Mohon tunggu...
Lupin TheThird
Lupin TheThird Mohon Tunggu... Seniman - ヘタレエンジニア

A Masterless Samurai -- The origin of Amakusa Shiro (https://www.kompasiana.com/dancingsushi)

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Antara Noise, Voice, dan Musim Gugur

6 November 2021   19:00 Diperbarui: 6 November 2021   19:13 532
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Musim gugur di kolam (dokumentasi pribadi)

Di jalan ini
Tak kujumpa seorang
Di musim gugur

Sambil sesekali meneguk teh hangat, saya berjalan menyusuri pepohonan, dengan alas daun yang berserak di taman.

Saya kemudian teringat buku yang ditulis oleh Fukuoka Shin-ichi, seorang ahli biologi molekuler. Dia mengatakan bahwa manusia dan makhluk hidup lain, dibedakan atas dasar logos (kata-kata) dan physis (alam).

Makhluk selain manusia, umumnya hidup dengan insting yang bersifat physis. Mereka bertelur, beranak, menghasilkan biji, dengan satu tujuan yaitu untuk meneruskan keturunan. Bahkan ada beberapa dari makhluk hidup itu bisa bertelur/beranak banyak. Misalnya ikan Manbou (Mola-mola), bisa bertelur sebanyak 10 juta butir!

Manusia hidup bukan sekadar physis saja. Hidup kita bukan hanya untuk melanjutkan generasi (keturunan). Berbeda dengan makhluk lain, manusia bisa melahirkan logos. Orang menggunakan logos, untuk berinteraksi dengan sesama manusia.

Sehingga kita harus memikirkan, jangan sampai logos ini mengganggu hubungan dengan sesama manusia. Kita harus berupaya agar logos ini menjadi voice, bukan noise yang dalam artian hanya caci maki tanpa logika.

Daun terperangkap jaring laba-laba (dokumentasi pribadi)
Daun terperangkap jaring laba-laba (dokumentasi pribadi)
Memang asyik berjalan di taman saat musim gugur. Sehingga tanpa sadar saya sudah cukup lama berada di taman, dan ternyata sudah 3000 langkah saya tempuh saat mengecek pada jam tangan.

Musim gugur adalah momen yang tepat digunakan untuk bermenung. Dalam perjalanan pulang ke rumah, sambil memandang ke arah daun berwarna-warni, saya berbicara kepada diri bahwasanya hidup di dunia ini ibarat daun pada empat musim.

Tunas baru muncul saat musim semi seperti bayi lahir. Kemudian berkembang menjadi anak-anak, seperti daun rimbun di musim panas. Lalu daun berubah warna pada musim gugur, bak anak manusia yang beranjak dewasa. Akhirnya daun akan layu dan jatuh ke bumi pada musim dingin, seperti juga kita yang akan menjadi tua, dan berkalang tanah.

Daun yang berganti warna seiring dengan perjalanan musim, pun hidup kita adalah hal yang fana. Seperti daun yang muncul dalam wujud tunas kemudian berkembang, usia yang bertambah merupakan keniscayaan.

Jalan-jalan di musim gugur (dokumentasi pribadi)
Jalan-jalan di musim gugur (dokumentasi pribadi)
Akan tetapi berbeda dengan makhluk lain yang hidup hanya berdasarkan physis, bagi manusia yang ber-logos, bertambahnya usia tidak menjadikannya otomatis menjadi dewasa. Kita tentu tahu, bahwa menjadi dewasa itu, adalah pilihan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun