Mohon tunggu...
Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Sri Romdhoni Warta Kuncoro Mohon Tunggu... Buruh - Pendoa

• Manusia Indonesia. • Penyuka bubur kacang ijo dengan santan kental serta roti bakar isi coklat kacang. • Gemar bersepeda dan naik motor menjelajahi lekuk bumi guna menikmati lukisan Tuhan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Lelaki di Bawah Kerlip Bintang

17 Mei 2018   13:02 Diperbarui: 17 Mei 2018   23:06 2755
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi. (pixabay.com)

Lelaki itu melihat dirinya dihanyutkan oleh semilir angin dari arah bukit. Pandangannya tak lepas dari sinar bulan yang bergoyang dari permukaan air waduk Gajah Mungkur-bulan menjadi pecahan kecil-kecil . Suara satwa malam meniup lembut telinganya. 

Dingin tidak lelah menebarkan kekejaman. Mbediding menguasai daerah itu tanpa pernah memberitahu; kondisi dingin ketika musim kemarau datang. 

Sarung membebat tubuhnya untuk mengurangi dampak-hanya menyisakan lingkaran wajah. Sudah lama dirinya tidak mendapat jatah suasana malam di pedesaan. Keheningan yang menentramkan jiwa. Sebuah fragmen melintas dipikiran.

Hidupnya adalah permainan. Dan selama ini ia mampu menyelesaikannya.

Batas antara bajingan dengan alim adalah kelakuan. Beberapa sweeping yang dilakukan kelompoknya menguatkan pertanyaan tersebut. 

Ketika mengobrak-abrik sebuah kawasan di Kartosuro, lelaki itu melihat beberapa rekannya mengantongi gawai yang ditinggal pengunjung yang kocar-kacir menyelamatkan diri. Hatinya resah. Inikah yang diperjuangkan?

"Pemerintah kalau tidak menindak kelompok itu negara bisa chaos",kata lelaki itu. "Negara harus hadir tanpa kompromi. Tindakan mereka sudah meresahkan"

"Ya memang", ujar kawannya

"Mereka mendapat panggung di kota ini. Kita memanen hasilnya, padahal kita tidak menanam?"

"Kita kurang peduli. Baru setelah kejadian panik,"

Pesanan telah dibungkus, "Man, aku pulang dulu. Mengko ndak bojoku ngomel"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun