Satyadhiswara
Satyadhiswara NyuPir AngKot

Tinggal di Bantul. Anak jaman (Jawa-Mandailing) dan pujakesuma (putra Jawa kelahiran Sumatera).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Yang Murni, yang Menipu, dan yang Membangkang

8 Maret 2018   22:38 Diperbarui: 8 Maret 2018   22:41 387 1 0
Yang Murni, yang Menipu, dan yang Membangkang
Sumber Gambar: www.hipwee.com

Rasanya perlu untuk kita memurnikan niat; jujur kepada orang lain, diri sendiri, maupun kepada Sang Pencipta.

Apa memang sekarang kita hidup tak lagi pakai hati? Padahal ketika niat itu murni berasal dari hati, di situ tak ada lagi yang lebih transparan daripadanya.

Ada orang yang sekedar mengatakan sesuatu dengan inderanya saja; tidak sampai pada pikiran dan hati. Kalau begini keadaannya, dia bisa saja tak jujur pada dirinya sendiri karena hati dan pikirannya tidak meng-iya-kan perkataannya.

Ada juga yang pikirannya meng-iya-kan, tapi tidak dengan hatinya. Dia bisa jujur kepada dirinya, tapi tidak kepada Tuhan. Dari hal semacam itu, persoalan batiniah kita --yang itu berimplikasi terhadap tindakan--- memanglah sangat kompleks. Bukan hanya menipu orang lain, tapi juga diri sendiri, bahkan Tuhan.

Kalau konstelasi dalam hidup semakin kacau, semakin bermasalah, rasanya kita tak bisa begitu saja mengabaikan persoalan niat dan kemurniannya. Apakah kita cenderung melihat sisi internal dirinya, atau sisi eksternal, ini jelas berpengaruh karena sisi-sisi tersebut tidak sama kalau saja kita bisa menemukan wilayah suci pada diri kita. Di situlah seorang manusia akan menemukan kembali siapa dirinya dan  berusaha kembali kepada fitrahnya sebagaimana dirinya yang memang lahir dalam keadaan suci tanpa dosa.

Tapi kalau yang dilihatnya hanya dunia yang penuh kerancuan, dimana keburukan selalu kita saksikan setiap hari, dan dia tidak memiliki prinsip, tak memiliki ego untuk membentengi dirinya sendiri dari pengaruh-pengaruh luar, potensinya sangat besar hal itu akan menghijabi, mengotori kemurnian niat pada hatinya.

Apalagi di zaman seperti ini, kalau tak pandai memisahkan mana hitam-putihnya sesuatu, mana bisa kita tahu apa yang dilakukan orang lain terhadap diri kita. Memang kita harus berprasangka positif. Tapi tidak selamanya kita bersikap demikian kalau suatu keburukan sudah di depan mata. Kalau sudah jelas tercium bau korupsi, ketidakadilan dan lain sebagainya, dimana itu terlihat jelas, jangan campurkan hal itu dengan nilai-nilai kebaikan, apalagi untuk membenarkannya.

Apalagi di saat ini orang-orang tak lagi malu melakukan keburukan. Tak lagi malu mengatakan yang tak pantas. Tak lagi malu melakukan apa yang dilarang --apakah itu norma-norma agama atau budaya. Bahkan hal semacam itu sudah dilakukan secara terbuka melalui media. Semoga saja kita tak menganggap itu sebagai hal yang biasa. Mereka pun bukan hanya orang-orang yang tak sekolah. Mereka berjas, berdasi, berpenampilan rapi, dan menjabat suatu jabatan --apkah itu dalam konteks politik atau yang lainnya.

Entah apa yang kita saksikan saat ini. Entah apa yang ada di dalam diri mereka. Bukannya kita sebagai manusia harus tahu mana baik mana buruk, juga mana yang benar dan mana yang salah?

Tak bisa dinafikan kalau kita adalah makhluk suci yang kemudian menjadi hina lantaran berada dalam kerancuan, keburukan, yang ada di sekitar kita pada kehidupan yang merupakan ciptaan Tuhan yang paling rendah kualitasnya ini. Kita bukan manusia yang lahir dalam tumpukan sampah. Memang kita dari tanah  --yang itu kemudian diremehkan iblis lantaran dia diciptakan dari api. 

Tapi bukan berarti tak ada kesucian pada diri kita. Saya kira setiap orang yang mengetahui fitrah dirinya pasti akan berusaha untuk kembali membersihkan dirinya. Barangkali, pun bukan cuma lantaran dia mengetahui fitrah dirinya tadi, melainkan karena dia tahu mana baik-buruk, sehingga kemudian dia memilih apa yang baik, yaitu kebaikan dan kebenaran.

Memang ini soal prinsip dan orientasi. Prinsip dan orientasi yang mengendap setelah melalui proses pengolahan akal dan perasaan, dimana hal itu kemudian mempengaruhi tindakan seseorang.

Hatinyalah yang akan membuat pikiran dan raganya melakukan apa yang diniatkannya. Itu secara internal, dari  dalam ke luar.

Hati inilah yang akan memimpin sehingga akal pikiran dan raga/indera menurut pada perintahnya. Tidak ada lagi pembangkangan. Tidak ada lagi penolakan atas Tuhan maupun diri sendiri. Dimana lagi muara itu kalau bukan pada hati?

Tapi pikiran kita pun seringkali menafikan perasaan. Kalau sudah begitu, sudah mengakali. Pikiran kita bisa membolak-balikkan kebenaran. Keburukan bisa dibungkus jadi terkesan baik dan benar. Kalau kita tak tahu hakikat atau apa yang ada di balik sesuatu, yang terlihat hanyalah penampakan lahiriahnya saja. Bahkan pikiran pun bisa saja, dan seringkali, menaklukan diri seseeorang dan memerintahkan padanya. Ini terjadi kalau dia tidak menaklukkan keliaran pikirannya sendiri dan dia tidak memiliki prinsip yang semestinya. Dia berprinsip pada pikirannya sendiri dan bukan kepada Tuhan.

Dimana lagi kebenaran itu kalau bukan padaNya?