Wisata highlight

Seni Ukir Asmat Lahir dari Upacara Keagamaan

12 Oktober 2017   15:30 Diperbarui: 12 Oktober 2017   16:15 496 0 0
Seni Ukir Asmat Lahir dari Upacara Keagamaan
Sumber: jejejacklints.blogspot.com

Seni ukir Asmat lahir dari upacara keagamaan. Ukiran suku Asmat yang bersifat naturalis memiliki beragam motif, mulai dari patung manusia, panel, perisai perahu, tifa, telur kasuari sampai ukuran tiang. "Hasil dialog dengan arwah nenek moyang" tersebut dijadikan sebagai pola ukiran mereka, seperti perahu, pohon, binatang dan orang berperahu, orang berburu dan lain-lain. Bagi yang ingin mengoleksi patung asli, maka mau tidak mau harus siap menembus pedalaman hutan belantara Papua.

Seni ukir Asmat merupakan ritual religiusitas mereka terhadap arwah nenek moyang yang disimbolkan dalam bentuk patung serta ukiran kayu. Seni ukir sejati para pemahat Asmat ini telah banyak dikenal dunia, tidak kurang Metropolitan Museum of Art New York salah satu museum besar dunia juga memiliki artefak patung Asmat.

Seni ukir asli suku pedalaman Papua ini telah dikenal dunia sejak tahun 1700-an. Ketenaran seni ukir Asmat ini semakin luas dikenal setelah setiap tahun di bulan Oktober dilangsungkan Festival Budaya Asmat di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. "Festival ini menonjolkan seni ukiran yang menjadi keunikan pengrajin Suku Asmat, termasuk seni ukir, tarian adat Asmat dan manuver perahu tradisional Asmat," 

Saat ini, jumlah mereka 70 ribu orang. Masyarakat Asmat terdiri dari 12 sub-etnis, dan masing-masing memiliki ciri khas pada karya seninya. Setiap suku memiliki keunggulan tersendiri. Ada yang menonjol pada ukiran salawaku atau perisai, ada pula yang memiliki ukiran untuk hiasan kano dan ada yang unggul pada ukiran tiang kayu. Untuk segi pola maupun skala pun memiliki perbedaan satu sama lainnya.

Media Komunikasi kepada Nenek Moyang

Ukiran Asmat dipercaya sebagai mediator yang menghubungkan antara kehidupan masyarakat dengan leluhur mereka. Melalui ukiran inilah orang Asmat berkomunikasi dengan arwah keluarganya yang sudah meninggal. Setiap ukiran yang mereka buat mewakili seseorang yang telah meninggal dunia.

Ukiran tradisional Asmat yang paling spektakuler adalah tiang atau tugu leluhur yang disebut Bisj. Ukiran ini umumnya tersusun dari lebih dua figur. Setiap figur diukir di atas figur yang lain. Masing-masing figur menggambarkan keluarga yang telah meninggal. Dahulu, Bisj dibuat dalam upacara tradisional yang dimeriahkan dengan pesta pemenggalan kepala dan kanibalisme (head hunting) agar arwah leluhur tenang. Setelah wilayah Papua menjadi bagian RI tahun 1963, pemerintah melarang pembuatan Bisj untuk mencegah upacara head-hunting dan kanibalisme. Lambat laun tradisi Bisj mulai memudar. Kini orang Asmat membuat patung untuk dijual pada wisatawan. Penjualan seni ukir Asmat memberikan kontribusi ekonomi bagi warga Asmat.

Karena mengukir memiliki peran penting dalam keseharian hidup masyarakat Asmat, di setiap kampung dapat dijumpai warga Asmat yang melakukan kegiatan ini secara berkelompok. Biasanya mereka melakukan kegiatan ini di Jeu, rumah tradisional Asmat. Kesibukan mengukir di Jeu ini biasanya kian terasa menjelang Festival Budaya Asmat pada bulan Oktober.

Mengukir dan "Dialog"

Patung dan ukiran Asmat dibuat ternyata tidak menggunakan sketsa terlebih dahulu. Mengukir patung, bagi suku Asmat layaknya sedang berdialog dengan arwah leluhur di alam lain. Bagi para penganalisis, ini diduga terkait adanya tiga macam konsep dunia pada masyarakat Asmat yakni: Asmat on Capinmi (kehidupan sekarang), Dampu on Capinmi (alam persinggahan roh), dan Sarfar (surga).

Bisj, Ukiran Asmat yang Paling Mengerikan

Ukiran tradisional Asmat yang paling mengerikan adalah Bisj. Bisj adalah tiang kayu yang mewakili para leluhur yang telah meninggal dunia. Tiang Bisj tersusun dari dua figur leluhur atau lebih yang diukir bertingkat atas-bawah.

Pada awalnya, Bisj dibuat sebagai perlengkapan dalam upacara tradisional pemenggalan kepala (head-hunting) dan kanibalisme para musuh yang berhasil dikalahkan agar arwah leluhur tenang. Setelah wilayah Papua menjadi bagian RI tahun 1963, pemerintah melarang pembuatan Bisj untuk mencegah upacara head-hunting dan kanibalisme, sehingga kini tradisi Bisj sudah memudar dan mulai terlupakan orang.

Sebagai gantinya, diadakanlah Festival Budaya Asmat yang biasanya dilaksanakan pada bulan Oktober. Menjelang festival biasanya di setiap kampung, warga Asmat melakukan kegiatan mengukir secara berkelompok di Jeu, rumah tradisional Asmat.