Mohon tunggu...
Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Mohon Tunggu... Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Daun-daun Luruh

7 Oktober 2020   11:41 Diperbarui: 7 Oktober 2020   11:46 41 17 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi | Daun-daun Luruh
ilustrasi hutan pinus - backpackerjakarta.com

Dulu kutulis puisi meski lupa kusertakan titik, pada saat mana mestinya tak ada ucap lagi agar tak terbaca orang bahwa aku sedang mengantuk. Itu jelang tengah malam, padahal seharian banyak kegiatan harus rampung, hingga tubuh lunglai. Kalau bukan demi kamu, tak akan kutulis puisi itu.

Puisiku hanya kata-kata biasa dan tak menarik, dan coba kubikin utuh sekadar biar kamu tahu, tapi tidak untuk memantik rasa cemburu. Puisiku hanya siulan lirih, juga gumam tak pasti. Untuk mengingatkanmu pada dedaunan luruh, pada bukit jauh, ke mana kita pernah dipertemukan dalam acara sekolah.

Lalu puisi demi puisi seperti daun-daun pinus, kucoretkan serupa jarum menembusi setiap arah, untuk akhirnya jatuh bersama angin kemarau bulan Oktober. Lebih empat puluh tahun daun-daun itu terbaring pada permukaan tanah lembab, bertumpuk-tumpuk menjadi humus di mana kini aku terduduk letih.

Biarkan kukenangkan sendiri gurat keriput pada sekujur tubuh, mungkin menunggu atau ditunggu. Boleh jadi terpaku pada semua bayangan lewat. Juga sesosok ringkih serupa kamu. Tapi kini tak mampu kutulis puisi, jangan lagi merdu sepenuh rasa melagukannya seperti maumu. ***

Cibaduyut, 7 Oktober 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x