Travel

Tour de Bromo, dari Solo ke Puncak Bromo

17 Mei 2018   14:08 Diperbarui: 17 Mei 2018   14:19 239 2 2
Tour de Bromo, dari Solo ke Puncak Bromo
foto pribadi

Keinginan untuk tour bersepeda motor ke gunung Bromo pada akhirnya terlaksana, inilah perjalanan terkeren dan terkesan-sampai saat aku tulis-buat pribadi.

Gunung Bromo, sebuah wisata alam melegenda dan mendunia. Dengan view OK membuatnya menjadi jujukan wajib kaum pelintas alam penikmat wisata.

Wilayah tersebut bisa dimasuki dari 4 pintu resmi yang dikelola oleh pemerintah kab. Lumajang, Probolinggo, Pasuruan dan Malang.

Menjelajahi Bromo sebenarnya sudah lama menjadi agenda unggulanku dan tertulis niscaya-belum pernah aku delete. Kok baru terurai di 2017? Permasalahannya, mencari yang pas. Pas disini bisa berarti pas waktunya, pas moodnya dan yang tidak kalah penting pas kumpul duitnya...he...he...he....

Sebenarnya ada wacana mau berangkat sendiri, tapi putaran takdir menuntun pada jalan yang lain.

Sebuah ajakan dari kawan muda berasal dari kampung 'G' langsung saja aku cover agar terealisasi. OK- aku meng-iya-kan.

Mulanya, perjalanan tersebut dijadwalkan awal januari 2017. Namun, karena sesuatu hal akhirnya di fix kan tgl. 14 Februari 2017. Dan ndilalah tgl esoknya-15 Feb.-sesuai pengumuman pemerintah diliburkan karena bertepatan dengan pilkada serentak.

Karena ini perjalanan jarak menengah maka aku persiapkan beberapa point penting. Diantaranya,

- Motor tunggangan. Namanya touring sudah jelas harus menjadikan motornya yakin untuk dinaiki selama tempuh.

Ada sedikit kegamangan ketika Honda Supra Fit 2006 aku pilih menjadi tunggangan menuju Bromo. Disebabkan rekam jejaknya tidak aku ketahui banyak.

Ini motor aku beli dari kakakku(kakakku mendapatkan dari temannya) yang usaha dagangnya terhenti.

Dari selentingan cerita, motor ini telah dipurnatugaskan. Karena munculnya motor baru yg hadir dikeluarga itu.

Mungkin, daripada tersia-sia dan terlunta lunta tidak diperhatikan, maka lebih baik dipindahtangankan.

Servis dengan pergantian olie dilakukan. Mekaniknya ketika tap olie kali pertama terperangah melihat ujudnya yg hitam stadium 4. Sudah berabad-abad belum di tap....?

3 X servis dilakukan pre touring.

Untuk memantapkan keyakinan jika motor layak diajak tour aku uji ke kawasan dengan tanjakan: Selo(transit para pendaki sebelum naik ke gunung Merbabu atau Merapi)kab.Boyolali-Jawa Tengah dan Cemoro Sewu(titik kumpul para pendaki sebelum naik gunung Lawu)kab.Magetan-Jawa Timur. Kedua medan dilibas Suprit tanpa halangan berarti. Siip!

- Nyali. Paling penting dari semuanya.

- Duit. Penting nomer selanjutnya setelah 'Nyali'. Emang kamu demit yg tidak butuh duit?

Akhirnya, Selasa pagi 14 Februari 2017 jam 10.00 wib dengan diawali 'bismillahirrohmanirrohiim' Honda CBR150 dan Suprit 100 NL membelah lautan jalan Surakarta. Kearah Timur menuju tawangmangu-Karanganyar.

Rute yang aku ajukan adalah Solo-Karanganyar(tawangmangu)-Magetan(Sarangan)-Madiun-Nganjuk-Kediri-Malang.

Motor aku geber 70-80 km/jam bila kondisi jalan memungkinkan-itu sudah maksimal: Suprit 2006 milikku tak mampu mencapai 90 kpj. Kenapa ya?

Kami bertiga hanya berhenti ketika sholat-isi tangki bahan bakar-hujan deras(untuk beberapa kondisi hujan kami terjang karena situasional-pakai jas hujan)-ngisi lambung biar tidak limbung alias makan.

Rute yang aku tempuh sebagian besar belum pernah aku jajaki. Petunjuk arah dan intuisi menjadi kompas agar spotnya benar. Dari situlah kami mengambil keputusan agar tour ini berasa nyaman serta aman.

Dinamika kondisi jalan raya juga memaksa kami menebalkan konsentrasi.

Tapak jalan tak semuanya mulus. Kami menemui beberapa kilometer bergelombang dengan lubang menganga siap mencaplok pelek dan membuat shock pengendara.

Di rute Madiun ke arah Nganjuk  melewati hutan Saradan dengan beberapa spot tanjakan mini?(untuk beberapa pengendara bukan disebut tanjakan?) dan beriringan berpapasan jalan bersama bus serta truk berbagai ukuran . Waspada saja, yang penting rileks. Pandangan mata akan dimanjakan dengan rerimbun hijau semak berbagi tonggak selang seling pepohonan jati. Ada yang menarik perhatian; penjual ikan segar aku jumpai di sisi jalan. Jenis ikannya tak tahu, karena lebih fokus ke depan. Aku kira jual walang/belalang seperti yang biasa aku jumpai di rute Gunungkidul-DIY arah pantai.

Semua track mempunyai nuansa tersendiri. Menurut aku rute paling geboy dari Kediri ke Malang. Menjejak dipersimpangan lima Gumul berdiri kokoh ikon arsitektur bernuansa Eropa rasa Javanis-kembaran Arch de Triomphe di Prancis. Kami lewati siang hari dengan panas menyengat. Tak ada selfie walau sebenarnya niat. Ikon Kediri ini memang spektakuler untuk kota tersebut.

