Mohon tunggu...
Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Sri Romdhoni Warta Kuncoro Mohon Tunggu... Buruh - Pria, lajang, suka naik motor jelajah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Manusia Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerita Mbah Wulu

25 Oktober 2021   09:38 Diperbarui: 27 Oktober 2021   13:47 128 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Gambar diolah menggunakan picsart


Koran minggu dihalaman 16 memuat infografik menimbulkan perdebatan sengit dikalangan kaum lelaki dukuh Mancasan, Piyungan. Khususnya komunitas cakruk rumah pakde Darmo. Perdebatan membuncah, sebab tiap kepala mempunyai persepsi sendiri. Hal itu dikarenakan cakupan wawasan pengetahuan kurang, tapi ngeyel. Nekat digelontorkan.  

Koran yang seharusnya mencerahkan malah meniupkan prahara.

"Jelas meragukan", kata Lik Tarmin, "Masa' membangun candi begini?"

"Tukang gambarnya hanya mengira-ira. Disesuaikan daya khayalnya", tambah Dalbo, "boleh saja, tapi jangan gebangeten ngawur. Lihat, apakah pakaian mereka sesuai jamannya? Payungnya model begitu? Bentuk gerobaknya benar?  ditarik kerbau? Terlalu Absurd!"

"Gambar dibuat dengan memakai data. Pembuatnya menggunakan pendekatan historis dalam pengerjaannya", kata Sadikun menengahi.

"Historis apa? Aku nggak yakin!", sergap Dalbo

"Dulu guru sejarahku pernah membedah proses pembangunan Borobudur", lik Tarmin duduk tenang, sesekali seruput teh. "Tahapannya, setelah pondasi Kamadhatu jadi kemudian sekelilingnya dipadatkan dengan tanah sebagai jalur bagi pekerja turun naik mengangkat bongkahan batu menuju proses Rupadhatu. Terus sampai Arupadhatu. Jika selesai, tanah yang mengelilingi candi akan digerus, dibersihkan sampai tuntas. Tidak seperti gambar ini"

"Metode ngawurisasi. Lalu mencari tanah urukan sebegitu banyak dimana? Setelah selesai dikemanakan? Butuh berapa gerobak sapi atau kuda untuk mengangkutnya?", tanya Dalbo, "Guru sejarahmu sekedar memperkirakan. Wes jan ngawur tenan"

"Yo embuh. Aku hanya menceritakan kembali", ungkap lik Tarmin membela diri. Hatinya tersengat mendengar mantan gurunya disebut ngawur, "Tanjir! Celeng kirik! Sok keminter", sungutnya

Lembaran koran tergeletak siang malam. Pindah tangan, tersampir di penyangga 'T' cakruk. Dilihat oleh puluhan mata yang mampir, sekedar menengok isu yang berkembang mengenai perdebatan sengit. Mereka sesekali urun pendapat, dan akan disambar ganas bagi yang tidak sependapat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan