Shanan Asyi
Shanan Asyi Dokter

Seorang dokter umum sekaligus penulis jurnal kesehatan

Selanjutnya

Tutup

Novel

[Perjalanan Hidup - BAB 8] Agam Ditemukan!

11 Januari 2018   18:39 Diperbarui: 11 Januari 2018   19:08 379 1 0
[Perjalanan Hidup - BAB 8] Agam Ditemukan!
agam-2-5a575425caf7db6aae7dd522.jpg


ku duduk di depan dosen itu sambil memperhatikan lembar skripsi ku. Di bimbingan kali ini hanya sedikit yang ia coret. Syukurlah, tampaknya BAB 2 ku tidak terlalu bermasalah hari ini. Aku ingin secepatnya beralih ke BAB 3.

            "Sudah lumayan baik." Kata Bapak itu sambil menatapku dibalik kacamata bacanya. Ada beberapa kalimat dan kata yang harus diganti, tapi overall bagus.

            Alhamdulillah. "Jadi sudah bisa ke BAB 3 pak?"

            "Ya bisa untuk bimbingan selanjutnya kamu revisi yang perlu di revisi kali ini dengan kerjakan BAB 3 ya." Bapak itu tersenyum. "Ya oke kamu sudah boleh pulang."

            "Terimakasih pak." Aku berdiri lalu mencium tangannya.

            Aku membuka pintu lalu keluar ruangan. Akhirnya beranjak ke BAB 3, batihnku sambil menghela nafas. Dengan wajah riang aku berjalan menuju kantin lalu duduk disana. Memesan menu favorit seperti biasa, lalu mengecek handphone menunggu makanan dihidangkan.

            2 pesan belum dibaca.

           Aku membukanya. Satu dari temanku, dan satu dari adikku. Setelah membacanya aku meletakkan kembali handphone di atas meja. Fadli menanyakan kapan pulang kembali ke Empetrieng, aku belum bisa membalasnya saat ini , masih ada beberapa tugas yang harus diselesaikan.

            Berjalan dengan santai di jalanan utama kampus, aku kembali melihat Bapak yang pernah menjual mainan ultraman kepadaku beberapa  tahun yang lalu. Mainan yang kuberikan kepada Agam.

            Agam, bagaimana kabarnya sekarang ya? Apa dia sehat? Sudah 2 tahun sejak hari itu. Saat ia pergi meninggalkan rumahnya tanpa jejak yang membuat seisi kampung heboh. Sanak saudara dan tetangga tidak ada yang melihatnya. Kabar telah sampai ke polisi, dan pamflet telah disebar dimana-mana. Namun tetap saja tidak ada kabar.

            Entah mengapa ia pergi, padahal dia anak yang begitu manis. Aku selalu ingat hari dimana dia lahir, hari ketika kebahagiaan tumpah ruah di dalam ruangan itu.

            Bayangkan sudah 6 tahun pasangan  itu berharap punya anak, akhirnya doa mereka terjawab. Namun Agam yang hilang membuat Cecek dan Yahcek saling menyalahkan.

            Aku jadi teringat sekali dengan saat itu. Saat mainan Ultraman itu sampai ke tangannya, ia terlihat begitu bahagia.

            Dan kini, aku hanya bisa mendokan dia tetap sehat.

            Makanan yang kupesan telah datang. "Makasih pak." Kataku tersenyum manis. Nasi goreng, salah satu makanan kesukaan Agam. Aku jadi ingat pagi dimana ia makan nasi goreng pertama buatanku. Ia terlihat sangat bahagia.

            "Enak cutda." Katanya yang waktu itu masih berusia 4 tahun.

            Terlalu banyak melamun, aku sebaiknya segera makan nasi gorengku, nanti keburu dingin.

            Setelah makanan habis, aku meminum teh manis ku.

            Kenyang sekali, sebaiknya aku segera pulang untuk mengedit skripsiku yang belum kelar  ini.

            "Anda." Panggil seseorang dari belakangku.

            Aku menoleh, Satria, senior yang paling kukagumi.

            "ia bang?"

            "Dari mana?" ia bertanya dengan wajahnya yang tampan.

            "Dari kantin bang, sekarang mau balik ke kos."

            "Gimana bimbingannya."

            "Alhamdulillah masih harus revisi beberapa bang di BAB2 tapi sekarang  harus lanjut ke BAB 3."

            "Oke semangat ya." Katanya menyentuh pundakku.

            "Iya bang." Lalu ia berlalu.

            Bang Satria, seorang yang kuharap akan menjadi imamku nantinya.

            ****

            Sudah jam 6 sore, 1 jam lagi adzan maghrib, aku belum membuat bab 3 sama sekali. Sedari tadi aku hanya merevisi bab 2 dan mulai mendownload jurnal-jurnal.

            Aku beranjak ke lemari, mengambil baju yang akan  kupakai malam ini, lalu mandi sore. Selepas mandi aku siap-siap untuk ke Mesjid.

            "Allahuakbar." Adzan berkumandang. Aku melangkahkan kakiku untuk bercengkrama dengan sang pencipta.

            Selepas magrib dilanjutkan dengan shalat Rawatib. Namun ada satu hal yang mengagetkanku. Ketika aku baru memakai sandal, tidak salah lagi. Anak yang ada di depan mataku. Itu kan agam? Bathinku.

