Rofinus D Kaleka
Rofinus D Kaleka Insinyur

Orang Sumba, Pulau Terindah di Dunia

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Saat Tari Mbuku dan Rangga Mone Bertemu di Timur Sandalwood

16 Mei 2019   16:51 Diperbarui: 16 Mei 2019   17:17 46 8 2
Saat Tari Mbuku dan Rangga Mone Bertemu di Timur Sandalwood
dokpri

Cuaca malam itu cerah tanpa secuil noktah awan. Nun jauh di atas sana,  berjuta-juta bintang penghuni langit terlihat tersenyum.  Manis rupawan. Seperti sedang bahagia menikmati kabar yang beredar di dalam ruang makan Asrama Bukit Pewarta Injil malam itu.

Dari meja ke meja yang dibicarakan adalah tentang kedatangan siswa-siswi dari wilayah barat bumi Sandalwood yang sudah tamat SMP. Para siswa-siswi akan menjadi calon siswa-siswi baru di SMA mereka.

Kabar tersebut menjadi surprice bagi kebanyakan warga asrama. Bagi Rangga Mone dianggapnya sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. 

"Mengapa kamu tenang-tenang saja mendengar kabar itu? Padahal Tari Mbuku akan datang ke sini juga," kata Julens Rehi Bula. Karena memperhatikan sahabatnya tidak nimbrung sama sekali untuk sekadar komentar.

"Untuk apa juga saya komentar. Toh sudah begitu memang adanya sejak SMA kita berdiri. Apalagi SMA kita sekolah favorit. Mana ada siswa-siswi yang menjadi bintang pelajar di SMP-nya yang tidak mau sekolah di sini. Belum lagi ada fasilitas asramanya, sehingga orang tua mereka merasa nyaman untuk menyekolahkan anak-anak mereka," begitu komentar Rangga Mone, seolah-olah memberi penjelasan kepada sahabatnya.

Saat itu Julens Rehi Bula merasa maklum-maklum saja. Ia uga sedang tidak berniat untuk mencandai sahabatnya. Sehingga mereka lebih memilih menikmati kabar yang sedang dibincangkan oleh teman-teman mereka.

*****

Sampai dengan masa pertengahan 1980-an, sekitar tiga puluh tahun setelah Indonesia merdeka, masih langka SMA dan SMP di bumi Sandalwood. Beruntung ada Gereja di pulau ini, sehingga ada satu dua sekolah berstatus swasta yang berdiri. Artinya, gerejalah yang berjasa merintis kehadiran sekolah untuk mencerdaskan masyarakat di daerah ini.

SMA tempat Rangga Mone dan teman-temannya sekolah adalah milik sebuah yayasan katolik di bawah keuskupan setempat. SMA ini sudah berdiri sejak awal tahun 1970-an. Yayasan katolik ini juga mendirikan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) di wilayah barat dan sejumlah SMP dan SD yang tersebar di wilayah timur, barat, utara dan selatan bumi Sandalwood.

Rangga Mone masuk di SMA tersebut, karena sekolah itu favorit. Bahkan sudah cukup lama tercatat sebagai salah satu dari tiga sekolah swasta katolik terfavorit dalam skala wilayah provinsi. Dua buah SMA yang lainnya ada di dua pulau yang berbeda. Satu di nusa bunga, tempat pengasingan Sang Proklamator, dan satu lagi di bumi karang, kota provinsi.

SMA tersebut favorit karena penerapan disiplinnya yang tinggi, kurikulumnya selalu up-date dan mutu proses belajar mengajarnya yang terjamin, dan guru-gurunya rata-rata lulusan fakultas keguruan dari kota pelajar terkemuka tanah air. Di samping itu, juga rata-rata siswa-siswi yang masuk di SMA ini, adalah para bintang belajar dari SMP katolik/kristen dalam satu pulau. Juga ada beberapa siswa-siswi yang berasal dari pulau tetangga.

Baik SMA tempat Rangga Mone dan teman-temannya sekolah maupun SPG dan SMP katolik lainnya di daerah itu, diperlengkapi pula dengan asrama oleh keuskupan. Ada asrama khusus laki-laki di bawah bimbingan pastor dan ada asrama putri di bawah bimbingan suster. Asrama-asrama ini ada yang bersifat "jaminan" dan ada juga yang bersifat "berdikari".

Asrama jaminan menyediakan seluruh kebutuhan siswa-siswi, kecuali pakaian, sabun, bantal dan tikar. Orang tua mereka tinggal membayar biaya yang ditetapkan oleh asrama. Sedangkan asrama berdikari hanya menyediakan fasilitas tempat tidur saja, tanpa bantal dan tikar. Semua kebutuhan siswa-siswi diurus sendiri oleh siswa-siswi yang bersangkutan.

Asrama bukit pewarta injil, tempat tinggal Rangga Mone dan teman-temannya bersifat jaminan dan semi seminari. Aktivitas di asrama ini mirip-mirip komunitas seminari menengah. Semuanya terjadwal dengan teratur dan wajib dilaksanakan secara disiplin.

Sebagai asrama semi seminari, maka di tempat ini selalu ada bimbingan atau pembinaan rohani secara kontinyu dan intensif, seperti doa, misa, baca kitab suci, latihan ajuda, retret dan sesekali ziarah rohani. Tujuannya jelas, untuk meningkatkan kualitas iman dan dengan harapan supaya bisa muncul calon-calon frater dan pastor dari asrama. Faktanya, memang sudah cukup banyak pastor yang pernah tinggal di asrama ini.

Di samping itu, di asrama ini juga dibimbing untuk latihan musik, diskusi melalui forum konferensi, berbahasa inggris, bertani, beternak, berorganisasi dan olah raga seperti tenis meja, sepak bola, bola volli dan bulu tangkis.

*****

Suatu siang, beberapa hari kemudian setelah beredar kabar di ruang makan asrama, tibalah siswa-siswa calon siswa baru SMA dan sekaligus calon penghuni baru asrama. Beberapa diantaranya adalah adik kelas Rangga Mone di SMP-nya. Dari mereka inilah, Rangga Mone memperoleh informasi pasti bahwa gadis pujaan hatinya sudah hadir juga di kota timur bumi Sandalwood.

"Teman, sebentar sore saya mau ke asrama putri.  Apakah kamu tidak ingin ikut?" kata Rehi Bula dalam nada tanya kepada Rangga Mone saat mereka mau istirahat siang.

"Ada apa di sana sahabat?" jawab Rangga Mone sekenanya saja. Sesungguhnya ia paham maksud Rehi Bula, hanya sekadar menggodanya saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4