Choirul Huda
Choirul Huda wiraswasta

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Benarkah Polisi Segan dengan Dosen, Tentara dan Wartawan?

17 Maret 2012   19:55 Diperbarui: 25 Juni 2015   07:54 11673 3 3
Benarkah Polisi Segan dengan Dosen, Tentara dan Wartawan?
1332009955155553457

"Polisi itu mafia" "Polisi suka nyari kesalahan buat nilang orang di jalan" "Polisi tidak tegas, hukumnya tumpul diatas dan tajam kebawah" "Jangan percaya Polisi, Kapolseknya aja Nyabu, mana bisa jadi contoh yang baik buat masyarakat" "Polisi itu, bla, bla, bla..."

*    *    *

[caption id="attachment_166710" align="aligncenter" width="614" caption="Masyarakat perlu trik untuk tidak sembarangan di tilang oleh Polisi di jalan"][/caption] Itulah sebagian kecil hujatan yang kerap di dengungkan oleh masyarakat kecil termasuk kita-kita ini kepada polisi selaku aparat keamanan yang tugasnya mengayomi dan melindungi masyarakat namun kadang malah berbuat yang sebaliknya. Memang serba salah jadi polisi dan salah di serba-serbinya sendiri, kadang sudah benar masih saja disalahkan oleh masyarakat. Namun adakalanya juga, saat masyarakatnya sudah benar eh malah disalahkan oleh polisi (oknum?) itu sendiri. Aneh dan bingung plus ambigu kalau kita sudah berbicara mengenai polisi, sebab benar dan salah itu tipis sekali. Setipis sehelai rambut dan kulit ari-ari kita... Saya sendiri belakangan ini sering juga menulis tentang kelakuan yang terjadi dari aparat kepolisian, entah itu mengenai kebaikan ataupun sisi buruknya. Bukan bermaksud untuk latah dengan menghakimi kinerja kepolisian ketika berada di lapangan maupun saat di ruangan, namun sebagai masyarakat tentunya kita berhak untuk menyuarakan aspirasi sendiri baik kepada Pemerintah maupun instansi kepolisian. Kebetulan pagi tadi saat kumpul dan berbincang-bincang dengan beberapa kawan mahasiswa, ada salah satu topik yang sangat menarik selain tentang Pemerintah dan Bbm, yaitu mengenai aparat kepolisian. Apalagi kalau bukan mengenai soal tilang-menilang di jalan dan yang kasus yang heboh tentang seorang Kapolsek di Bekasi ketahuan sedang nyabu serta di jalan Daan Mogot tertangkap juga seorang polisi sedang transaksi. Dalam kasus kedua, okelah kalau itu masuk dalam ranah pribadi dari polisi tersebut, sebab tidak bersinggungan langsung dengan masyarakat luas. Hanya saja menjadi tamparan yang sangat keras untuk instansi kepolisian sendiri termasuk semakin memburuknya citra mereka di mata masyarakat. Nah, untuk kasus yang pertama ini yang menjadi sangat ramai dan menarik sekaligus geram di perbincangkan kami, karena kerap terjadi pada masyarakat termasuk mahasiswa. Apalagi kalau bukan soal tilang-menilang di jalan raya, yang menurut pengakuan dari beberapa kawan saya itu kadang terlalu mengada-ngada. Mending kalau kasusnya mutlak karena kesalahan sang pengendara seperti tidak memakai helm, seatbelt atau melanggar lampu lalu lintas. Ini kadang kala yang bikin masyarakat mengernyitkan dahi, karena kesannya terlalu dipaksakan, seperti pentil ban tidak ada, berhenti melewati garis, atau kaca spion ada tetapi tetap ditilang dengan alasan bukan buatan pabrik motor. "Memangnya yang buat kaca spion hanya produsen sepeda motor saja, kan di jalan raya banyak yang jual asal standar dengan kendaraan tersebut" Ucap seorang kawan mengomentari peraturan aneh tersebut. Lalu ada cerita dari seorang kawan yang berasal dari kampus berpelat merah (maksudnya Perguruan Tinggi Negeri) yang menuturkan bahwa salah seorang Dosennya pernah berkata bahwa Polisi sangat segan dengan seorang yang berprofesi di bidang akademik, termasuk Dosen dan Guru. Saat itu menurut apa yang diceritakannya kembali, sang Dosen pernah hampir ditilang ketika melewati jalur 3 in 1 di sekitaran Sudirman. Karena beliau hanya sendiri, mau tidak mau kena pasal 100 atau istilahnya bayar rp 100.000 langsung lolos di tempat. Saat Dosen itu keukeuh ingin di tilang saja karena tidak mau menyempalkan uang "damai" kepada Polisi yang bersangkutan, tampak salah seorang polisi lainnya mendatangi mereka. Dengan sedikit berbasa-basi menanyakan pekerjaan dan latar belakang, Dosen kawan saya itu menyebut sambil mengeluarkan kartu identitas bahwa beliau berprofesi sebagai Dosen di salah satu PTN, yang langsung saja di sambut dengan ramah oleh kawan Polisi yang baru tiba. Tidak lama kemudian, sang Dosen pun tidak jadi di tilang dan hanya diberi "wejangan" karena telah melanggar peraturan lalu lintas, yaitu mengemudi mobil sendirian di jalur 3 in 1. Sontak saja sang Dosen itu langsung pamit seraya mengiyakan bahwa perbuatannya itu memang salah, namun juga tidak mau betambah salah dengan menyogok polisi yang menilangnya. Sambil tidak percaya dengan perlakuan baik namun aneh dari sang Polisi yang tidak jadi menilangnya itu, sang Dosen pun lantas menceritakan kepada koleganya di kampus juga dengan mahasiswa termasuk kawan saya. Usut punya usut ternyata memang ada peraturan tidak tertulis dari Polisi lalu lintas yang berlaku di jalan raya. Yaitu mereka terkesan lunak kepada pengendara motor yang berprofesi sebagai Guru, Dosen, Tentara, Dokter dan Wartawan. Dari apa yang saya dengar saat berbincang dengan kawan-kawan mahasiswa lainnya, memang hal seperti itu lumrah terjadi, entah apa alasannya tapi banyak pengalaman yang mengatakan bahwa beberapa profesi di atas seakan dapat menjadi tameng untuk menghadapi Polisi di jalan, terutama kalau kitanya sendiri merasa benar dan tidak melanggar peraturan. Untuk masyarakat yang berprofesi sebagai Guru, Dosen atau yang berkecimpung di bagian akademik, kemungkinan oleh Polisi sendiri merasa enggan untuk berbuat lebih jauh. Karena mereka juga sadar bahwa bisa menjadi seorang Polisi toh berkat ajaran dan didikan Guru atau Dosen saat sekolah dulu. Jadinya kalau mereka tetap memaksa untuk berbuat aneh-aneh di jalan, ada kebimbangan tersendiri karena berarti telah melawan orang yang telah membuat mereka menjadi seperti ini. Lagipula Polisi juga mempunyai anak yang masih belajar di sekolah, dan ada kemungkinan saat menilang pengendara itu adalah Guru atau Dosen yang sedang memberikan ilmu untuk anaknya. Lalu profesi tentara, sudah bukan rahasia umum lagi kalau di jalan raya, banyak Polisi lalu lintas yang terkesan membiarkan pengendara berseragam loreng berkendara tanpa memakai helm atau pengemudi mobil melanggar lalu lintas tapi tetap dibiarkan karena ada stiker dan lambang TNI di dalamnya. Lagipula polisi sendiri masih menganggap Tentara sebagai "Kakak" tertua, meski sejak reformasi telah memisahkan mereka dari TNI dan tidak bersama lagi sebagaiman ABRI dahulu. Jadinya agak dilema sendiri kalau mau menilang atau menyetop kendaraan tentara, ibaratnya masak harus melawan Kakak sendiri. Kecuali kalau sedang ada operasi besar-besaran yang biasanya banyak didatangi petinggi Polisi, itu bisa lain cerita dan ada saja tentara yang ditilang karena melanggar lalu lintas. Kemudian profesi sebagai wartawan atau jurnalis sangat ampuh untuk membuat polisi tidak berdaya saat ingin menilang. Bukan sebab apa, karena Polisi sendiri takut setelah menilang sang wartawan tersebut tidak lama kemudian namanya terpampang di media massa atau televisi. Yang ada, karena ulah sepele mereka bisa berakibat sangat fatal karena menjadi bahan pemberitaan media yang pastinya akan membuat malu atasan. Begitu juga dengan profesi sebagai Dokter, untuk kasus yang satu ini mungkin jarang mengemuka di masyarakat. Tetapi biar gagah bagaimanapun, Polisi tetaplah manusia biasa yang mempunyai kelemahan yaitu rasa sakit, baik itu sakit yang berat seperti penyakit dalam maupun sakit gigi. Dan siapa lagi yang bisa menyembuhkannya selain Dokter? Karena tidak mungkin saat mengalami sakit gigi, Polisi itu mencabut giginya sendiri lalu menambal dan membuat obat sebagaimana yang dilakukan oleh Dokter. Entah bagaimana perasaannya saat di lapangan bertindak tegas dengan pengendara yang berprofesei sebagai Dokter dan bertemu langsung saat diperiksa giginya di tempat praktek Dokter tersebut. Selain itu banyak sekali profesi lainnya yang membuat Polisi menjadi segan, saya pernah melihat pengendara yang juga seorang pemadam kebakaran lewat begitu saja saat ada operasi razia besar-besaran di daerah Grogol. Seorang pemadam yang mengenakan seragam biru tanpa memakai helm itu, jelas membuat kami yang sedang di tilang menjadi iri. Tetapi tidak lama kemudian di ketahui bahwa seorang pengendara yang berpakaian pemadam kebakaran itu lewat lagi dengan diiringi oleh beberapa mobil untuk menyelamatkan suatu kebakaran yang terjadi di bilangan Angke, Jakarta Barat. Dalam hati sempat berkata, ternyata orang tersebut memang sedang bertugas menjalankan kewajibannya untuk memadamkan perkampungan warga yang terbakar, jadi memang pantas kalau langsung lolos begitu saja. Melihat beberapa profesi masyarakat di atas, tentu tidak semuanya akan di loloskan begitu saja oleh Polisi saat ketahuan melanggar lalu lintas ataupun ketika hendak mencari-cari kesalahan mereka. Namun berdasarkan pengalaman yang saya dan kawan lainnya ketahui, memang kenyataannya berkata demikian karena setidaknya masyarakat mempunyai pegangan saat berurusan dengan Polisi di jalan raya. Terutama kalau merasa tidak bersalah sama sekali dan mengetahui bahwa itu hanyalah akal-akalan Polisi saja untuk mencari uang tambahan...

*     *     *

Daan Mogot, 18 Maret 2012 - Choirul Huda