            Ia menggunakan motor lalu beranjak dari depan Mesjid dengan seorang Bapak-bapak.

            Tidak salah lagi Agam. Aku berhasil menemukannya, aku berhasil melihat adik sepupuku. Mukanya persis seperti dulu, hitam manis yang berbeda hanya rambutnya dan tinggi badannya. Rambutnya panjang dan badannya juga mulai meninggi, ia mulai  beranjak ke usia remaja.

            Namun tidak lama aku melihatnya ia terlebih dahulu pergi. Apa ia juga shalat di mesjid ini?

            Aku bergegas pulang. Kakiku melangkah dengan cepat menuju kosan. Segera kutelpon cecek.

            "Iya Anda Assalamualaikum."

            "Cek!."

            "Ia Anda?"

            "Anda tadi lihat Agam."

            "Hah ia? Masya Allah. Dimana?"

            "Di mesjid kampus cek. Di Darussalam."

            "Terus kamu sempat ngomong dengannya?"

            "Ga sempat cek dia keburu pergi."

            Pikiranku berkelebat. "Besok Anda coba lagi cek, mana tau Agam shalat di mesjid itu lagi."

            "iya Anda coba perhatikan besok."

            Setelah telpon tutup, aku pusing. Revisi, kehadiran Agam Aku putuskan untuk tidur lebih awal.

                        ****

            Pukul 03.00 aku terbangun dengan kepala yang masih sangat pusing. Sepertinya efek revisi terhadap otakku sangat hebat. Aku menuju dispenser dan meminum seteguk air. Kemudian berwudhu dan shalat tahajud.

            Tuhan izinkan aku untuk bisa menemui adik sepupuku kembali

            Setelah berdoa aku kembali ke depan leptop untuk melanjutkan revisi. Namun aku susah sekali berkonsentrasi kali ini. Kenangan tentang Agam berkelebat dalam benakku. Kemana sebenarnya kau Agam?

            Pukul 04.00 alarmku mulai berbunyi. Aku memencet tombol stop di alarm lalu merenung sesaat, melihat ke luar jendela. Seasaat aku melupakan Agam dan mulai berpikir untuk diriku sendiri, mulai memikirkan masa depanku. Setelah tamat aku harus kemana? Lanjut s2? Jadi dosen? Untuk melanjut s2 aku butuh mencari beasiswa. Aku tidak ingin merepotkan orang tuaku lagi.

            Setelah selesai shalat subuh aku tertidur. Sangat nyenyak sekali sampai-sampai aku lupa bermimpi apa. Jam 9 aku terbangun dengan panik, hari ini kelas masuk jam 10. Aku segera mandi lalu bersiap-siap ke kampus.

            Ketika labi-labi yang kunaiki melewati mesjid kampus aku jadi kembali teringat untuk mencari Agam hari ini. Sebaiknya setelah pulang kuliah aku langsung ke mesjid ini.

            Hari ini materi yang paling tidak kusukai, etologi, ilmu yang mempelajuri perilaku mahluk hidup. Aku melihat papan tulis dengan tatapan kosong, sepertinya ilmu yang kudapat hari ini bakal menguap seluruhnya.

            Jam 12.00 kuliah selesai. Aku makan di kantin dengan memesan mi instant telor. "Anda." Seseorang mengejutkanku. Itu Mira teman sekosanku.

            "Kok makan indomie?" tanyanya

            "Lagi menghemat pengeluaran." Kataku.

            "oh," ia berkata. "Sudah selesai kuliahnya?"

            "Sudah."

            "langsung pulang?"

            "Ia." Tentu aku tidak perlu menjelaskan padanya jika aku ingin ke Mesjid as-salam untuk mengecek adik sepupuku.

            Mira langsung pergi begitu indomi ku habis, ia ada rapat organisasi katanya.

            Aku melangkah perlahan menuju Mesjid, semoga Agam ada disini bathinku. Gedung fakultas dengan mesjid itu tidak terlalu jauh hanya 300 meter. Aku cukup melangkahkan kakiku agar sampai ke mesjid itu.

            Sepertinya hari ini benar-benar diberkahi. Ketika aku melangkah di tangga mesjid, aku melihat anak itu. Ia sedang shalat. Akhirnya aku menemukanmu Agam.

            Aku menunggu Agam di teras mesjid. Lalu anak itu keluar. "Cutda." Katanya terpaku melihatku.

            Namun setelah menyebut namaku ia mencoba menghindar. Lalu  menuju motornya yang terparkir di halaman. Aku mengejarnya, ia tidak boleh kabur. Aku berhasil memegang tangannya. Ia berhenti.

            "kemana saja kamu selama ini." Aku berkata dengan emosi yang meluap-luap.

            "Ia masih disana",.

            "Cecek dan Yahcek capek mencarimu tau."

            "Maaf cutda." Ia berkata dengan tampang sedih. Aku mulai kebingungan harus menjawab apa.

            Akhirnya dengan segala upaya aku berhasil membujuknya untuk menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya. Aku mengajaknya ke kosanku, lalu kami mulai berbicara. Ia mulai bercerita apa yang terjadi pada kehidupannya. Apa yang membuat ia kabur dari rumah, dan apa yang ia alami setelahnya.