Syahirul Alim
Syahirul Alim Penulis Lepas dan Aktivis Sosial-Keagamaan

Alumnus Magister Ilmu Politik UI, Penulis lepas, Pemerhati Masalah Sosial-Politik-Agama, Tinggal di Tangerang Selatan

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Bu Megawati, Ada Apa dengan "Ideologi Tertutup" dan Peramal Masa Depan?

13 November 2017   11:00 Diperbarui: 14 November 2017   10:30 4223 7 5
Bu Megawati, Ada Apa dengan "Ideologi Tertutup" dan Peramal Masa Depan?
Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri membuka Kongres IV PDI-P di Sanur, Bali, Kamis (9/4/2015).(KOMPAS.com/INDRA AKUNTONO)

Pidato politik Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri yang menyinggung soal ideologi tertutup yang kemudian dipersonifikasikan kepada para peramal masa depan, seakan menjadi persoalan yang hingga kini masih belum usai. Baru-baru ini, sekelompok orang yang mengklaim dirinya sebagai ulama dari Madura, memperkarakan pidato Megawati itu karena dianggap "memprovokasi" bahkan dapat menimbulkan keresahan umat Muslim. Pernyataan soal "ideologi tertutup" dan "peramal masa depan" tampaknya menjadi argumen pelapor yang merasa tersinggung oleh isi pidato ini. Bagi saya, dalam konteks politik, apalagi ini dilakukan secara internal, menyampaikan pemikiran, ide atau kritik seharusnya hal biasa dan tak perlu dibesar-besarkan.

Saya dalam hal ini, berhusnudzon saja kepada Megawati yang menyampaikan pidato politiknya di acara Ulang Tahun PDIP ke 44 di Jakarta. Ungkapannya yang kontroversial menyoal "ideologi tertutup" lebih mengarah kepada sebuah ideologi yang secara langsung menolak segala macam nilai-nilai, tradisi atau semangat yang digali dari jati diri bangsa. Hal inilah barangkali, yang salah dipersepsikan oleh sebagian orang mengenai apa itu ideologi tertutup. 

Dalam laman ukessays.com, sebuah ideologi terbuka (open ideology) memilki karakteristik mengambil nilai-nilai ideal yang hidup dalam budaya masyarakat setempat. Singkatnya, ideologi seperti ini bukanlah diciptakan oleh negara, tetapi lebih didasarkan pada kesepakatan bersama seluruh elemen masyarakat untuk menggali nilai-nilai dan tradisi masyarakat yang pada akhirnya menjadi sebuah nilai dasar bagi kebangunan sebuah bangsa dan negara.

Ini artinya, ungkapan Megawati yang menyinggung masih maraknya mereka yang berideologi tertutup, berarti masih ada yang secara terang-terangan "mempertentangkan" Pancasila yang telah mewujud menjadi sebuah "ideologi terbuka" yang secara natural diserap oleh seluruh elemen masyarakat sebagai bentuk konsensus bersama membangun dan membesarkan negara dan bangsanya. 

Ideologi terbuka tentu saja bukan "ideologi-impor" yang secara artifisial biasanya ada yang dianut oleh sekelompok masyarakat yang cenderung "memaksakan" agar ideologi bawaannya ini diterima oleh pihak lain. Ideologi impor tentu saja bisa bermacam-macam, bisa saja atheisme, komunisme, radikalisme, isisme atau terorisme. Jika ada sebagaian orang yang menganggap bahwa ideologi tertutup yang dimaksud mengarah kepada agama tertentu---dalam hal ini Islam---bagi saya, masih jauh panggang dari api.

Bagi saya, ideologi dan agama jelas dua hal yang berbeda, baik dari sisi penerimaannya maupun dalam tataran praksisnya. Jika agama diterima berdasarkan keyakinan dan kepercayaan, maka ideologi diterima berdasarkan kesamaan ide, pemikiran atau "nilai-nilai" yang dapat diterima secara umum. Agama jelas memiliki seperangkat nilai-nilai "absolut" yang diyakini berasal dari Tuhan yang pada tataran praksisnya mempunyai praktek ritual yang bersifat sakral dan privat. Istilah "Ideologi"---yang berasal dari idea dan logy---pertama kali dipopulerkan oleh Destutt de Tracy pada 1796 untuk membedakan salah satu aspek "ide saintifik" yang dibangunnya secara subjektif, sehingga membedakan dengan aspek subjektif lainnya. Dengan demikian, ideologi lebih banyak dibangun berdasarkan hasil riset yang terkait erat dengan sains, realitas sosial, termasuk didalamnya tradisi, budaya maupun nilai-nilai yang berkembang secara sosial.

Namun demikian, ungkapan Presiden ke-5 RI itu yang kemudian mengkaitkan antara ideologi tertutup dengan "dogmatisme" yang ditafsirkan sebagai bentuk "pemaksaan kehendak" dari suatu kelompok tertentu terkesan sangat absurd, karena ideologi umumnya tak terkait secara langsung dengan dogma. Dogma jelas terkait dengan agama karena setiap agama pasti memiliki "dogma" yang harus diterima tanpa reserve, yang bersifat memaksa karena di dalamnya terdapat nilai-nilai absolut, sakral dan mengikat. Pada akhirnya, konteks pidato Megawati ini jelas menyasar kelompok-kelompok tertentu yang seringkali membawa "simbol agama" tetapi demi tujuan politik tertentu, melambangkan sektarianisme bukan berdasar pada aspek kepentingan politik nasional.

Soal ideologi tertutup yang dipersonifikasikan sebagai para "peramal masa depan" (self-fullfilling prophecy) oleh Megawati saya kira, masih sangat bernuansa artifisial. Jika yang dimaksud adalah para pemuka agama yang mengklaim sebuah kebenaran yang disesuaikan atas pemenuhan dirinya sendiri (self fulfilling) bisa jadi lebih tepat. Lagi pula, dalam ajaran Islam, percaya kepada ramalan atau keadaan masa depan adalah suatu hal yang dilarang. Ramalan atau situasi masa depan adalah hal ghaib, yang tak ada satupun manusia mengetahuinya secara pasti, kecuali Allah. 

Hal ini secara tegas ditulis dalam Al-Quran, surat An-Naml: 65, "Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah". Saya kira, Megawati bukan dalam kapasitas tidak mempercayai Hari Akhir atau Hari Kebangkitan, tetapi justru dirinya mengkritik keberadaan para tokoh agama yang seakan-akan memposisikan diri mereka sebagai para "peramal masa depan" yang mengetahui apa yang terjadi nanti dengan melihat fenomena kekinian.

Saya kira, tak ada seorang pun yang antikritik di negeri ini, apakah penguasa, tokoh agama, tokoh masyarakat, preman atau ilmuwan sekalipun, selama kritik yang disampaikan justru lebih menyadarkan siapapun agar bisa introspeksi terhadap dirinya sendiri. Secara pribadi, saya melihat isi pidato Megawati sebagai sebuah "nasihat politik" saja bagi para kadernya, agar dapat menerima Pancasila sebagai sebuah "ideologi terbuka", menyesuaikan dengan nilai-nilai dasar yang digali dari bangsa sendiri, sehingga terhindar dari importasi ideologi lain yang justru dapat mengganggu keutuhan, kerukunan dan dinamika kebhinekaan yang selama ini terbangun dalam masyarakat. Walaupun di sisi lain, banyak ungkapan-ungkapan yang kurang tepat penggunaannya, sehingga menimbulkan banyak salah persepsi di tengah masyarakat.

Asumsi saya, soal "ideologi tertutup", "dogmatisme" dan "peramal masa depan" memang memiliki konotasi berbeda, walaupun ketika dihubungkan, seakan membentuk "pola" yang satu sama lain saling terkait dan membentuk sebuah fenomena sosial baru. Kondisi kekinian masyarakat Indonesia yang terpolarisasi ke dalam banyak segmen kepentingan, sepertinya mendorong lahirnya suasana "konflik sektarian" yang saling membenturkan beragam kepentingan umat.

Konflik tentu saja dipicu oleh sekelompok orang yang berideologi tertutup, menyampaikannya seakan-akan menjadi sebuah "dogma agama" yang dipaksakan kepada pihak lain. Untuk meyakinkan "dogmatisme"-nya, para pemimpin yang berideologi tertutup tentu saja melakukan propaganda politik yang dikemas dalam bahasa agama, sehingga menciptakan simbolisasi "para peramal masa depan" yang dapat meyakinkan masyarakat. Bangsa ini tentu tidak rela, ketika nilai-nilai kebangsaan kita tercerabut dari akar masyarakatnya digantikan oleh citra ideologi tertutup yang diimpor dari bangsa atau negara lain.