Tabrani Yunis
Tabrani Yunis Guru

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Suasana Aceh di Ujung Tahun

31 Desember 2017   00:39 Diperbarui: 31 Desember 2017   16:03 1138 3 1
Suasana Aceh di Ujung Tahun
Pemerintah Kota Banda Aceh memasang baliho besar di pusat Kota banda Aceh yang menyerukan larangan merayakan malam tahun baru di Banda Aceh. Gambar diambil pada Rabu (31/12/2014).(KOMPAS.com/Yayan)

Tanggal 31 Desember 2017, tanggal terakhir di ujung Desember 2017. Berarti pada pukul 24.00 atau pukul 0.00 akan terjadi pergantian tahun, dari tahun 2017 ke tahun 2018. Biasanya, di malam pergantian tahun tersebut, orang-orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, bahkan di Aceh merayakan malam pergantian tahun itu dengan penuh suka cita. Di mana-mana, di berbagai negara di belahan bumi atau dunia ini terdengar suara-suara terompet. Di mana-mana, orang banyak membakar mercon, kembang api dan sebagainya, mengadakan berbagai macam pertunjukan musik dan sebagainya. Malam tahun baru itu adalah malam terakhir yang harus dirayakan.

Bukan hanya itu, di Indonesia juga selama ini, orang-orang di seluruh Indonesia banyak yang ikut merayakan malam pergantian tahun tersebut dengan berbagai macam cara. Bukan hanya dengan membakar mercon, tidak pula hanya dengan membakar kembang api dan menembakkannya ke udara dan berjalan mengelilingi kota dan sebagainya, tetapi hampir semua stasiun televisi mengadakan acara malam tahun baru. 

Stasiun televisi itu mengadakan acara-acara yang sangat meriah, menghadirkan para artis dan aktris serta para selebritis dengan menyiarkan pergantian tahun mulai dari provinsi di ujung paling timur, hingga ke ujung paling barat dengan penuh suka cita, hingga larut malam. Ya, pokoknya malam itu adalah malam terakhir dan tidak pernah ada lagi malam itu, maka diperingat dengan sangat meriah. Begitulah selama ini masyarakat kita di banyak kota besar, apalagi di kota megapolitan, Jakarta itu, pasti sangat banyak orang yang merayakan malam pergantian tahun tersebut.

Di Aceh, sebelumnya banyak juga orang atau masyarakat yang ikut merayakan malam than baru, sebagaimana layaknya orang-orang di luar Aceh. Banyak terdengar suara mercon, banyak terlihat kembang api yang meledak dan pecah di udara. Bahkan banyak pula orang yang turun ke jalan membakar mercon dan kembang api hingga larut malam. Sebelumnya, orang-orang juga dengan bebas merayakan, bahkan dengan mengadakan acara pertunjukan musik dan sebagainya.

Sejak beberapa tahun lalu, ketika tampuk pimpinan Kota Banda Aceh berada di tangan wali kota, Iliza Saaduddin Djamal, sudah mulai ada imbauan kepada masyarakat untuk tidak membakar mercon, membakar kembang api dan juga keliling kota.

Doc. Walikota Banda Aceh
Doc. Walikota Banda Aceh
Imbauan yang mengandung makna, bahwa Aceh yang sedang menegakkan syariat Islam, tidak elok ikut merayakan malam pergantian tahun dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Imbauan itu, tampak berjalan cukup efektif, karena tidak banyak lagi orang atau masyarakat Aceh yang ikut larut dalam kegembiraan dan kemeriahan perayaan malam tahun baru itu. Ya, sangat jarang orang yang memeriahkan malam pergantian tahun.

Tahun ini, ketika jabatan Wali Kota Banda Aceh ini berada di bawah kepemimpinan H. Aminullah, imbauan, bahkan larangan untuk merayakan malam tahun baru sudah diumumkan lewat media, baik media cetak, maupun elektronik atau online. Redaksi majalah POTRET hari ini menerima kiriman release dari pemerintah kota Banda Aceh seperti berikut ini. 

"Banda Aceh - Pemerintah Kota Banda Aceh bersama Forkopimda Banda Aceh telah mengeluarkan seruan bersama tentang larangan perayaan tahun baru Masehi di Banda Aceh. Dalam seruan tersebut, warga diminta tidak melakukan perayaan dengan pesta kembang api, mercon/petasan, kembang api dan meniup terompet atau sejenisnya. Terkait dengan larangan tersebut, Sabtu (30/12/2017) Wali Kota Banda Aceh, H Aminullah Usman SE Ak MM mengajak warga ikut berpartisipasi dengan melakukan pengawasan di wilayahnya masing-masing."

"Yang pertama warga kita minta berperan aktif dan mentaati seruan Forkopimda ini," ujar Wali Kota. 

Kemudian, Aminullah juga mengajak masyarakat ikut mengawasi agar tidak terjadi pelanggaran atas seruan tersebut. 

"Bilamana ditemukan adanya pelanggaran, warga diminta melaporkan kepada petugas, yakni Satpol PP dan WH atau ke pos-pos yang telah dibentuk di Kantor Camat," pinta Aminullah.

Dalam seruan yang dikeluarkan Forkopimda, selain melarang merayakan tahun baru dengan dengan pesta kembang api, mercon/petasan, kembang api dan meniup terompet, juga dilarang memperjualbelikan mercon/petasan, kembang api, terompet atau sejenisnya di Banda Aceh. 

Wali Kota mengajak semua warga meningkatkan kepedulian dalam penegakan syariat Islam dengan tidak melakukan berbagai kegiatan yang melanggar peraturan perundang-undangan atau Qanun Syariat Islam serta menjaga jati diri warga Kota Banda Aceh yang gemilang dalam bingkai syariah (mkk).

Nah, ketika larangan ini dikeluarkan, tentu saja banyak orang yang ikut mendukung, sejalan dengan tekad pemerintah dan masyarakat Aceh yang ingin dan sedang giat melaksanakan syariat Islam itu. 

Namun di mata orang lain, kebijakan ini bisa jadi dianggap sebagai kebijakan yang tidak biasa atau malah aneh. Dengan demikian, nyanyi atau lagu yang dilantunkan oleh Stevie Wonder, dalam lagunya I just Call to Say I Love You, yang dimulai dengan ungkapan, "No New year eve to celebrate..." akan terbukti di Aceh di ujung tahun 2017 ini. Tentu saja tidak perlu diributkan larangan ini. Inilah salah satu wujud Bhinneka Tunggal Ika itu. Kita hormati saja, apa yang disebut dengan local wisdom yang ada di negeri paling ujung Sumatera itu. Aceh memang beda. No New year's eve to celebrate and bla bla bla.