Mohon tunggu...
Rusman
Rusman Mohon Tunggu... Guru - Libang Pepadi Kab. Tuban - Pemerhati budaya - Praktisi SambangPramitra
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

"Hidupmu terasa LEBIH INDAH jika kau hiasi dengan BUAH KARYA untuk sesama". Penulis juga aktif sebagai litbang Pepadi Kab. Tuban dan aktivis SambangPramitra.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Sang Pelantun Syair

7 Agustus 2018   01:27 Diperbarui: 8 Agustus 2018   20:49 1627
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ketika Raden Patah meminta ayahanda Raja Majapahit untuk berkenan datang ke Demak dengan cara mengutus dua pembantunya yaitu Ki Wira dan Ki Pinunjul, maka Sang Brawijaya itu tidak berkenan datang. Namun sebagai bukti bahwa sang Raja merestui berdirinya Kesultanan Demak beliau menitipkan bumbung kecil agar disampaikan kepada putranya. 

Sayang sekali saat kedua utusan itu beristirahat benda tersebut berhasil dicuri oleh seorang wanita cantik di hutan Gembul di daerah Montong Tuban. Ki Wira dan Ki Pinunjul agaknya tidak mampu mengimbangi kemampuan lari sang pencuri sehingga kehilangan jejaknya. Karena lelahnya Ki Pinunjul tertidur dan bermimpi didatangi lelaki yang berpakaian hitam-hitam yang memberikan petunjuk agar Pinunjul datang ke suatu tempat.

Rembulan kian merambat ke tengah ketika Ki Pinunjul mengakhiri sholatnya. Seperti biasa pemuda itupun meneruskan dengan membaca do'a (dzikir). Tapi pendengarannya yang tajam mendengar suara yang mencurigakan. Awalnya pemuda ini kurang menghiraukan, siapa tahu hanya suara dedaunan yang  tertiup angin, pikirnya. Tetapi semakin lama suara itu menjadi kian jelas. 

Seusai melakukan dzikir pemuda itu lantas mencari tempat dari mana asal-usul suara tadi. Dia sengaja melangkah dengan sangat hati-hati, agar tidak menimbulkan suara.

"Aih !" Hampir saja lelaki itu terpeleset ketika kaki kirinya menginjak lahan yang kosong. Untunglah pemuda ini cukup gesit untuk meloncat ke belakang. Setelah diamati ternyata sebuah sumur liar yang sangat dalam hampir saja menelan dirinya.

Terasa meremang bulu kuduk Ki Pinunjul ketika dengan jelas dia mendengar suara cekikikan seorang wanita dari dalam sumur liar itu.

"Kau tak boleh pulang kakang, tinggalah bersama aku di sini", kata wanita itu sesudah tertawa keras. Yang dipanggil kakang tidak menyahut, namun Ki Pinunjul yakin bahwa di dalam goa atau sumur itu ada juga seorang lelaki yang menjadi kekasih wanita itu. Lantas siapakah sebenarnya kedua orang ini ?

"Kaulah yang selama ini selalu aku tunggu kakang", lanjut wanita itu lagi "peluklah aku erat-erat".

Suara itu berhenti. Tapi sekejab kemudian tertawanya malah terdengar lebih keras.

"Hi.....hi....hi...., oh kakang, pokoknya kau harus menjadi suamiku. Kau tidak aku ijinkan keluar dari goa ini. Bambu kuning yang ada di tanganku inilah yang menjadi taruhannya".

Betapa kagetnya Ki Pinunjul  ketika perempuan itu menyebut bambu kuning. Kalau demikian, mungkinkah .... oh, astafirullah haladzin ... Kenapa harus begini kakang Wiro.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun