Mohon tunggu...
Himatul Awaliyah Putri
Himatul Awaliyah Putri Mohon Tunggu... Lainnya - Pembelajar

Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Universitas Diponegoro.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Fenomena FOMO di Kehidupan Kampus dan Cara Mengatasinya

18 Oktober 2021   17:07 Diperbarui: 19 Oktober 2021   07:17 4030
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Halo sobat mahasiswa, apa kabar kalian minggu ini? Banyak tugas? Mau UTS? Nggak apa-apa kok, mengeluh boleh, asal jangan menyerah ya! 

Pernahkah kalian mengalami rasa kekhawatiran akan tertinggal dengan pencapaian orang lain? Jika iya, berarti kalian sedang berada dalam keadaan FOMO. Jadi, apa yang dinamakan FOMO? 

Fear of Missing Out (FOMO) adalah suatu bentuk perilaku kekhawatiran yang muncul ketika orang lain yang kita ikuti kesehariannya memiliki pengalaman yang lebih memuaskan atau berharga. Fenomena yang terjadi pada individu yang sudah menginjak usia remaja dikalangan pelajar dan mahasiswa. FOMO ditandai dengan keinginan untuk tetap terhubung dengan apa saja yang orang lain lakukan atau miliki dan ketakutan bahwa memutuskan untuk tidak berpartisipasi adalah pilihan yang salah. 

FOMO semakin menjadi-jadi, salah satunya adalah karena penggunaan media sosial yang berlebihan. Alhasil kita disibukkan dengan berbagai hal yang sebenarnya bukan merupakan kebutuhan kita, hal tersebut mengaburkan kita dengan standar pencapaian dan tujuan pribadi yang sebenarnya

Lalu, bagaimana itu bisa terjadi pada kehidupan mahasiswa?

Kehidupan mahasiswa tentu tidak terlepas dari bertemu dan mengenal banyak orang dengan latar belakang dan karakteristik yang berbeda sehingga memiliki pencapaian yang berbeda pula. Mahasiswa juga diindikasi sering melihat keberhasilan atau kesenangan hidup yang dialami sesama teman atau mahasiswa lainnya bahkan yang tidak dikenali. Hal ini membuat mahasiswa berambisi terlalu tinggi dengan memaksa diri melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak disukai. 

Selain itu, FOMO yang merupakan perasaan takut ketertinggalan menyebabkan mahasiswa harus intens dengan sosial media. Kondisi ini diperparah dengan kegiatan belajar secara daring yang mana semua informasi didapat dari sosial media. 

Dampak FOMO bagi mahasiswa bisa menimbulkan stres, khawatir berlebihan, memiliki citra diri yang buruk hingga membuat keputusan-keputusan yang merugikan. Penelitian juga menunjukkan bahwa FOMO dapat merugikan kesehatan mental dan membuat mahasiswa merasa kesepian serta kurang mengasihi diri sendiri. Mengenai dampak negatif yang ditimbulkan adalah mengganggu produktivitas. Dampak lainnya seperti meningkatkan risiko terjadinya masalah psikologis dan menimbulkan perasaan negatif pada diri sendiri.

Kiat-kiat mengurangi dampak negatif Fear of Missing Out (FOMO) yang dapat dijalankan bagi mahasiswa agar dapat menghindari dampak negatif dari FOMO, di antaranya: 

  1. Membatasi Penggunaan Gawai

Kuliah daring dapat meningkatkan screen time lebih lama, untuk itu mahasiswa harus bijak menggunakan aplikasi-aplikasi yang memang kurang penting. Jika ingin mengecek media sosial (Tiktok, Instagram, dll) tentukan jam dan berapa lama setiap harinya. Membatasi penggunaan gawai jika tidak digunakan untuk kebutuhan kuliah atau organisasi mengisi kegiatan lain yang menyenangkan, misalnya membaca buku, menggambar, mendengarkan musik, dan aktivitas positif lainnya. Mahasiswa juga harus melakukan me time bagi diri sendiri setelah menghabiskan waktu seharian untuk kuliah daring atau sekadar mengerjakan tugas.

  1. Detoks Media Sosial

Detoks media sosial adalah sebuah upaya secara sadar untuk membatasi penggunaan media sosial selama periode waktu tertentu. Detoks media sosial bisa membantu menjaga kesehatan mental. Hubungan antara sosial media dengan kesehatan mental seseorang telah menjadi hal yang menarik untuk diteliti dan banyak ahli sudah melakukannya. Pengguna aktif media sosial rentan mengalami gangguan kesehatan jiwa. Misalnya, cemas, kesepian, depresi, hingga gangguan fokus dan konsentrasi.

  1. HALAMAN :
    1. 1
    2. 2
    Mohon tunggu...

    Lihat Konten Healthy Selengkapnya
    Lihat Healthy Selengkapnya
    Beri Komentar
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

    Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun