Stephanus Ivan
Stephanus Ivan Dosen

Nama lengkap: Stephanus Ivan Goenawan (SIG).\r\nSebagai Penemu Metris: Ilmu Hitung Penyempurnaan cara Tradisional/Vertikal & Dosen FT Univ. AtmaJaya.\r\nPada tahun 2009 telah memperoleh penghargaan dari Muri sebagai penemu Metris. \r\nPenghargaan Kemenristek Tahun 2010: Penyempurnaan Ilmu Hitung di Dunia via Metris. Penulis Buku: Gen Metris, Mencetak Einstein, Metris Perkalian, Pangkat, Pembagian Ajaib. (sigmetris.com)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Metode Metris Menjadikan Matematika Lebih Mudah

17 Oktober 2012   11:49 Diperbarui: 11 Agustus 2015   20:50 569 0 0
Metode Metris Menjadikan Matematika Lebih Mudah
13504743491761561777

12 April, 2012 - 13:41 by dedy

[caption id="attachment_204538" align="alignleft" width="300" caption="Seminar Matematika Metris di UNY"][/caption] Penguasaan ilmu hitung atau aritmetika saat ini masih menggunakan cara konvensional atau vertikal yang sangat membosankan karena hanya melatih logika berhitung saja.  Hal inilah yang merupakan salah satu sebab mengapa para siswa menjadi kurang tertarik pada angka yang lalu menyebabkan kebanyakan siswa fobia terhadap matematika.  Untuk mengatasi masalah tersebut, saya mengusulkan sebuah metode hitung penyempurna cara vertikal yang lebih mudah, efektif dan efisien menggunakan metode horisontal (Metris). Metris merupakan metode hitung selain mengasah logika hitung (Otak Kiri) juga mengasah kemampuan kreativitas pengenalan pola (Otak Kanan) menggunakan Notasi Pagar.

Hal tersebut dikemukakan oleh Stephanus Ivan Goenawan, Creator of  Metris dari Universitas Atma Jaya Jakarta pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika yang diselenggarakan oleh Himatika FMIPA UNY, baru-baru ini di ruang sidang fakultas.

Dalam makalahnya yang berjudul Metris: The Best Arithmetics For Education Be The Center Knowledge of Arithmetics in The World,  Ivan Goenawan mencontohkan perhitungan menggunakan Metris yaitu  94 kuadrat adalah 9^2|2x9x4|4^2 = 81|72|16 = 8836. Ketentuan untuk notasi pagar metris adalah banyaknya angka harus sesuai dengan jumlah pagar di sebelah kirinya. Oleh karena itu pada kotak kedua dan ketiga angka tujuh dan satu masing-masing dipindah ke kotak pertama dan kedua lalu dijumlahkan dengan angka yang telah ada sebelumnya pada kotak tersebut. Sehingga hasil akhirnya diperoleh delapan ribu delapan ratus tiga puluh enam.

“Salah satu keunggulan Metris dibanding cara hitung vertikal yang telah digunakan oleh manusia selama berabad-abad adalah mampu merubah cara pandang kita terhadap eksekusi bilangan. Dalam alam berpikir konvensional eksekusi kuadrat bilangan yang angkanya lebih besar akan menjadi lebih susah, namun pada Metris tidak selalu demikian justru sebaliknya, dapat lebih mudah,” lanjutnya

Sebagai penyempurna ilmu hitung saat ini, ternyata berhitung menggunakan Metris mampu membuat siswa belajar dengan aktif dan gembira karena tertarik, menyukai, dan senang dengan penggunaan Notasi Pagar pada “Metode Horisontal” (Lina Herlina, Pendidik).  Oleh karena itu, apabila Metris dapat masuk ke dalam kurikulum pendidikan nasional maka Indonesia akan mampu berada satu langkah di depan dibandingkan negara serumpun kita malaysia bahkan dengan negara-negara lain di dalam bidang Ilmu Aritmetika.

Ditambahkan, kemampuan siswa mengenal keteraturan pola angka juga dapat dikembangkan melalui portal-portal metode horizontal. Melalui kemampuan ini Metode Horizontal mampu menciptakan creative human calculator siswa mampu lakukan perhitungan perkalian melebihi kemampuan kalkulator 12 digit. Kemampuan ini bukan lagi merupakan bakat sejak lahir (gifted), tetapi dapat dipelajari melalui Metris sehingga potensi kreativitas siswa dalam berhitung semakin terasah. (witono)