Mohon tunggu...
Tanah Beta
Tanah Beta Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Mahasiswa Semester Akhir pada IAIN Ambon

menulislah sebelum dunia menggenggam nafasmu

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kayu satu : Tempat memadu kasih

6 Juni 2017   20:54 Diperbarui: 6 Juni 2017   20:54 223
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
puncak kayu satu. Sumber foto : https://www.google.com/search?q=kayu+satu+ambon&client=firefox-b-ab&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjNuPeYranUAhXDsI8KHeXjDJkQ_AUICigB&biw=1024&bih=489#imgrc=wlp9Zy8zoJExnM:

Oleh : Tanah Beta

Banyak api berseliweran di atas tanah. Muda-mudi duduk bersilah dan berdampingan, memadu rasa diatas puncak---sering di sebut orang-orang : puncak kayu satu. Puncak yang sering di kunjungi muda-mudi ketika malam akhir pekan---malam Minggu. Dan puncak yang di jadikan tempat memadu rasa oleh mereka yang di terpa angin asmara. Puncak ini berada di kawasan Kahena, Batumerah, Sirimau, Ambon.

Sangat ramai di malam ini. Muda-mudi yang berkunjung kesini adalah mereka yang merasa suntuk dengan perkuliahan---para mahasiswa/i.

Hawa dingin menyergap ketika aku masih dalam keadaan terengah-engah. Perlahan ku ayunkan kaki melewati petak-petak yang di buat muda-mudi sebagai batasan antara satu dengan yang lain. Setelah hampir lima puluh menit  mendaki, di atas puncak, ku liarkan padangan ke sagala sudut---mencari tempat, mendirikan tenda mini (Doom, sebutan anak-anak pecinta alam). Tepat dekat tebing yang tidak terlalu curam, ada sepetak tanah yang terlihat kosong, tidak  terlalu  jauh     dari keramaian muda-mudi. Di situ, aku dirikan Doom.

Sejenak aku merebahkan pantat di atas matras(tikar mini berwarna hitam) seusai memasang kerangka dan mendirikan doom. Dari depan tenda, terlihat sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Memang, sempat aku merasa cemburu terhadap mereka. Tapiii ... sudahlah, aku kembali dan tak mau ambil pusing dengan mereka. Aku lalu beranjak dari tenda memasuki semak belukar---mencari ranting-ranting kering, membakarnya untuk nyalakan api. Di dekat kayu satu, banyak ranting berserakan, namun bukan yang ku makhsud. Itu ranting-ranting mentah yang baru di potong. "siapa lagi yang sudah memotong pohon di sini" aku berdesir.

"se tau sapa yang potong kayu manta ni ka?"dengan dialeg Ambon, aku bertanya pada seorang lelaki yang bersamaan sedang mencari ranting kering.

"seng tau" jawabnya singkat.

Lelaki itu lalu menghilang dari pandanganku setelah ku tanyai siapa yang memotong ranting mentah yang berserakan itu. Bayangan lelaki itu tak lagi tampak di depanku, Aku lantas cepat-cepat kembali ke tenda dengan beberapa potongan ranting kering dalam pelukan. Di depan tenda aku letakkan ranting yang kudapat setelah beberapa menit mencari. Lalu ku tumpukkan satu per satu ranting dan membakarnya. Dan ketika api, pun menyala, aku menghangatkan tubuh yang sejak tadi menggigil kedinginan. Selang hampir 30 menit aku berada di depan api.

"Kakak bisa pinjam korek ka!" lelaki yang ku temui di dekat kayu satu tadi berseru padaku.

Aku lalu mengambil korek dari dalam saku lalu ku sodorkan padanya. Dia membakar rokok dan...

"Makasi kaka"  ucapnya setelah mengembalikan korek.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun