masunardi
masunardi Dosen Jelata

hanya dosen jelata...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kisah Obento Terakhir Yuki (Kapan Orang Jepang Harus Mulai Mandiri?)

1 Februari 2016   08:47 Diperbarui: 1 Februari 2016   09:27 511 3 2

Beberapa hari ini dunia sosial media remaja Jepang sedang ramai dengan postingan seorang anak SMA yang bernama Yuki. Postingannya menghasilkan ratusan komentar yang membuat ramai media online Jepang selain sosial media. Cerita tentang Obento (makanan bekal) yang disertai surat oleh pembuatnya, ibunya sendiri.

Seperti pelajar SMA di Jepang pada umumnya, mereka selalu dibekali orang tuanya bekal untuk makan siang, meski ada beberapa anak sekolah yang kadang jajan di warung. Kalau kita baca komik atau nonton anime Jepang, suasana makan siang dengan obento bawaan masing-masing sering terlihat. Sampai dengan SMA, anak Jepang memang masih menjadi tanggungan orang tua secara penuh, hampir dalam segala hal. Sekolah negeri sejak SD sampai SMA di Jepang adalah gratis, itu artinya wajib belajar di Jepang adalah 12 tahun. Setelah itu maka kemampuan orang tua dan si anak sendiri adalah penentu untuk melanjutkan kuliah atau tidak. Biaya kuliah di Jepang sangat tidak murah, belum lagi biaya hidup sehari-hari.

Kapan anak Jepang harus mulai belajar mandiri? Dari postingan di Yuki sebagai gambaran umum, usia dewasa anak Jepang adalah selepas SMA. Sebelum mereka lulus SMA, maka ibunya mempunyai tugas mengurus semua keperluan mereka, meski pembagian pekerjaan rumah telah dilatih sejak mereka SD. Memasak juga bukan hal sulit di Jepang, hampir semua anak baik laki-laki maupun perempuan dipastikan bisa memasak, karena di sekolah pelajaran memasak selalu ada. Namun peran ibu sangat dominan di Jepang, bahkan dalam urutan mandi ofuro, dimana air digunakan bergantian oleh anggota keluarga, maka ibu mendapat giliran terakhir dengan tujuan setelah itu bisa membersihkan bak mandi.

Ketika anak lulus SMA, fasilitas pelayanan dari orang tua akan berhenti. Apalagi ketika kuliah tidak di kota yang sama dengan mereka tinggal. Mereka harus mandiri, termasuk berpikir bagaimana membayar biaya kuliah dan mencari biaya untuk hidup berikutnya. Beberapa masih memperoleh uang kiriman, namun dengan jumlah yang relative tak cukup untuk biaya mereka sehari-hari. Solusinya adalah hutang kepada negara untuk membayar biaya kuliah serta kerja paruh waktu (arubaito) untuk biaya hidup mereka. Hutang akan dibayar dengan cara mengansur ketika mereka sudah bekerja. Kalau beruntung karena berprestasi atau kemudian menjadi pegawai negeri, mereka tidak perlu membayar hutang tersebut. 

Beberapa hari yang lalu si Yuki telah harus mandiri, dengan dimulai tidak lagi adanya obento dari ibunya. Sebentar lagi dia kuliah dan harus hidup dengan mandiri, tugas orang tua telah selesai. Berikut ini surat di obento si Yuki yang beredar di sosial media di Jepang dengan berbagai komentar:

To Yuki

We’have come to the final bento of your high-school life. Thank you for eating each and every one. Through these bentos we were able to communicate more. I don’t know when I’ll have the opportunity to make a bento for you again, so I hope you really enjoy this one. Your high school life was lots of fun, wasn’t it? There’s only a little time left, so enjoy it with your friends.

Memang tidak semua kehidupan di Jepang seperti itu, namun apa yang kita sering lihat di film dan komik adalah gambaran umum Jepang. Ada yang baik dan ada pula yang tak perlu di contoh. Kemandirian anak di Jepang setelah SMA yang mungkin agak berbeda dengan di Indonesia, kadang sampai menikah dan punya anak masih ada yang bergantung dengan orang tua. Di Jepang, usia dua puluh tahunan sudah dianggap dewasa. Pada usia itu remaja Jepang sudah diperbolehkan merokok dan minum alkohol selain konsekuensi harus mencari uang sendiri.

 

Salam dari Utsunomiya…

Sumber (gambar): rocketnews24.com