Mohon tunggu...
shinta tedjaningsih
shinta tedjaningsih Mohon Tunggu... Lainnya - work at travel industry

Happy wife happy mom likes traveling, hiking, cycling and photograph

Selanjutnya

Tutup

Trip Artikel Utama

Menggapai Atap Dunia, Everest Base Camp 5365m

23 Juli 2021   22:44 Diperbarui: 24 Juli 2021   21:33 2126
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
porter yang membawa barang keperluan sehari2 : foto dokumentasi pribadi

Kathmandu adalah sebuah kota eksotik, kota yang berpenduduk ramah. Budaya Hindu Budha yang kental,  beralkurturalisasi dengan budaya kota dunia dan bersinggungan baik dengan para turis di seluruh dunia,  terutama mereka yang punya hobi treking.  dan  pendakian pegunungan Himalayalah yang menjadi magnet bagi mereka. Saya sendiri sudah beberapa kali ke Kathmandu, namun ini kali pertama melakukan pendakian bersama  suami dan kakak saya.

Hari pertama di Kathmandu, kami berjalan-jalan di sekeliling Thamel,  sebuah pusat perdagangan tradisional yang sibuk, berbagai kios-kios suvenir sampai kios-kios alat perlengkapan pendakian yang lengkap ada di sana, surga bagi para pendaki untuk berbelanja. Merek-merek Outdoor Gear terkemuka semua tersedia dari yang asli sampai yang KW, dari North Face sampai North Fake bisa kita temukan.

Nongkrong di Thamel itu salah satu yang paling saya suka, sambil minum kopi di kedai menikmati suasana keramaian hilir mudik para pendaki, suasana yang sukar diceritakan dengan kata-kata.

Himalayan Java Coffee : starbucks nya Nepal , foto dokumentasi pribadi
Himalayan Java Coffee : starbucks nya Nepal , foto dokumentasi pribadi
Pagi hari menikmati sarapan di sebuah hotel kecil yang sarat pendaki. Ada perasaan ciut namun bangga bisa bersama dengan para pendaki International dari berbagai negara dengan proporsi tubuh mereka yang tinggi tinggi. Selepas briefing dengan perwakilan agent dan guide kami menuju bandara domestik Kathmandu untuk penerbangan menuju Lukla, kota/ desa awal pendakian ke Everest. 

Di depan Counter Check-in , orang  sudah-hilir mudik berseliweran. Suasana serasa berada dalam sebuah bazar para penjual outdoor equipment.  Berbagai merk lalu-lalang di sana ; The North Face, Osprey, Karrimor, Lowe; Alpine, Salomon, Under Armour, Columbia, Berghaus dll,  mulai dari sepatu di ujung kaki sampai aksesoris di ujung rambut ada semua. Day packs, Carriers juga duffle bag berserakan di segala sudut ruang.

suasana di bandara domestik Kathmandu : foto dokumentasi pribadi
suasana di bandara domestik Kathmandu : foto dokumentasi pribadi
Penerbangan dari Kathmandu ke Lukla, bukannya lancar tanpa halangan. Ada Beberapa maskapai yang melayani rute Kathmandu-Lukla, semuanya terlihat begitu sibuk  karena beberapa penerbangan mengalami keterlambatan termasuk Sita air, maskapai yang akan kami pakai. 

Tidak masalah, kami hanya delay 3 jam. Semua sabar menanti, karena kami sudah dibekali informasi mengenai faktor keterlambatan untuk penerbangan Kathmandu - Lukla selain teknical problem, faktor utama lainnya adalah cuaca. Saat tidak ada pesawat yang terbang dari Lukla, sudah pasti tidak akan ada penerbangan dari Kathmandu ke Lukla. Pembatalan penerbangan bahkan bisa juga berhari-hari.

Landasan Lukla begitu sempit dan pendek sekitar 527 meter saja, hanya bisa didarati pesawat kecil yang bermuatan maksimal 17 orang berikut crew.

Penerbangan Kathmandu - Lukla memakan waktu tidak sampai satu jam. Tapi semenjak take off adrenalin sudah mulai diobok-obok. Dornier 228 pesawat kecil berbaling-baling pontang-panting menembus lorong di antara celah pegunungan, disenggol turbulensi berkali-kali. Kami merasa seperti capung yang sedang mengembara di tebing jurasic, sementara berpasang mata pterosaurus seolah sedang menaksir, seberapa layak capung ini jadi menu sarapan mereka.

landasan yang pendek terlihat dari cockpit pesawat : foto dokumentasi pribadi
landasan yang pendek terlihat dari cockpit pesawat : foto dokumentasi pribadi
Setibanya di Lukla kami disajikan menu brunch di sebuah "cafe" merangkap guest house sambil menikmati lalu-lalangnya orang di jalan, para pendaki, porter juga kelontang bunyi lonceng yang tergantung di  leher yak pengangkut barang

Melihat daftar menu di cafe ini, kami mulai percaya dengan omongan orang  tentang menu makan bercita rasa berbagai bangsa yang tersaji di sepanjang jalur pendakian EBC. Piza, spagheti, berbagai macam soup, toast, sandwich, ramen dan beragam menu internasional lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun