Mohon tunggu...
Silivester Kiik
Silivester Kiik Mohon Tunggu... Guru - Founder Sahabat Pena Likurai

Hidup hanya sepenggal cerita tentang perjuangan, sekelumit jejak-jejak kaki di bumi, aku, kamu, dan mimpi kita.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Prahara Kota Tua

6 Juni 2019   21:53 Diperbarui: 6 Juni 2019   22:08 28
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

1//
Suatu senja yang mengharmonikan rasa
kegelapan menyelubunyi jeritan
membawa sekuntum mawar layu untuk bersaksi
tentang prahara kota tua ini akulah saksinya

2//
Tanpa tanya
tanpa pula jawaban yang mengiyakan isyaratnya
bergemuruh makin menoreh batin
dan merangkai renungan dalam amukan kepalsuan

3//
Melafal silsilah mengoceh lidah
merenung sejarah tiada konsepnya
mungkin amnesia efek redupnya pancaran manja sang bintang
atau teriris oleh tajamnya bulan sabit malam ini

4//
Sudut pandangan makin menghantui
menambah semangat tikus-tikus liar beraksi
memangsa puing-puing tanpa pamrih
terlelap dalam kelezatannya dan menghilang tanpa ucapan terima kasih

5//
Keheningan kian mengantarnya pada teduhnya mimpi
menyatu dengan dunia lain untuk lebih menguasai peka
tentang kursi-kursi empuk dan kalung-kalung berlian
tentang suara-suara kemurnian yang di beli tanpa dosa

6//
Mentari pagi membangunkan auranya untuk bercermin
perlahan menghidupkan roda kecurangannya
di aduk bersama pahitnya segelas kopi pagi
siap di telan bersama senyuman kelalaian

7//
Dari satu titik menuju titik lain
dari lantai berubin hingga pelepah daun kelapa
tergilas oleh amplop-amplop tebal
hingga janji yang memang mematikan gerak

8//
Hari berganti bulan untuk memadu
berjumpa abadi pada cantiknya dasi kupu-kupu
menebar tawa tak bernilai karakter
seolah-olah duri tiada tajamnya

9//
Jadi agen humoris untuk generasi kini
mencaci dengan botol-botol berwarna
dan menilai pemberi suara yang salah
tetap sama !!!

10//
Cukup sudah di ubrak-abrik
kedamaian relung ini bukan coretan kertas putih
namun kumpulan kristal yang berkobar-kobar
dari awal hingga akhir waktu

...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun