Candra Kirana dan ditemukan oleh Panji Asmorobangun.

Selain sebagai tempat wisata, Kampung Budaya Polowijen juga memperbolehkan para tamunya yang tertarik dan ingin belajar kesenian untuk belajar. Seperti belajar Tari Topeng Malangan, belajar membuat topeng, dan belajar membuat gerabah. Disekitar lokasi juga banyak poster berisi mengenai edukasi sejarah.

Oleh karena itu, kembali ke topik Pancasila. Kampung Budaya Polowijen merupakan salah satu implementasi nyata Pancasila. Dapat kita lihat, nilai gotong royong warga di kampung tersebut dalam mengangkat kearifan lokal budaya Kota Malang. Nilai persatuan yang kuat juga terjadi di Kampung Budaya Polowijen sehingga warganya memiliki kepentingan yang sama untuk mengembangan Tari Topeng Malangan agar tidak punah. Membudayakan Pancasila dengan mengangkat seni tradisi warisan leluhur budaya kita.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x