syarifuddin abdullah
syarifuddin abdullah Pegawai dan dagang

Ya Allah, anugerahilah kami kesehatan dan niat ikhlas untuk membagi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Culinary

Cita Rasa "Rawon Rampal" di Malang

17 April 2018   12:30 Diperbarui: 17 April 2018   14:13 647 1 0
Cita Rasa "Rawon Rampal" di Malang
Dokumen pribadi, 15 April 2018

Ke Surabaya lalu geser ke Tuban. Tak genap rasa jika tak ke Malang. Jika main ke alun-alun Malang, mampirlah ke Waroeng Rampal, untuk merasakan cita rasa rawon, yang benar-benar rawon banget.

Rawon yang merupakan salah satu makanan khas Jawa Timuran dan sebagian wilayah Jawa Tengah bagian tumur termasuk genre sop daging, yang kuahnya berwarna hitam, yang sepintas terlihat "mirip comberan". Tapi, justru pada kuah hitamnya itulah terletak citarasa rawon.

Dan seperti biasanya, tiap kali main ke suatu kota, menurut pengalaman saya, narasumber paling akurat tentang wisata kuliner yang enak di kota itu adalah para tukang ojek atau supir taksi (reguler atau taksi online). Karena mereka inilah yang sering mengantar konsumen yang doyan menjajal masakan unik dan enak.

Ketika berada di kota Malang akhir pekan lalu, saya bertanya kepada tiga orang: supir taksi online, tukang ojek dan tukang Bentor (becak motor), dan ketiganya merekomendasikan saya menjajal masakan rawon di Waroeng Rampal, yang terletak di Jalan Sudirman, dan bisa ditempuh sekitar 20 menit dari alun-alun kota Malang.

Setibanya di sana, warungnya tampak sederhana. Bangunannya terkesan sudah tua. Saya melirik ke papan nama, dan mata saya membaca tulisan dengan ejaan lama: "WAROENG RAMPAL. Sedjak 1957". Tampilan papan nama itu juga sudah terlihat kusam. 

Saya langsung membatin: sebuah warung makan yang bertahan lebih dari 60 tahun, tentulah karena warung makan itu sukses mempertahankan cita rasanya. Pengelolanya mungkin sudah generasi kedua atau ketiga.

Saya masuk ke ruang restoran. Terlihat 5 meja panjang di ruangan tanpa AC, seluas sekitar 5 x 8 meter. Siang itu, hampir semua kursi occupied, penuh. Kursi yang kosong pun, di mejanya masih ada sisa piring yang belum dibersihkan. Jadi menunggu dulu dibersihkan.

Saya duduk, dan diberitahu bahwa pemesanan harus dilakukan sendiri ke bagian belakang (persisnya di ruang dapur, yang disekat dengan meja setinggi sekitar 100 cm, yang juga difungsikan sebagai tempat membayar. Nggak ada istilah "kasir" di sini. Pelayanannya mirip Warteg di Jakarta. Saya sempat melirik perapiannya di dapur: semua panci bertengger di tungku yang dipanaskan dengan arang kayu (bukan kompor gas, bukan juga kompor minyak tanah).

Dan dapur utama Waroeng Rampal ini "diurus" oleh tiga wanita berusia lebih dari 50 tahun. Gerakan mereka sudah tidak lincah, lagi.

Setelah memesan tiga porsi rawon (untuk 3 orang), saya kembali duduk di kursi. Dan mata saya langsung tertuju pada sebuah foto yang dicetak seukuran poster, tergantung di dinding: di gambar itu terlihat Pak Jokowi, diapit kanan-kiri oleh pemilik dan keluarga Waroeng Rampal. Ada keterangan tertulis di bagian bawah foto: "2017". Artinya, Pak Jokowi berkunjung ke Waroeng Rampal setelah menjabat Presiden.

Belum selesai saya mengamati satu per satu orang-orang di foto yang mengapit Pak Jokowi, sambil menunggu pesanan, jangkaun sudut pandang mata saya mengarah ke kanan. Saya lantas menengok ke kanan, dan di sana ada foto lain yang berukuran sama: di foto itu ada Pak SBY dan Ibu Ani. Juga diapit kanan-kiri oleh pemilik dan keluarga Waroeng Rampal. Namun foto SBY dan Ibu Ani tidak memiliki keterangan waktu, yang menjelaskan waktu kunjungan Pak SBY.

Dan fenomena pajangan foto tokoh (Pak Jokowi dan Pak SBY di Waroeng Rampal) juga bisa ditemukan di berbagai restoran lain di berbagai kota di Pulau Jawa dan Bali. Bahkan ada beberapa restoran yang memajang foto-foto artis, yang pernah mampir di restoran itu. Foto-foto itu merupakan promosi atau semacam "bukti" bahwa menu hidangan di restoran itu layak dijajal. 

Tapi di Waroeng Rampal, hanya terpajang dua foto: Pak Jokowi dan Pak SBY, dengan latarbelakang papan nama (lihat foto ilustrasi). Tak terlihat ada foto artis.

Ketika sedang mencermati dua foto (mantan presiden dan presiden aktif) itulah, pesanan rawon saya tiba di meja, diantar oleh pelayan.

Dan pada cicipan sendokan pertama, sebelum menambahkan sambal, kecap dan jeruk, ujung lidah saya kontan mengirim pesan ke saraf pengelola rasa di otak: enak, dan tanpa fitsin, kombinasi bumbu yang berimbang. Rawon banget, pokoknya.

Saya tidak sadar, ternyata sejak sendokan perdana, saya terus menyendok rawon itu nyaris tanpa jeda, dan ludes dalam tempo kurang dari 10 menit. Kami bertiga selesai makan hampir bersamaan. Dan kami bertiga hampir serentak berkomentar: Wow, enak sambil mengangguk-anggukan kepala.

Sungguh, menu rawon di Waroeng Rampal itu layak dijajal.

Syarifuddin Abdullah | 16 April 2018 / 01 Sya'ban 1439H