Mohon tunggu...
Syurawasti Muhiddin
Syurawasti Muhiddin Mohon Tunggu... Freelancer - Psikologi

Berminat dalam kepenulisan, traveling, pengabdian masyarakat

Selanjutnya

Tutup

Digital Pilihan

Digital Well-being, Jalan Mendamaikan Desakan Teknologi Digital dan Kesejahteraan Subjektif

29 Oktober 2020   17:37 Diperbarui: 29 Oktober 2020   17:42 309 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Digital Well-being, Jalan Mendamaikan Desakan Teknologi Digital dan Kesejahteraan Subjektif
Digital. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

Teknologi digital telah menembus berbagai aspek kehidupan sehari-hari manusia. Oleh sebab itu, semakin penting bagi kita untuk mempertimbangkan dampaknya terhadap kesejahteraan (well-being) manusia. Penggunaan perangkat-perangkat digital diantaranya telah mempengaruhi komunikasi digital, jaringan online, bahkan kesehatan fisik maupun mental, dan hubungan sosial kita. 

Pertanyaan-pertanyaan terkait dengan dampak positif dan negatif yang dibawa teknologi digital tersebut ke dalam masyarakat mengarahkan kepada topik ataupun istilah yang relatif baru yaitu "digital-wellbeing". 

Kita mungkin familiar dengan istilah tersebut dari perangkat smartphone kita yang beberapa diantaranya telah dilengkapi fitur digital well-being ini. Ada juga aplikasi-aplikasi seluler maupun web yang dikembangkan untuk menjalankan fungsi-fungsi yang berhubungan dengan digital well-being. Lantas, bagaimana literatur yang ada mendefinisikan digital well-being?

Digital well-being seringkali didefinisikan sebagai kapasitas yang dimiliki untuk menjaga kesehatan pribadi, keselamatan, hubungan dan keseimbangan kehidupan pribadi dan dunia kerja dalam setting digital. Istilah tersebut juga merujuk pada kemampuan dan keterampilan yang diperlukan individu agar dapat memanfaatkan tekonologi digital dengan tepat. Selain sebagai kapasitas dan keterampilan, digital well-being juga dipahami sebagai suatu kondisi positif yang hendak dicapai dalam konteks penggunaan teknologi digital.

Gui, Fasoli dan  Carradore (2017) memberikan definisi yang lebih terstruktur. Digital well-being didefinisikannya sebagai keadaan ketika kesejahteraan subjektif dapat dipertahankan dalam lingkungan yang ditandai dengan komunikasi digital yang meluap-luap dan tak terbatas. 

Dalam kondisi tersebut, individu dapat menyalurkan penggunaan media digital menuju rasa nyaman, aman, kepuasan, dan pemenuhan diri (fulfillment) dengan didukung oleh keterampilan spesifik individu dan konteks sosial-budaya di sekitar mereka. 

Digital well-being merupakan kontributor yang berkembang terhadap kesejahteraan subjektif individu. Digital well-being tidak hanya berkaitan dengan pencapaian kepuasan, rasa nyaman dan kemudahan (aspek hedonis) tetapi juga menyangkut kemampuan menggunakan teknologi ini untuk memberi makna pada aktivitas seseorang dan merealisasikan potensi diri sendiri dalam kehidupan (aspek eudaimonik) (Gui dkk, 2017).

Dimensi Individual Digital Well-being

Dimensi individual mengarah kepada keterampilan digital well-being. Beberapa sumber menyebutkan keterampilan tersebut secara implisit. Misalnya, van Dijk (dalam Gui dkk., 2017) dan Van Deursen (dalam Van Deursen & Van Dijk, 2014) membicarakan tentang "keterampilan strategis". 

Dia mangasumsikan bahwa fokus tujuan personal adalah sesuatu yang secara khusus sulit dilakukan ketika menggunakan internet sehingga diperlukan keterampilan strategik internet yang meliputi kapasitas menggunakan media digital untuk memperoleh manfaat tertentu.

Gui dkk. (2017) mengatakan bahwa keterampilan digital well-being lebih dari sekedar persoalan kontrol diri yang mana diketahui sebagai prediktor penting dalam kesuksesan aktivitas intelektual sebelum era digitalisasi. Nyatanya, lingkungan media digital jauh lebih kompleks karena beberapa karakteristik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN