Mohon tunggu...
Rofiq Al Fikri
Rofiq Al Fikri Mohon Tunggu... Seorang Ayah

Koordinator Jaringan Masyarakat Muslim Melayu (JAMMAL)

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Sujud Syukur Prabowo Jilid 2, ke Mana Sandi dan Ketum Parpol Koalisi?

17 April 2019   22:03 Diperbarui: 18 April 2019   08:33 0 19 3 Mohon Tunggu...

Oleh : Rofiq Al Fikri (Koordinator Jaringan Masyarakat Muslim Melayu / JAMMAL)

Hari ini elegi lama Pilpres 2014 kembali terulang dengan actor yang sama, Prabowo Subianto. Entah apa yang ada di kepalanya, ia kembali rela membohongi dirinya sendiri serta seluruh rakyat Indonesia dengan menyatakan bahwa dirinya menang Pilpres 2019 dengan 62 persen suara (versi timnya sendiri, padahal seluruh lembaga survei memberi hasil quick count Jokowi menang dengan rata-rata 5 persen) dan kembali disertai sujud syukur.

Walau seluruh rakyat hari ini sedang geleng-geleng dengan ulah Prabowo dan timnya, ada beberapa hal yang seharusnya membuat kita paham, bahwa sebenarnya kubu Prabowo dan timnya sudah mengakui mereka kalah. Apa saja itu?

1. Tidak adanya cawapres Prabowo, Sandiaga Uno dalam dua konpers kemenangan semu 02. Saya yakin Sandi telah sadar diri dan tidak ingin mempermalukan dirinya di depan public, Sandi masih berpotensi kembali maju di 2024, sementara Prabowo tidak. Jadi, Sandi lebih baik menjaga citranya dengan tidak tampil dalam pertunjukan yang memalukan itu. Jangan kaget bila besok Sandi tampil dan justru mengakui kekalahannya, itu semua demi meraih simpati rakyat di 2024.

2. Tidak hadirnya semua ketua umum Partai Politik pengusung Prabowo (kecuali Gerindra, di mana Ketuanya Prabowo sendiri) dalam dua konpers kemenangan semu. Tidak ada Ketum PKS Shohibul Iman, tidak ada Ketum PAN Zulkifli Hasan, tidak ada Ketum Demokrat SBY ataupun putra mahkotanya AHY, dan bahkan tidak ada Ketum Partai Berkarya (anak mertua Prabowo).

Mereka sadar, hadir dalam konpers itu hanya membuat malu dan menurunkan citra partainya, lebih baik memikirkan partainya saja, yang dalam versi quick count sudah membuat mereka senang, setidaknya selain Berkarya, semua partai pengusung Prabowo lolos ke parlemen. Ini pertanda mereka sudah sangat sadar bahwa di Pilpres mereka telah kalah. Jangan heran, jika besok Demokrat dengan SBY atau AHY nya bermanuver dengan tiba-tiba konferensi pers mengakui kemenangan Jokowi.

3. Lembaga survei yang selama ini sangat Pro Prabowo, seperti Kedai Kopi dan Median (di mana para penelitinya adalah jebolan Puskaptis yang di tahun 2014 saat Quick Count memenangkan Prabowo), hari ini memenangkan Jokowi.

Tentu saja karena dua alasan, pertama selisih yang cukup jauh (hampir 10 persen) sehingga dalam metodologi tidak mungkin keliru. Kedua, karena kedua lembaga survei itu tidak ingin kehilangan kredibilitasnya di mata publik. Memenangkan Prabowo yang jelas itu berlawanan dengan fakta, sama saja bunuh diri untuk sebuah lembaga yang hidup dari kepercayaan publik.

4. Terakhir, dan yang paling lucu, partai-partai pendukung capres 02 tidak mau mengakui kekalahan capresnya di quickcount, tetapi para kader partai koalisi capres 02 malah percaya hasil quick count tentang perolehan suara partainya, padahal hasil tsb dikeluarkan oleh lembaga survey yg sama.

Akan tetapi, rakyat tidak boleh tinggal diam, rakyat harus menjaga kemenangan yang sudah kita hasilkan hari ini dengan menjaga proses perhitungan suara di KPU sampai 22 Mei nanti.