Humor

Bada-bada Jadi Bada-budu

13 Juni 2018   15:40 Diperbarui: 13 Juni 2018   15:51 567 0 0
Bada-bada Jadi Bada-budu
(sumber: steemit.com)

Pagi itu selepas para ibu belanja dari pasar ada rapat ibu-ibu para pengurus Dawis serta pengurus simpan pinjam ibu-ibu warga RT. Mereka ramai membicarakan pencairan dan pembagian tabungan lebaran. Buntutnya, Mbok Banjir jadi bada-budu sama Pak Banjir yang lagi membersihkan kandhang burung.

"Aduuh, Pak, enggak jadi lebaran, nih! Bagaimana, ini  ... Pak " Mbok Banjir memeti seperti ayam babon mau bertelur.

"Lha ... lha ... sabaaar Mbok ... sabaar! Ada apa si sebenarnya?" Pak Banjir menenangkan sambil membetulkan sarungnya yang melorot.

"Duit tabungan ibu-ibu RT tidak bisa dibagi. Ada  anggota yang tidak  bisa nglunasi utang. Nggak bisa buat rendang dan kacang bawang, nih Pak, buat lebaran!"

Warga RT, khususe ibu-ibu memang punya koperasi simpan pinjam. Sebenarnya tiodak tepat disebut koperasi karena setiap tahun yaitu menjelang lebaran semua tabungan dibagi ludes tanpa sisa. Untuk tahun berikutnya, menabung lagi.

"Lha, yang enggak bisa nglunasi utang, siapa si? Kan,  bisa ditomboki terlebih dulu seperti biasanya, jadi  tabungan bisa dibagi?"

"Tidak hanya satu, Pak. Kali ada lima orang. Lalu itu, Bu Endra, langganan nunggak setiap  lebaran, kalau mau mbagi tabungan. Enyong, sebenarnya kasihan, tapi bagaimana lagi, mau buat untuk lebaran, ko!"

Sedang lagi padha grundhengan bab tabungan simpan pinjam yang kemungkinan tidak bisa dibagi, datanglah Mas Wahyu mau pinjam gergaji.

"Assalamualaikum .... Nuwun sewu, Pak Banjir, saya mau pinjam gergaji. Anu, buat mangkas pohon mangga depan rumah. Lho, ini lagi mbahas soal apa si, kelihatannya serius amat, Mbok Banjir? "

"Walaikumssallammm ..... Oh, Mas Wahyu. Mari-mari ... ini lho, jan enggak bisa bada! " Mbok Banjir grapyak menyambut Mas Wahyu sambil mencari gergaji di bothekan perkakas tukang.

"Tidak bisa lebaran ? Kenapa si, Mbok Banjir ?"

" Lha, ini, wong wadon, ibu-ibu isinya  mung ribut saja  bab duit yang buat nati badan atau lebaran. Ada anggota simpan pinjam yang enggak bisa melunasi utang!" jawab Pak Banjir sambil memberikan gergaji pada Mas Wahyu.

"Nah, mengenai  masalah ini, jan pasti saben  tahun menjelang mau bada, banyak  anggota simpan pinjam yang enggak bisa mengembalikan pinjaman. Padahal duit tabungan anggota ini, nantinya akan  dibagi untuk bada! " Mbok Banjir terus cerita nyerocos tentang simpan pinjam ibu-ibu RT.

Tabungan lebaran yang  dikelola ibu-ibu RT memang laris manis dipinjam-pinjamkan. Kelompok ibu-ibu kaya yang banyak duit doyan nabung banget. Malah, oncor-oncoran. Nah, yang sekeng, kekurangan, doyan pinjam. Pinjam terus tanpa memperhitungkan kemampuan. Celakanya, bunganya, kalau dihitung-hitung melebihi bungan bank. Pada praktiknya, semangat dan roh koperasi tidak dijalankan.

Simpan pinjam ibu-ibu Dawis atau Dasa Wisma ibu-ibu RT ini nyaris menyangi bank plecit. Kasihan adalah korbannya, ibu-ibu kurang mampu dan kurang perhitungan. Pusing tujuh keliling menjelang lebaran, harus gali lubang sana-sini untuk menutup pinjaman. Bukannya lebaran tapi bubaran. Bada-bada dadi bada-budu.

"Oooh ... begitu toh ceritanya " guman Mas Wahyu manggut-manggut.  "Sebenarnya ini menyalahi hakikat koperasi. Bunganya tidak sebesar itu dan yang dibagi hanya tabungan suka rela. Sebaiknya si semangat gotong royong, saling tolong menolong yang diutaman. Koperasi memang perlu profit, tetapi jangan terlalu komersial, apalagi mencekik!" Mas Wahyu kaya lagi ngajar di kelas.

"Bunga yang tinggi itu yang disenangi, ko! Tabungan jadi  berlipat ganda, itu yang menyebabkan laris manis!" Mbok Banjir menyelani Mas Wahyu.

"Itu rentenir! Maka jadinya, yang mlarat yang jadi korbannya!" Clethuk Pak Banjir. "Arep bada, malah dadi bada-budu. Lalu, ini bagaimana, Mas Wahyu? " Pak Banjir bertanya.

"Ini harus menjadi perhatian kita semua, khususnya paratokoh masyarakat . Pak RT, Pak RW, pak Lurah harus berusaha menyadarkan arti penting koperasi kepada para ibu. Juga kepada para ibu, jangan suka hidup berpola konsumtif, sesuaikan kemampuan. Nah, jadi, jangan biarkan praktik mendreng ada pada lembaga RT" Mas Wahyu mengakhiri uraiannya dengan gaya guru sambil minta pamit.