Mohon tunggu...
Syarif Enha
Syarif Enha Mohon Tunggu... Manusia yang selalu terbangun ketika tidak tidur

Manusia hidup harus dengan kemanusiaannya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Awas! Ora Elok, Nanti Kualat!

27 Juli 2020   12:16 Diperbarui: 27 Juli 2020   12:19 75 7 0 Mohon Tunggu...

Istilah kualat pasti tidak asing lagi bagi kita semua, apalagi yang berasal atau tinggal di Jawa. Kualat sendiri dalam beberapa kamus yang ditelusuri tidak memberikan jawaban yang pasti. 

Hanya saja kualat dapat diartikan mendapat akibat buruk dari apa yang telah kita lakukan karena melanggar suatu aturan norma tertentu. Apakah karena bohong, tidak sopan kepada orang tua, mengumpat, sampai-sampai sering pula dikaitkan dengan perbuatan tidak baik kepada lingkungan dan mahluk halus. Sehingga kualat juga kadang dipahami balasan yang dilakukan oleh alam maupun mahluk halus kepada manusia karena telah diganggu atau telah dibuat tidak senang.

Ungkapan kualat itu lebih sering kita dengar pada masa dahulu. Ketika para orang tua kita sering melarang anak-anaknya melakukan ini itu, dengan tanpa penjelasan, ancaman kualat seperti sudah bisa mewakili apa yang harus dijelaskan. 

Kata kualat itu sering dipakai melekat dengan satu gabungan kata lainnya yaitu "ora elok", berasal dari bahasa jawa ora elok, yang berarti tidak baik. 

Seorang anak yang duduk ditengah pintu akan segera dilarang orang tuanya, "Jangan duduk ditengah pintu, ora ilok, nanti kualat kamu!" Mendengar peringatan kualat, bagi anak-anak sudah memberikan satu gambaran mengerikan tersendiri, sehingga akhirnya mereka turut apa kata oang tua.

Kata kualat sendiri tidak memiliki satu pengertian utuh, sehingga sering dianggap sebagai mitos. Apalagi saat ini, dimana bukti ilmiah menjadi satu standar kebenaran, kata kualat yang tidak memiliki penjelasan ilmiah seringkali dikatakan sebagai mitos orang dahulu atau nenek moyang.

Namun apakah semua perbuatan yang dianggap ora ilok, dan diancam dengan kualat adalah mitos belaka? Ternyata jika kita mau menelusuri maksud dibalik uangkapan itu, mengapa dilekatkan pada suatu perbuatan, dapat kita temukan penjelasan yang masuk akal.

Mengapa Tidak Elok?

Pernahkah kita berpikir mengapa sesuatu itu dianggap tidak elok, alias tidak baik oleh para orang tua kita? Atau kita hanya mengiyakan atau bahkan menolaknya mentah-mentah bahkan menilai itu semua hanya tahayul belaka?

Orang jawa mungkin adalah orang yang paling banyak memiliki ungkapan unggah-ungguh (sopan santun) dan simbol. Hampir semua tindakan yang dilakukan selalu di dasarkan pada prinsip menghormati dan menghargai, jangan sampai menyakiti perasaan orang lain. Sehingga mereka membuat semacam satu tatanan norma yang sangat ketat. 

Bukan saja kepada sesama manusia, kepada binatang, tumbuhan, bahkan mahluk halus sekalipun. Misal, dalam hari-hari tertentu, seperti selasa, jumat dan sabtu, tidak boleh menebang pohon. Jika tetap menebang pohon bisa kualat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN