Mohon tunggu...
Sigit Eka Pribadi
Sigit Eka Pribadi Mohon Tunggu... #Jadikan pekerjaan itu seni dan hobi#Dulu membidangi Humas dan Media#Sekarang Membidangi Seni dan Hiburan#

#Menulis sesuai suara hati,kadang kritis,tapi humanis,berdasar fakta dan realita#Kebebasan berpendapat dijamin Konstitusi#Jangan membungkam#

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Hai, Kalian yang Duduk di Singgasana itu

13 Februari 2021   14:27 Diperbarui: 13 Februari 2021   14:56 472 66 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi | Hai, Kalian yang Duduk di Singgasana itu
Ilustrasi gambar | Dokumen Reuters/Toby Melville via Tempi.co

Hai.
Kalian yang duduk di singgasana bermahligai emas dan bertahta permata itu.

Dengarkanlah maklumat kami.
Akan kami congkel berpasang-pasang bola mata kalian.
Lalu kami kunyah dan telan taktersisa.

Atau.
Kami gelindingkan saja berserak laksana kelereng, hingga teronggok membangkai dimangsa semut.

Pun, gulita melingkupi kalian.
Pun, merontakan perih kalian. Takakan leleh nurani kami mengiba.

Itulah.
Jika murka kami mengubun-ubun.
Tatkala laku polah kalian, membuat sebutir beras pun taklagi bisa kami asup.

Maka.
Berpasang-pasang bola mata kalian, akan terasa gurih jadi pauk pengganjal perut kami.

Itulah sebabnya kenapa.
Jangan sampai kalian lingkupkan sepasang bola mata itu dengan mengatupkan kelopak-kelopaknya, tatkala ketakadilan mendera kami.

Tapi.
Tidak.
Bukan.
Kami tidak dan bukan seperti itu.
Itu hanyalah senda dan gurau belaka.

Sejatinya.
Kami hanya ingin kalian selalu membijak.
Menyenyawakan segenap panca indra dan kasat jasmani melebur dengan ruh kalian.
Selalu membuka mata hati dan menguak kelopak nurani.

Sehingga.
Kalian selalu wawas tentang siapa kami.
Bahwa kami sejatinya ada di antara kalian.

Hai.
Kalian yang duduk di singgasana bermahligai emas dan bertahta permata itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x