Mohon tunggu...
Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Mohon Tunggu... Penulis, Jurnalis Independen

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata .... https://web.facebook.com/wahyuni.susilowati

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Filipina Akan Mengakhiri Kerja Sama Militer dengan AS?

14 Februari 2020   09:07 Diperbarui: 14 Februari 2020   09:25 57 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Filipina Akan Mengakhiri Kerja Sama Militer dengan AS?
Presiden Filipina Rodrigo Duterte bermaksud mengakhiri kerjasama militer dengan AS (doc.Al Jazeera)

Perwira tinggi militer Washington di kawasan Asia-Pasifik Laksamana Philip Davidson mengatakan ia berharap Presiden Filipina Rodrigo Duterte bersedia mempertimbangkan kembali keputusannya untuk membatalkan kesepakatan yang memungkinkan pasukan AS untuk berpangkalan di negaranya (AFP, 13 Februari 2020).

Sementara Presiden Donald Trump mengatakan bahwa dia 'baik-baik saja; dengan keputusan Duerte untuk mengakhiri perjanjian kerjasama militer dengan AS karena akan membuat AS 'menghemat banyak uang', namun Davidson menegaskan hal itu akan menghambat operasi militer di pulau Mindanao, kampung halaman Duterte, tempat kekerasan separatis yang telah menewaskan sekitar 100.000 orang.

Perjanjian akan berakhir dalam 180 hari ke depan dan Davidson berharap upaya diplomatik," ... bisa mencapai hasil yang sukses."Katanya pada sebuah acara di Sydney.

"Tanpa persetujuan (penempatan pasukan AS) itu, kami tidak bisa berbagi kekuatan untuk membantu Filipina dalam perang anti-kekerasan menghadapi ekstremis di selatan, kami juga tidak akan bisa melatih dan melakukan operasi militer bersama angkatan bersenjata Filipina."Davidson mencoba mengingatkan Duterte.

Meskipun kesepakatan damai penting dengan kelompok pemberontak terbesar, Front Pembebasan Islam Moro telah disahkan pada tahun 2019, namun perdamaian itu belum melibatkan faksi-faksi ekstremis yang aksinya paling brutal.

Kelompok-kelompok itu termasuk Bangsamoro Islamic Freedom Fighters (BIFF) dan Abu Sayyaf yang sering menggunakan modus operandi penculikan untuk mendapat uang tebusan. Kedua kelompok itu diduga berada di belakang beberapa serangan paling mematikan di negara itu.

Pada akhir Desember sedikitnya 17 orang , termasuk tentara, terluka akibat ledakan granat tangan ganda dan serangan 'improvised explosive device' (IED) di Mindanao.

Pengerahan pasukan AS secara bergilir di negara itu yang digabungkan dengan pakta pertahanan timbal balik yang telah berlangsung lama dan latihan militer reguler juga dipandang efektif sebagai benteng melawan meningkatnya pengaruh China di wilayah tersebut.

Davidson memuji upaya Indonesia dalam menangkal perburuan liar China di perairannya dan menyerukan kerjasama lebih lanjut antar negara-negara Pasifik.

"Saya optimis bahwa kawasan itu tidak hanya bangkit untuk merespon perilaku agresif (China) itu tetapi, yang lebih penting, mulai mengambil sikap menentang," katanya.

Dia memperingatkan Australia untuk mewaspadai ancaman pangkalan China di Pasifik yang berpotensi memproyeksikan pengaruh Beijing jauh melampaui perairan teritorialnya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x