Melewati Pare menuju kota Batu bener-bener asik. Daerah bernama Kandangan-Kasembon-Ngantang-Pujon- dinaungi hutan pinus menjadi santapan lezat kendara kami. Meliuk-liuk melambai dibelai  angin lembab. Bekas hujan tercetak jelas dengan aspal basah. Dibeberapa sisi jalan berdampingan dengan alur sungai. Melihat riak air bergemuruh tajam menjadi pemandangan selama beberapa kilometer. Termasuk rute padat. Berulangkali laju tersendat-sendat karena beberapa remaja mengatur lalin-penyebabnya, sisi jalan tergerus arus sungai. Hati-hati dan berdoa saja. Bus wisata bergerak ala kadarnya karena kondisi jalan memang tidak terlalu lebar-untuk 3 bus berjejer-, begitupun yang lain. Kalau roda dua masih bisa menyalip.

Dimata terlihat petunjuk arah: waduk Selorejo. Pantas saja kok dari tadi terlihat beberapa pemotor bawa joran. Ternyata ada tujuannya: mancing! #salamstrike!

Jelang maghrib kami berhenti disebuah masjid didaerah Pandesari. Adzan berkumandang syahdu mendayu. Kami Tunaikan sholat berjama'ah dengan rimbunan doa pada Allah swt agar selalu dilindungi selama perjalanan.

Usai sholat, Istirahat diambil sembari ngemil gorengan. Ilham Ari Pamungkas(IAP) membelinya didekat situ.

Aku bertanya pada salah satu jamaah sholat-bapak tua, tentang dua jalan yang tidak jauh dari masjid tersebut; satu lurus dan yang satunya lagi berbelok melingkar.

Jawabannya sungguh mencerahkan.

"Nak, semua jalan tersebut arahnya ke Batu. Yang lurus itu bisa ditempuh dengan jarak 3 km tapi jalannya menurun tajam-kalau ekstra hati-hati bisa dilalui dengan mulus. Satunya lagi ditempuh dengan jarak 7 km"

"Maturnuwun, pak"

Bapak itu mengangguk dibungkus senyuman. Lanjut saja putaran gas. Langit semakin pekat mengiringi dengan setia. Hamparan jalan menukik tajam mengharuskan Suprit aku ganjal pada gigi 2 diimbangi pengereman. Tatapan lebih dipertajam agar lolos dari kemiringan.

Tak terasa tujuan terkayuh, Kota Batu bertepuk tangan menyambut rentetan deru mesin motor. Roda melindas aspal sambil menikmati pernak pernik gebyar lampunya. Lalu lintas ramai penuh sukacita. Kota ini tersenyum lebar.

"Hei pengembara! Tidakkah kau singgahi kami barang semalam?"

"Maaf sang kota, kami buru-buru. Lain waktu akan datang kembali menikmati lekukmu"

"Janji ya? Hati-hati di jalanan?"

"Yoi. Makasih atas sambutannya"

Memasuki kota Malang yang saat itu riuh semarak. Maklum kota wisata plus pelajar layaknya Jogja. Perut harus diisi karena keroncongan. Cari-cari warung apa yg bisa dimasuki kaum backpacker. Akhirnya nasi goreng pinggir jalan jadi tumpuan.

Ini nasi goreng langganan anak rantau-melihat stylenya sih begitu. Sudah ada 4 anak muda antri menunggu sajian dihidangkan. Kami pesan dan menunggu lumayan lama.Tepatnya di depan RSUB(Rumah Sakit Universitas Brawijaya) sambil mata melihat situasi dan kondisi tempat. Akhirnya pesanan muncul. Nasi goreng panas porsi jumbo dengan harga Rp.9 ribu. Pesta dimulai.

Tak perlu menunggu dentuman meriam langsung kami sendok. Yihuuui.. Telap telep...telap telep.  Digelontor dengan air mineral yang kami bawa. Disitu sebenarnya juga disediakan. Sedeeep. Efeknya muncul: Kekenyangan! Sambil makan menikmati tetabuhan hingar bingar.

Usai mengudap, perjalanan berlanjut. Jelajahi kota itu dengan semangat berisi. Hujan rintik tipis belum menghentikan roda-roda. Namun akhirnya tarikan gas dihentikan karena curah hujan kian tebal.

Digempur hujan memaksa kami berteduh di emperan sebuah ruko Didaerah Lowok Waru kota Malang-atau jalan SuHat(Sukarno Hatta). Tempat berteduhnya persis di Depan SPBU, ada penjual tahu bulat dengan merek dagang BAROKAH: "Tahu bulaat... digoreng. jaa...jaa..nan. limaratusan. anget angeeeet". Iramanya memprovokasi agar dibeli. Gaya marketing bertabur "kegenitan".

Senasib sepenanggungan. Ruko itu menjadi shelter bagi yang terdampak hujan. Mataku berkeliaran menyatroni pendar-pendar cahaya. Terlihat bangunan Hasannah Guest House, gedung Asia STMIK-STIE, gerai Markobar, gerai indomaret, warung HIK, dll.

Salah seorang anak muda yg berteduh kami ajak interaksi. Dari dia kami dapat info serta saran juga cerita.

Allah swt menurunkan hujan diwilayah itu bisa jadi sebagai cara menahan kami agar menikmati kota tersebut dengan cita rasa wa syukurillah. Tumpahan cairan langit menjadi-jadi. Pontang panting makhluk Tuhan mensiasati hempasannya. Berloncatan semua benda di permukaan. Bumi Malang kuyup berat. Perbincangan dengan anak muda yg kami sebut diatas tambah hangat. Dan tahu bulat masih bersuara genit,"anget.....angeeeettt". Repetisi, tak tahu kali keberapa. Provokasi akhirnya menjebol pertahanan Catur Kakang Ragil, dibelinya si tahu bulat. Dikunyah kunyah menempel lekat. Bener-bener; angeettt....

iseng aku melihat speedometer Suprit tercetak angka yg aku hitung terakumulasi menempuh jarak 272 km.

Hujan tidak surut malah menaik.  Aku menjauh, duduk pada kursi kayu panjang di emper ruko sebelah bersandar ke dinding. Bersedekap erat berusaha ciptakan kehangatan sendiri. Irama hujan mengantarku pada kenang kehidupan. Pikiran jumpalitan menorehkan bercak peristiwa. Sepelemparan batu, celoteh pengemudi ojek online menjadi cerita tersendiri diantara deras hujan. Mereka bersendau gurau antar sesama.

Lebih kurang 2 jam kami menyelami SuHat. Selama itu, Minum-mengudap-kongkow menjadi aktivitas membunuh jenuh.

Rintik menyudahi tugasnya dan kami melanjutkan perjalanan ke arah Tumpang. Jam di HP menunjuk pada pukul 22.32 wib.

Indahnya menikmati kegelapan langit sembari berkendara.

Kami tidak tahu daerah Tumpang itu kondisinya bagaimana, pokoknya jalan aja.

Sampailah di gerbang lanud Abdul Rachman Saleh-berseberangan dengan SPBU. Keadaan lengang, tapi aktifitas masih ada. Penjual makanan eksis.  Apakah kami akan tidur disini?

Sepertinya tidak. Motor dipacu kembali. Sesuai keterangan penjual makanan didepan SPBU tadi, Tumpang sudah mulai dekat-tapi Bromo masih jauh.

Menyibak pekat malam menjadi keharusan bila ingin mencapai tujuan.

Berhenti kembali untuk bertanya tentang arah. Dua orang bapak pemilik usaha pinggiran menjadi asa selanjutnya. Sambutan ramah dengan petunjuk yang tergenggam. Motor kami geber. Tak beberapa lama sampai di sebuah SPBU lagi. Mungkin ini yang dimaksud bapak yang kami tanyai terakhir kali..

Motor diparkir bersebelahan dengan motor lain. Yang ternyata milik rider Jakarta.

Terlihat dua anak manusia telah tertidur pulas. Meringkuk dengan posisi udang galah-Keletihan berhasil merajam raga mereka.

Kami bertiga segera ambil bagian untuk melepas kantuk.

SPBU 24 jam itu luas. Ada musholla lengkap dengan toilet bersih. Anjungan Tunai Mandiri(ATM) juga tersedia. Beberapa waktu kemudian baru tahu bahwa dimana SPBU itu berdiri jalannya diberi tetenger Sumber Pasir. Jadi sebut saja SPBU Sumber Pasir.

Merebahkan tubuh dilantai dingin terpaksa dilakukan karena tidak bawa sleepingbag. Dengan jaket berharap dingin bisa di resistensi.

Suasana habis hujan berpengaruh pada kondisi tidur.

Kaki telanjang menjadi sasaran empuk cabikan dingin. Beruntung aku bawa sarung. Langsung aku kerubuti kakiku. Kepala aku bebat dengan kopiah.

Sebenarnya, walau posisinya tidur aku terpatri pada tidur-tidur ayam. Rebahan dengan pikiran melayang.

Ditingkahi suara mesin diesel: sebelah kiri dari IAP-kanannya dari penunggang Jakarta. Yah, dinikmati saja. Paling tidak capek dibadan bisa hilang.

Semilir dingin berubah jadi sejuk. Kok bisa ya? Tidurku ternyata dihibur oleh Citra Scolastika dari kotak hitam milik penjaga SPBU shift malam. Apa dia fans beratnya? Cukup menghibur kaum pengembara yang keletihan.

Lagunya  membelah keheningan. Penatku tercerai berai karena deretan lagu-lagu yang diputar. Hening merapat melenting mendawai...selamat tidur.

Aku bangun. Suasana sepi menggelayut. Citra Scolastika telah menghilang dipaksa turun tahta oleh biduan nDang nDut berirama melankolis-bersumber dari kabin truk. Mereka datang dan pergi mengisi bbm lalu beranjak meninggalkan kepulan asap melingkar-lingkar. Catur KR mendongak. Dia sepertinya nggak jenak-tidak bisa tidur.

Satu Rider dari Jakarta membuka mata. Bertiga ngobrol.

Ceritanya usai dari Bromo-(Tiket masuk ia perlihatkan: Rp.25 ribu + parkir motor 5 ribu= Rp.30 ribu)-Dirinya tersesat ketika mau kearah Bromo karena mengikuti jalur trail. Walaupun akhirnya sampai juga. Asalnya dari Magelang kerja di ibukota. Rencana akan balik tapi ngedrop temannya dulu ke stasiun atau terminal di kota Malang-cari tiket pagi, karena temannya harus masuk shift malam.

Alarm HP berdering pada pukul 03.00 wib. Obrolan berlanjut lama.

Lantunan ayat suci

al-Qur'an mewarnai langit Sumber Pasir. Kalau di kotaku, kondisi ini menandakan bahwa adzan subuh akan datang membahana. Duo rider ibukota berkemas. Mereka gelontori tangki dgn bbm dan  panasi tunggangannya.

Setelah dirasa cukup, mereka pamit pulang. Tidak beberapa lama adzan berkumandang. Ditempat itu, masjid betebaran. Aku bergerak menunaikan kebutuhan sebagai muslim. Masjid terdekat pas didepan SPBU ada jalan kampung, masuk sedikit. Kelihatan dari jalan utama.

Ketika waktu menunjuk 05.26 wib dengan ditandai semburat putih cakrawala, mobilitas menyeruak. Tumpang arah selanjutnya. Pagi menyapa anak-anak manusia dengan sentuhan sang bayu. Aahh...nikmatnya hawa pagi...roda berputar mantap menggilas segalanya. Gerbang kota Tumpang terlampaui. Berarti Gubuk Klakah akan menyambut. Ritme mulai berdenyut. Kehidupan desa gunung  kian terasa. Ayo berpacu! Jalan mulai naik. Beberapa jeep terparkir didepan rumah. Terus menanjak susuri pedesaan. Kedamaian pagi tersirat jelas. Rombongan anak-anak berpakaian gamis mengapit kitab suci Al-Qur'an beriringan disisi jalan. Ternyata ada pesantren di desa ini.

"As-salamu'allaikum"

Sebelum menerobos wilayah hutan, sebuah jembatan kecil kami lewati. Genangan air tampak disisi sebelah kiri hampir ketengah. Aspal sudah tidak sempurna-mengelupas melahirkan serpihan kerikil tajam. Gerbang wisata Coban Pelangi yang sepi-letaknya disisi kanan-berhasil ditemui. Pepohonan menyesaki tanpa cahaya matahari. Serombongan penjelajah kami jumpai sedang mengambil moment-berfoto. Mereka menepi, memberi jalan.

Suprit masih sanggup mengarungi medan walau tertatih. Kabut menerpa kuat disegala penjuru angin. Dalam medan yang tidak kami hapali ada beberapa jalan hanya tampak aspal sedang kanan kiri ampak-ampak. Ini cukup mengkhawatirkan. Meleng sedikit bisa good bye. Tanjakan silent kian melelahkan. Tebing jurang menganga dimana-mana. Sisa material longsoran tampak teronggok di beberapa titik. Kewaspadaan distel pada tingkat tinggi. Aspal basah bercampur serpihan tanah aku lindas. Awas licin! Sebuah Jalur menantang-mampu mengoyak andrenalin. Gigi 1 hanya bisa aku pasang. Di belakang, CBR150  terseok-seok kelelahan. Beban berpengaruh pada performance. Truk dan jeep dengan santainya menjilati tanjakan pamer kekuatan.

Desa Ngadas membuka diri. Kabut makin beringas menampakkan kekuasaannya. Jarak pandang terbatas. Huufff....dingiin...bbrrr.....

Suprit aku hentikan karena kawanku belum kelihatan. Menunggu disebuah warung kelontong yang masih tutup. Apakah ini desa tertinggi di wilayah Malang? Kabut merajai daerah itu ditambah rintik air lepas tanpa peri. Samar-samar terlihat area perkebunan sayur. Beberapa penduduk telah memulai aktifitas ditandai dengan raungan motor  membawa karung, entah apa isinya.

Dua temanku terlihat. Dari balik kabut tebal nampak wajah Kelelahan Catur KR. Nafasnya kembang-kempis. Ia harus berjalan menanjak karena CBR 150 gagal melewati jalan Ngadas. Kalau sendirian bisa, tapi dinaiki berdua terpaksa melemparkan handuk putih: Menyerah!

Suprit dicoba untuk boncengan. Pelan-pelan mirip keong jalan. Terengah-engah juga. Bila tanda-tanda memble aku teriak,"Turun!". Jika sedikit landai aku bersuara," Ayo naik!". Begitu seterusnya.

Papan penunjuk Ranupane-Semeru dan arah Bromo dengan ujung panah terpotong menandai bahwa disitulah pintu loketnya. Umum menyebutnya Jemplang. Curahan hujan menggiring kami untuk berteduh di salah satu warung yang belum buka.

Para pelancong terlihat menyesaki beranda warung dan menghangatkan tubuh dengan cara tangan dipanggang diatas bara api. Lumayan menolong.

Dinginnya memang luar biasa. Mulut mengeluarkan asap putih mirip naga bersendawa.  

beberapa jeep hilir mudik berhenti dengan bermacam maksud. Ada yang menurunkan penumpang untuk sekedar buang air kecil. Sayangnya toiletnya digembok. "Huuuaaaa...ditahan bisa jadi akik, mbak!" Kalau

aku terpaksa buang air kecil di belakang toilet: istinjak pake daun-daun bertempelan air hujan.

Menunggu hujan reda? Kapan selesainya? Jam menunjukkan pukul 07.17 wib. Perasaan sudah lama duduk. Waktu berjalan lambat. Dingin semakin menjadi-jadi. Aku bergerak kian kemari. Tangan dikibas-kibaskan sebagai cara mengurangi dingin. Tapi percuma saja. Jaket dengan segala atribut mampu ditembus. Duduk lagi- comot roti kering dikunyah. 

Kami mengajak ngobrol seorang bapak-ternyata penduduk desa sekitar. Dari bibirnya keluar cerita, kalau hujan seperti saat ini penduduk lebih banyak diam dirumah. Selain itu dia cerita sering menuntun pelancong yang disorientasi medan-tersesat. Sepertinya kabut dan dingin telah meneken perjanjian selama berabad-abad untuk menguasai wilayah tersebut. Semua dibuat bertekuk lutut mencoba bertahan sebisanya. Terbiasa hidup dikota hangat memberi dampak menggigil. Hidungku sampai keluar ingus. Bergeraklah! agar kalian tidak membeku.

foto pribadi
foto pribadi

Sebuah Jeep datang langsung parkir. Ternyata si pemilik warung yang kami duduki. Dibukalah dan digelar segala logistik dagangan. Kami pesan kopi dan mie goreng(khusus Catur yang kelaparan). Nikmatnya secangkir kopi ini. Uap tipis menari-nari keluar dari cangkir. Harumnya menggairahkan. Perpaduan yang kontras: kabut dan semerbak seduhan kopi. Mantap!

Pukul 09.00 wib seiring hujannya berhenti, motor melaju turun ke Bromo. Oh ya, kami tidak bayar tiket, nggak tahu kenapa? Mungkin karena kepagian?

Padang savana menyambut dengan jalan cor beton-kurang lebih 2 km. Kiri kanan rumput tinggi. Sesekali dikagetkan beberapa burung kecil warna coklat berjalan cepat melintas didepan kami. Padahal tidak ada satpol PP...he...he...he.... Jenis apa ya? Uniknya itu lho: jalannya cepat setelah itu terbang rendah menghilang disemak-semak.  Mirip pesawat mustang take off.

foto pribadi
foto pribadi

Cor beton selesai, inilah medan tempur selanjutnya. Pasir tanah dengan campuran air. Motor ngepot sana-ngepot sini. Gundukan rerumputan terpecah pecah menempati nasibnya. Alur-alur bekas ban tercetak massif. Jeda sebentar karena harus menebak, mana yang harus ditrabas. Kubangan air tersedia dengan berbagai ukuran. Apakah ini lintasan grasstrack? Lihat saja, medannya acak-acakan. Feeling nggak jitu dijamin terpeleset. Dan itu kami rasakan. Hanya bisa ketawa ngakak melihat diri terseok. Beberapa Jeep melahap kubangan dengan enteng, Karena lintasan sehari-hari mereka.

Dari jauh bukit teletubbis dikerumuni pengunjung. Jeep berjejer menunggu layaknya murid Madrasah setor hafalan. Beberapa bule naik beranjak pulang ke arah Jemplang-Ngadas.

Kami standarkan motor. Berfoto ria sebagai kenangan hidup. Pengunjung lumayan banyak walaupun saat itu hari Rabu.

Dirasa cukup, kuda besi dipancal ke arah Pasir Berbisik. Cihuiiii.....motor kami terbang mirip burung kecil tadi. Pasirnya padat jadi tidak terpeleset. Eit, jangan lengah. Ada juga pasir yang menjebak motor. Hati-hati saja.

Subhanallah....betapa indahnya Ciptaan Sang Kuasa-Allah swt. Yang kami pijak kaldera tengger. Pasir mendominasi jangkauan mata. Berhenti untuk menikmati landskap. Tatapan berkeliling membuahkan kontemplasi, kita tidak ada apa-apanya dibandingkan alampada ini. Terkurung didalam kaldera begitu luas.

foto pribadi
foto pribadi
foto pribadi
foto pribadi

Kami menikmati sekali. Bau pasir lembab sempet mampir kehidung. Jejak sepatu membekas-menjadikan monumen temporer: Disinilah! 3 pengembara dari barat pernah berdiri dan mencumbui pasirnya.

Manusia-manusia terlihat kecil-terlihat lemah-tidak berdaya-tergagap.

Pengunjung membentuk koloni menempati laman favoritnya. Semua ingin eksklusif. Bromo memasrahkan diri untuk di eksploitasi.

Kemudian motor kami arahkan mengikuti patok cor yang berderet memanjang. Ini sebagai petunjuk agar benar menuju pemberhentian jeep sebelum lanjut kearah puncak gunung Bromo.

Sampai juga di sekumpulan jeep terparkir. Disitu kuda siap menggantikan bila kalian berhasil nego harga. Kalau nggak jalan kaki sejauh kira-kira 2 kilometeran. Mau?

Yang bermotor ria langsung saja melesat kesana.

Ternyata Catur bermasalah dengan perutnya. Sampah harus dikeluarkan. Untung disitu ada toilet. Ya ditunggu hajatnya.

Seorang pedagang kacang dan pisang rebus menjadi kantong pertanyaanku mengenai Bromo-sekalian beli dagangannya.

Sambil bincang-bincang, kulit kacang aku tekan dan isinya aku telan. Harus sering ngemil biar energi tersedia.

Akhirnya urusan Catur kelar. Wajahnya sumringah-gembira ria. Bebannya sudah terbuang. Dia bilang airnya dingin. Pantatnya seperti diguyur remahan balok es. Badalaaa....

Tiba diparkiran motor, kami berupaya naik ke puncak Bromo lewat tangga yang telah tersedia. Ilham AP sudah menyatakan menunggu dibawah-disebuah warung tenda. Kita berdua maklum, karena bobot tubuhnya melebihi ambang batas.

Riuhnya areal sudah sewajarnya, karena semua mempunyai fokus sama: naik ke puncak.

Langkah kaki membenam dipasir. Siap! Ayo gaes. Awalnya semangat '45 menggelora didada, lambat laun harus tahu diri. Stamina meleleh karena asupan udara yang tersendat-sendat. Itu saja belum sampai tangga. Break dulu jangan dipaksa, sebab tidak ada ambulance terparkir.

foto pribadi
foto pribadi

Ambil napasmu-atur sedemikian rupa agar langkahmu bisa lanjut. Mentari masih tersenyum menampakkan ujud. Antara panas dan dingin menjadi pusaran keadaan.

Langkah demi langkah menjadi saksi kekuatan tiap individu. Tidak sama.

Anak tangga pertama berhasil aku injak. Napas ngos-ngosan menjadi fakta kalo ente sudah jarang olahraga. Hadeeeuh....padahal ini baru Bromo-belum 'puncak abadi para dewa' yaitu Mahameru.

.....mendaki melintas bukit. Berjalan letih menahan berat beban......bersama sahabat mencari damai. Mengasah pribadi mengukir cinta.....

[lirik lagu Mahameru-Dewa 19]

Terus naiki anak tangga demi anak tangga, akhirnya sampai juga dipuncak. Woooo... Angin terasa kencang menampar. Desaunya mirip hantu kelaparan. Semua yang diatas berkibar-kibar. Sejenak mengamati sekitaran kaldera. Pura Luhur Poten terlihat mini. Kumpulan Jeep bak mainan plastik lego. Dari tubir melongok kekawah. Suara desingan timbul tenggelam-bahkan cenderung mirip air didalam ketel. Gulungan asap membumbung bebas. Walaah...bau belerang menyengat. Ooo...la...la..asap belerang naik menusuk. Pedagang masker ternyata nongkrong juga diatas gunung. Menawarkan dagangannya,"Belerang naik..belerang naik. Yang masker...yang masker.."

foto pribadi
foto pribadi

Mata pedih. Untung masker terpasang sejak dari mula pegang stang. Bau belerang membuatku mual. Kepalaku pusing.

Tidak perlu lama-lama dipuncak. Minta foto sama Catur beberapa scene, kemudian turun.

Pelan-pelan saja, tidak usah buru-buru, sebab Black Panther masih di Wakanda. Turun juga harus hati-hati. Engsel tapak kaki menjadi rem sedangkan dengkul menjadi gigi 1.

Beberapa kali berhenti demi mengamankan posisi. Duduklah pada anak tangga-sampai dirasa siap bangkitlah lagi. Tak perlu jumawa biar kelihatan kuat. Gengsi dibumihanguskan dulu.

Cuci mata perlu- yang cantik bertebaran juga di Bromo...yiiihaaaa..

Anak tangga terakhir selesai diinjak. Langkah memberat mencari Ilham AP. Terus menapaki hamparan pasir. Didalam warung tenda 'yang dicari' menikmati Bromo dengan caranya sendiri. Aku menghempaskan tubuh yang kelaparan ke kursi panjang-begitupun Catur. Pesan teh dan mie goreng. Secangkir teh celup diseruput- begitu nikmat begitu perlu. Jangan mikirin harga. Yang terpenting suasananya.

Diluar, tingkah pelancong menjadi hiburan tersendiri.

berbincang sama pemilik warung untuk membaurkan suasana. Gelak tawa, teriakan manja dari gadis-gadis muda bergaya kekinian, ringkik kuda, suara lantang tukang parkir  menjadi latar belakang panggung Maha Karya Tuhan. Diversifikasi tumplek blek di pelataran.

Rombongan demi rombongan meramaikan tempat, diantaranya rombongan pesepeda gunung. Tebak-tebak buah manggis: Usia mereka rata-rata sekitaran 50-an tahun. Sepasang bule berdialog dengan gadis remaja dengan keasikan akrab. Tawar menawar harga cinderamata-berupa rangkaian rumput dengan edelweis-menjadi coretan lainnya.

Sengat matahari memberi tanda, saatnya kami harus beranjak pergi. Cemoro Lawang desa Ngadisari -dengan tower pemancar-arah yang kami tuju. Itu pintu Probolinggo.

keputusan pulang tidak lewat arah kedatangan-Malang, harus dibayar dengan hukum kausalitas.

Sampai di Cemoro Lawang berhenti sebentar. Kembali menatap kawasan kaldera dari pelataran di depan hotel Bromo Permai. Ramai pelancong menambah bukti destinasi ini tidak akan lekang digerus jaman. Homestay betebaran pun warung makan.  

dirasa cukup, tarikan gas mencuat. Jalan menurun. Awalnya biasa hingga pintu loket. Habis itu.....turunan sedikit ekstrem didepan mata. Gonta ganti gigi 1 dan 2 terus aku lakukan. Benar-benar Sadis! Harus pinter memainkan kombinasi gigi dan rem. Jalan menurun panjang banget-sepertinya tidak habis-habis. Sekedar saran: motor matic apalagi usia tua jangan dibawa-terkecuali NMax dan sejenisnya. Kalo kalian nekat? Tanggung sendiri akibatnya.

Jalur ini tidak lebar serta tidak semuanya mulus. Kecanggihanmu memegang kendali motor dibutuhkan. Tubuhku terguncang tatkala lubang aku terjang.

Aku berpikir, turunnya saja sadis banget, lalu naiknya? Jelas, kondisi motor wajib tokcer dengan joki mumpuni. Kawasan pertanian sayur tergambar di kiri kanan jalan. Diselingi bangunan  serta pepohonan yang tak habis-habis.

Motor masih meliuk menuruni lintasan. Kapan habisnya? Jalan provinsi belum kelihatan. Lewat Probolinggo terlalu jauh untuk menuju kota asal. Artinya, kami mengitari setengah gunung. Badalaaa..... Terlanjur basah-dinikmati sekalian. Apakah Perasaanku saja? Rute keluar kok muter-muter. Ketemu jalan bercabang: plang 1-Probolinggo, sedang plang 2- Pasuruan Surabaya. Daripada nggak karuan, jurus bertanya dikeluarkan. Ada beberapa orang sedang memperbaiki atap rumah jadi sasaran kami. Ternyata arah yang kami ambil sudah benar. Susuri saja terus, ungkap satu dari mereka. Pancal lagi si kuda besi. Wuuuuzzzzz.....

Pertigaan jalan ditemukan ditengah defisitnya stamina. Kendaraan berbadan besar memacu kecepatan sekuatnya.

Panas matahari membakar tanpa peduli. Kelelahan berbalut debu jalanan menempel ketat. Masjid Ar Royyaan-Tongas, menjadi pemberhentian. Letaknya dipinggir jalan pantura. Dhuhuran dulu. Masjid ini luas. Kamar mandinya bersih berderet deret. Kesegaran aku dapat tatkala percik air membasuh wajah.

Kelaparan mudah diatasi karena semangkuk soto bisa kalian nikmati di warung dekat masjid. Ibu penjual berkacamata tubuhnya subur dan ramah-selalu sunggingkan senyum.

Suap demi suap memberi perubahan aliran darah. Wajah kami berubah menjadi cerah-padang njingglang. Soto daging ayam cap ibu gemuk merubah penampilan jadi bertenaga. Saatnya kembali bergerak. Motor keluar dari parkiran. Debu beterbangan bercampur asap knalpot mengguyur pantura. Kami ngebut dengan kecepatan yang bisa dipertanggungjawabkan. Pokoknya njoget!

Cuaca panas dengan angin di bulan Februari menjadi catatan perjalanan paling melelahkan. Saling salip antar pengendara hal biasa di karenakan ada target yang harus dipenuhi. Kebisingan mencapai level tinggi. Klakson tumpang tindih saling serang-siapa yang paling mengagetkan itulah sang pemenang. Truk gandeng jamak dijumpai. Inilah satu dari sekian raja jalanan sedang lewat.

