Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Dosen - Penulis - Pegiat Literasi - Konsultan

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Konsultan di DSS Consulting sekaligus Edukator Dana Pensiun. Pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 34 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor serta penasehat Forum TBM Kab. Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

7 Dampak Fatal Negara yang Abai terhadap Gerakan Literasi

5 Oktober 2021   10:52 Diperbarui: 5 Oktober 2021   10:56 92 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber: TBM Lentera Pustaka

7 Dampak Fatal Akibat Abai terhadap Literasi

Semua orang Indonesia ingin bangsanya literat. Agar terhindar dari hoaks, tidak gampang bergosip atau berujar kebencian. Katanya di ruang seminar, Indonesia perlu wujudkan masyarakat yang literat. Lalu, bagaimana realitas literasi masyarakat hari ini?

Terkadang bingung juga. Urusan literasi di Indonesia itu harusnya dimulai dari mana? Minat baca-tulis yang harus ditingkatkan. Akses bacaan yang diperluas. Taman bacaan atau perpustakaan yang perlu diperbanyak. Atau cukup literasi hanya dibahsa di ruang-runag seminar. Dicanangkannya literasi sebagai gerakan nasional. Mau dari mana memulainya?

Maka berbagai riset internasional menobatkan tingkat literasi bangsa Indonesia tergolong rendah. Laporan berjudul "Skills Matter" yang dirilis OECD (2016) melalui tes PIAAC, menyatakan tingkat literasi orang dewasa Indonesia berada pada posisi terendah dari 40 negara. 

Hanya 1% orang dewasa yang memiliki tingkat literasi yang memadai; yang dapat mengintegrasikan, menafsirkan, dan mensintesis informasi dari teks yang panjang. Lalu, hanya 5.4% orang dewasa yang dapat menemukan informasi dari teks yang panjang.  

Lalu, Central Connecticut State University merilis hasil "The World Most Literate Nation Study" (2016) menyatakan Indonesia berada pada posisi ke-60 dari 61 negara. Hanya di atas Botswana. Untuk kawasan ASEAN posisi Indonesia berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Tapi hebatnya, katanya, orang Indonesia dikenal paling cerewet di media sosial. Paling gampang mengomentari soal apapun. Apalagi 1 dari 2 orang Indonesia hari ini punya akses ke media sosial. Sementara tidak sedikit, orang-orang yang gagal menyeleksi setiap infomasi yang beredar. Hingga tidak tahu dari mana sumbernya, apa isi pesannya, dan apa tujannya? Maka hoaks dan ujaran kebencian pun kian marak.

Tingkat literasi bangsa Indonesia memang rendah. 

Agak membingungkan. Bila negara dengan penduduk terbesar ke-5 di dunia tidak gemar membaca dan menulis. Sulit memahami realitas yang terjadi untuk mampu bersikap bijak terhadap keadaan. Jadi ke depan, apa yang mau dibangun dalam kehidupan berbangsa. Zamannya yang canggih dan gaya hidup mentereng. Tapi tingkat literasi rendah. Eranya digital tapi manusia manual? Atau apa yang mau dibangun?

Syarifudin Yunus, pegiat literasi dan Pendiri Taman Bacaan Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor menyatakan tentang dampak fundamental tingkat literasi yang rendah. Setidaknya ada 7 (tujuh) dampak fatal dari rendahnya tingkat literasi di suatu negara, yaitu:

1. Kebodohan yang tidak berujung. Rendahnya literasi bisa jadi sebab utama ketidak-tahuan yang akut di berbagai ranah kehidupan. Sehingga sulit mewujudkan masyarakat yang tertib dan beradab.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan