Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Lelaki di Bawah Kerlip Bintang

17 Mei 2018   13:02 Diperbarui: 17 Mei 2018   23:06 2585 4 3
Cerpen | Lelaki di Bawah Kerlip Bintang
ilustrasi. (pixabay.com)

Haru biru menyeruak di kawasan padat penduduk. Bunyi perabotan pecah bercampur teriakan kepanikan. Orang berlarian menyelamatkan diri memanggul pertanyaan: Apa yang terjadi? Apa salah kami? Ketidaktahuan menjadi bumbu penyedap dalam setiap laku manusia. 

Serpihan kaca berserakan. Apapun yang terpukul akan mengalami dampak. Benturan antara dua benda padat menghentak udara malam.  Bayangan memantul cepat berubah posisi. 

Gesekan alas kaki dengan bumi membuncah berirama panas. Kampung itu menyala. Takbir dipakai sebagai tudung untuk menancapkan tindakan mereka.

Lelaki itu merangsek terdepan dengan memainkan pentungan. Diseret melukisi tanah dengan garis kasar. Ujungnya berkilau bersimbah amok. Kelompoknya telah menjadi polisi tanpa legalisasi. Mereka terpasung "jihad".

Beringas, penuh nafsu merusak. Kata 'Hancurkan' menjadi selongsong peluru mengisi setiap kepala gagak. Kawasan utara kota Solo itu menjadi target sweeping. 

Lelaki itu mengeluarkan jiwa GALI menggoreng huru-hara. Padahal ia mencoba meraih hidayah. Hidayah? Dengan memamerkan kepongahan? Benar-benar mabuk akan harapan. Puncak kebodohannya mendapat tempat-dilakukan berjamaah.

Sebuah warung yang sekaligus rumah warga ia masuki sambil memainkan daya gempur. Perabotan warung diposisi meratap. Cairan tumpah campur aduk bergulung prasangka. 

Diluar, ujung keramaian belum mendapat jalan buntu. Rekan-rekannya menguasai medan peperangan. Energi sedang terkumpul tinggi. Mengerikan.

Pentungan seolah peluru kendali, meluluhlantakkan penghadang. Meraung, menghasilkan bunyi Wwuutt....wuuut....wuutt. Pesta itu membangunkan gadis kecil. Jejerit ketakutan mengapung bersama tubuh menggigil. Bersimbah air mata mendekap boneka bantal. Didepan pintu ia mengalami kehancuran jiwa. "Periuk nasi" orangtuanya hancur berantakan dihempas amarah dari selatan. Bersirobok. 

Mata lelaki itu menampakkan kekagetan. Pias gadis kecil menusuk langsung ke pusat kesadaran. Lelaki itu tersedak. Tangannya lunglai. Untuk sesaat, ia terpana, kepalanya terdorong kebelakang. Wajah polos itu layu melihat sepak terjangnya. 

Mata gadis itu berubah menjadi mata malaikat. Ketakutan menyergap balik menyerang lelaki itu. Nuraninya digedor pukulan longitudinal. Tangisan gadis kecil berubah menjadi badai tornado, menghantam titik manusiawinya. Ia tercekik diantara mata malaikat dan air mata ketakutan. Mematung. Sepersekian detik kakinya berbalik, berlari menjauhi pesta yang ia percikkan. Nafasnya ngos-ngosan, dadanya turun naik. 

Seekor cheetah tidak akan mampu berlari sekencang itu. Tapi buat lelaki itu, sebuah dorongan mampu menghasilkan kekuatan sedemikian dahsyatnya. Air mata ketakutan terus mengikuti dibelakang.

"Agiman! Operasi kita belum selesai. Kenapa lari!"

"Agiman!.. Agiman!"

Panggilan dari rekan-rekannya gagal menghentikan dahsyatnya tusukan wajah gadis kecil yang bersimbah air mata. Lelaki itu, yang dipanggil Agiman, semakin melebarkan jarak loncat. Tubuhnya bergetar, keringat mengucur deras berkilauan oleh kerlip bintang dilangit Tuhan....

Kejahatan telah dilakukan. Mereka bisa saja berkilah, walaupun dibungkus emas setebal lapisan bumi. Kejahatan tetaplah kejahatan. Padahal Tuhan tidak suka melihatnya umat-Nya berbuat kerusakan di bumi.

Kata Jihad telah menyihir seseorang jadi kumbang dengan sungut patah. Akibatnya, cara terbang serampangan karena tangkapan sinyal tak beraturan, acak-acakan mirip semak belukar pinggiran sungai.

***

Disuatu malam disebuah warung gudeg di kota Solo bagian selatan, lelaki itu bertemu kawannya yang dulu sama-sama bekerja di perusahaan mebel. Seperti kebiasaan dalam perjumpaan, menanyakan kabar tentang diri mereka.

Dunia mereka telah mengalami turbulensi. Kejayaan masing-masing telah mengikuti takdir-Nya. Fluktuasi pasar menjadi cerita suram atau mungkin ujian bagi kehidupan mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4