Kota Pasuruan mempersilahkan para pengembara lewat-terlihat hidup dengan hiruk pikuk level dewa. Sekumpulan anak kecil membawa kardus bertulis "OM TELoLET OM" memaksa aku tersenyum simpul. Ternyata fenomena ini belum surut. Plang penunjuk G.Bromo via Penanjakan berdiri tegak. Aku tatap sebentar sebagai stempel memori.

Supritku konstan show force.

Lajunya mengiris jalan padat kendara. Tetap konsentrasi-jaga akal sehatmu.

Tiba di Bangil-sebuah kota kecamatan. Beberapa waktu yang lalu diresmikan pak Jokowi sebagai ibukota kabupaten Pasuruan. Keramaiannya sama saja. Titik temu beberapa arah akan memunculkan kemacetan, walau tidak parah. Kota ini bener-bener bergemuruh.

Terus menambah kecepatan jika memungkinkan. Semua kami libas tanpa pandang bulu.

Wilayah Ngoro hanya mendengus tatkala knalpot menyemburkan deru tanpa sedikitpun menoleh. Kabupaten Mojokerto membiarkan wilayahnya terasapi semburan para pelintas batas. Acungan tangan kami berikan sebagai simbol perpisahan.

Memasuki Jombang belum adzan. Kami berinisiatif mampir di sebuah masjid. Adzan baru dikumandangkan bebarengan dengan motor diparkirkan. Segera saja ambil air wudlu untuk maghriban berjama'ah. Usai ibadah, istirahat dikhatamkan-mampir di Indomaret tak jauh dari masjid. Beli kopi instan, diteguk untuk penyegaran. Selonjorkan badan dikursi depan-meregangkan otot kusut.

Gerimis menampakkan taringnya. Kami bergegas. Jas hujan disematkan. Aku spekulasi hanya pakai bawahan saja. Ternyata baru beberapa kilometer air tumpah ruah. Mencari tempat berteduh tak dapat. Jaketku kuyub. Sebuah bangunan akhirnya nampak. Langsung disongsong-berteduh. Sudah ada yg mendahului-seorang bapak muda berjongkok.

Kami membenahi apa yang perlu dibenahi. Curah hujan tebal telah memotong waktu tempuh. Sepakat untuk meluncur lagi. Aku merasa ada yang tidak beres dengan lampu utama Suprit-redup. Sein serta bel tidak berfungsi. Biang keladinya dibagian mana? Aki? Jelas tidak mungkin, satu hari jelang berangkat udah diganti baru. Apa yang trouble? Aku biarkan. Penerangan dibantu CBR 150 yang bergantian didepan dibelakang. Kami sadar stamina berkurang, oleh karena itu motor kami pacu kisaran 50-60 KM/jam. Jarak pandang merosot-terutama diriku. Hujan deras diwaktu malam dengan akses minim penerangan membuat para pengendara motor dipaksa menaikkan beberapa strip kewaspadaan. Kami sadar diri-jadi putaran gas bermain dibawah 50 km/jam.

Allah swt Tahu doa para musafir: hujan di redakan tatkala pita tersentuh di wilayah Nganjuk.

Sepanjang jalan yang kami lewati truk dan bus AKAP memenuhi ruas. Kami mengalah. Tidak ada gunanya menyusup diantara mereka. Begitu padat begitu redup. Kondisi ini membuatku celaka. Insiden terjadi. Ban depan terlalu ambil kekiri hingga keluar marka jalan-antara aspal dengan tanah terlalu menjurang.

Motor terjerembab. Secara reflek aku meloncat. Seorang sopir truk mencoba menolong-tempat itu pemberhentian truk muatan logistik. Catur menyusul menanyakan keadaan.

Kondisiku baik-baik saja. Hanya jeans memar dibagian dengkul. Motor juga waras cuma footstep dan pijakan rem bengkok sedikit-tidak sesuai dudukan.

Suprit diambil Catur, aku bonceng IAP. Laju kembali menelusuri rute padat. Kendara malam memang tidak panas tapi yang kami telusuri ini berisi angkuta muatan besar. Optimus Prime memenuhi bahu jalan berselingan dengan bus-Mira-Eka-Sumber Selamat. Bus-bus itu dengan enaknya melaju tenang berkecepatan tinggi. Aku punya keyakinan, urat jeri mereka-sopir bus jawa timuran-telah digadaikan.

Menempati posisi boncenger ternyata tak lebih baik. Mataku kian berat-ini kantuk kelas sumo. Helm aku pukuli, pelupuk mata aku pijiti sebagai perlawanan agar tetap melotot. Kami masih diwilayah Nganjuk.

Perjalanan harus diteruskan. Sesekali IAP merubah posisi pantat, itu merupakan respon bahwa "panas" membakar kumpulan lemaknya-perih. Hal sama terjadi padaku.  

mulutku tak lepas komat-kamit dzikir sesekali diganti senandung kecil. Posisi boncenger mendapat kesempatan luas mengamati medan. Kegelapan belum beranjak-selang seling tersorot lampu kendara dari depan maupun belakang.

Madiun menunggu kedatangan kami.

Dalam benak timbul pertanyaan: Apakah memang tidak begitu penting lampu jalan di sepanjang rute ini? Apakah dana untuk operasionalnya tidak ada? Sepertinya aku harus menyetop segala macam 'Apakah' yang mengapung dikepala. Konsentrasi sajalah pada ridingmu.

Hutan jati dengan kegelapan penuh menandai bahwa inilah hutan Saradan. Artinya wilayah Madiun terjamah. Kali kedua kami melewatinya. Bus dan truk berhimpitan menguasai aspal jalan. Perasaan, penunggang motor hanya kami bertiga. Tidak menjumpai rider lain. Jarang motor tapi ramai truk.

Pernahkah aspal Saradan sepi? "Walau malam jalan ini tetap penuh, mas".

"Ups, siapa yang ngejawab pertanyaanku tadi?"batinku.

Ngomong-ngomong masalah hutan tidak ada habis-habisnya. Karena jalan pulang tidak ambil Magetan, jadi wilayah hutan akan kami sambangi lagi didaerah Ngawi.  

benar saja, Monumen Soerjo terlihat disisi kiri. Jejeran pohon jati memagari- memberi kekuatan pekat untuk kian memegang posisi. Pondok putri Gontor menampilkan diri selanjutnya. Aku tinggalkan diekor mata.

Bertiga terus melaju dengan jangkauan seadanya-kondisi memang padat dengan truk dan bus. Aku memberi kode untuk istirahat di Mantingan. Semua sepakat. Hutan gelap masih memayungi berbaur tingkah polah bus dari arah timur. Apa mereka SINTING?(Sopir Paling Penting-maksud pen) Seenak udelnya menyalip menyandang keselamatan penumpang. Rest area tampak. Ilham menepikan motornya-diikuti Apek. Pas didepan warung sate kambing- tapi tutup. Turun dari pelana kuda(besi) ibarat mendapat guyuran air pegunungan. Tangan diangkat keatas menegang. Gemeretak tulang menandakan bahwa dera kelelahan terlalu berat. Kaki diselonjorkan mengeliat. Aqua aku teguk semampunya. Hmmm....betapa nikmat. Kenyamanan terdapatkan diantara gelap malam.  Tak jauh dari kami, warung hik masih hidup. Celoteh khas proletar menguatkan kami untuk jangan tergesa melepaskan suasana hening. Ilham sudah menyedot es teh yang telah diidam-idamkan beberapa jam lalu. Ada sekitar 20 menit kami ambil jatah break.

Mata aku kerjapkan sambil memandangi kawasan itu. Beberapa bapak-bapak terlihat keluar dari gapuro kampung seberang jalan pakai sarung rapi. Pulang pengajian?

Dirasa cukup, kami naik keatas pelana. Suprit kembali aku pegang. Menderulah motor menuju Sragen. Suntikan kesegaran menjadi item penting bagi kami.

Suara knalpot tertinggal di belakang. Masih menemui jalan menikung dan bergelombang-tambal sulam masih ada.

Memasuki Sragen semakin lengang saja. Lewat jalur kota setelah gerbang selamat datang mengharuskan kami hati-hati. Beberapa lubang terfragmen sporadis. Tidak banyak sih, tapi cukup mengagetkan. Tikungan Masaran menyambut kedatangan. Bukan hotmix ramah namun kehancuran aspal bener-bener parah. Pelek motor kami dihajar beruntun. Lama tidak lewat daerah ini sudah menjadi ajang kedongkolan.

Aku hanya bisa geleng kepala menyaksikan infrastruktur jalan begitu remuk. Harus tetap sabar.

Fly over Palur terlihat dari kejauhan. Taburan lampunya mirip mercusuar mengarahkan kami untuk melewati bagian bawahnya. Jalan begitu mulus. Stang mengarah ke barat menuju Jembatan Jurug. Kotaku Solo menyapa ramah,"Selamat datang, bro!"

Susuri jalan Pucangsawit hingga pasar Tanggul. Perempatan bangjo Sangkrah kami asapi dengan cueknya.

Kami berpisah di bangjo Pasar Kliwon: Ilham AP dan Catur KR lurus ke selatan. Aku belok kanan ke arah barat. Bel dibunyikan sebagai seremonial. Supit Urang Kraton Surakarta sepi menggelayut-pasar Klewer aku tatap belum siap untuk di operasikan. Beberapa bagiannya masih taraf finishing. Melewati tenggat-kena pinalti. Kotaku ini kalau siang sudah sumpek. Nasibnya akan sama dengan kota lainnya. Dulu mendayu sekarang mulai rancak.

Plang Serabi Notosuman menandakan bahwa rumahku sudah dekat.

Dan akhirnya Suprit 100 NL berhenti diam didepan gerbang rumah. Usai sudah tour ini. Kamis dinihari, 16 Februari 2017 Pukul 01.39 wib(sesuai jam HP) kaki menjejak kota asal.[Selesai]  


#Catatan Kaki:

- Total perjalanan yg telah kami-lebih tepatnya motor Supra Fit ku-tempuh adalah 686 km(hitungan speedometer).

- Selama perjalanan,  Masjid dan SPBU mudah dijumpai. Jadi tidak usah kuatir mau stok tangki. Bahkan di pedesaan pertalite mudah didapatkan diwarung-warung pinggir jalan, termasuk dipucuk gunung desa Ngadas-Jemplang. Harga sebotolnya Rp.9000.

- Lebih baiknya bawa logistik sendiri: Aqua, permen, roti. Buat cemilan.

- Untuk barikade tubuh siapkan: jaket, sarung tangan, masker, kupluk pendaki(kalau kalian merasa sebagai superhero Iceman atau mempunyai DNA beruang kutub tidak perlu pakai).

- Keramahan penduduk banyak tersebar. Kita sopan mereka juga merespon baik.

- Seperti saran anak muda yang berinteraksi di Lowok Waru. Jika sudah malam lebih baik stop saja di Tumpang. Jangan nekat-Sebab, dikhawatirkan anda apes dicegat pembegal. Meminimalisir tindak kejahatan.

- Kalau kalian ingin merasakan sensasi berkendara serta pemandangan asik Gunung Bromo lewat saja Gubuk Klakah-Ngadas.(sangat dianjurkan).

- Penyebab lampu utama Supra Fit redup ternyata Kiproknya jebol. Fungsi utamanya sebagai pestabil arus. Ketika turun dari Probolinggo Catur dan Ilham memberitahu kalau ada asap hitam keluar dekat knalpot.