Choirul Huda
Choirul Huda wiraswasta

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Regional

Ramadhan, Antara Sepinya Lokalisasi Dan PSK Yang Mudik (I)

19 Agustus 2011   20:54 Diperbarui: 26 Juni 2015   02:38 1638 3 0

"Emangnya mentang-mentang bulan puasa, kami harus istirahat selama sebulan penuh,  mau makan apa? Lalu kalo kami ga kerja, buat beli baju lebaran anak, terus dananya dari mana? Pemda yang ngasih!!!" Jawab Mbak G dengan nada yang tinggi."

* * *

[caption id="attachment_125785" align="aligncenter" width="500" caption="..."][/caption] Setelah berkunjung  ke rumah teman di daerah Semanan, Kalideres. Saya  dan tiga orang kawan memutuskan untuk pulang ke rumah, kebetulan malam sudah larut sekitar pukul 03 wib, Menjelang sahur tiba. Bersama ketiga orang kawanku, kami rombongan melewati daerah Pesing, Jakarta Barat. Saat belok kanan ke arah jalan Tubagus Angke, saya mendapatkan suatu "pemandangan" diantara gelapnya malam. Ternyata banyak juga, wanita penjaja seks komersial yang sedang berdiri menantikan kedatangan pria hidung belang. Tepat saat melewati Jembatan Genit, motor kawan yang berada di depan perlahan-lahan mulai berhenti. Tatkala itu dengan heran saya bertanya, kenapa malah berhenti disini, tapi dengan santainya kawan tersebut menjelaskan bahwa ia hanya mencari angin saja, sembari mengopi. Lagipula, imsaknya masih 2 jam lagi, jawabnya. Karena yang lain pada setuju, lagian tidak enak kalau saya memutuskan pulang sendiri. Masak, pergi bareng, pulangnya pada misah. Akhirnya dengan berat hati, dan deg-degan takut ada razia (terutama massa dan satpol pp) kami ngopi dan nongkrong bareng di emperan jalan dekat bantaran kali.

*  *  *

Tak lama berselang, datanglah seorang wanita dengan pakaian berwarna merah yang terlihat seksi (namun wajahnya tidak begitu tampak, karena saking gelapnya). Dengan tertawa, ia menanyakan kepada kami berempat apakah ada yang ingin "main"... Kaget, bingung dan saling celingukan diantara kami semua, karena memang niat awalnya hanya sekadar untuk mengopi dan duduk-duduk saja, meskipun dalam hati sekalian ingin cuci mata. Kemudian salah seorang kawan saya, berinisiatif untuk menawarkan sebatang rokok mild dan juga segelas kopi kepada wanita itu. Namun ia tertawa terkekeh saat ditawari kopi, ia malah mengambil sebotol minuman bersoda sembari menyalakan sebatang rokok yang dikasih kawan saya itu. Dengan menghisap dalam-dalam rokok mildnya, kemudian wanita tersebut yang mengaku bernama "G" kembali menanyakan kepada kami bahwa diantara kami berempat ada yang mau "ditemani" atau tidak. Dengan sedikit berbohong, kawan saya yang satu mengatakan bahwa ia sedang menunggu seseorang dan belum berniat. Namun dengan gayanya yang genit dan menggoda, wanita itu malah bilang itu sudah basi...

*  *  *

Terus, terjadilah dialog diantara kami berempat dengannya. Kawan 1 : "Mbak, kok tumben sih sepi, emangnya yang lain pada kemana?" G: "Yah, begitulah Mas. Kalau bulan puasa memang disini agak sepi, beda dibandingin hari biasa. Sampe-sampe berderet panjang disekitar jalan ini." Kawan 1 : "Oh..." Kawan 3 : "Emangnya udah pada mudik ya Mbak?" Kawan saya yang lain menimpali. G: Iya, sih sebagian udah pada pulkam. Tapi ga juga, soalnya yang lain pada takut ada razia, apalagi kalo bulan puasa mah sangat gencar-gencarnya, ga cuma satpol pp aja, tapi dari Ormas juga banyak. Makanya kita-kita (sebutan bagi G dan kawan seprofesinya) banyak yang takut dan lebih milih mudik. Kawan 3 : "Mudik? Enak dong, Berarti mereka pada istirahat di kampung ya?" G : "Enggaklah! Emangnya mentang-mentang bulan puasa, kami harus istirahat selama sebulan penuh,  mau makan apa? Lalu kalo kami ga kerja, buat beli baju lebaran terus dananya dari mana? Pemda yang ngasih!!!" Jawab Mbak G dengan nada yang tinggi. Melihat perubahan yang drastis dari wajahnya, kemudian aku mengalihkan perhatian Mbak G agar tidak sewot kepada pertanyaan kawanku itu yang polos. Saya : "Mbak asalnya dari mana, ngedenger logatnya seperti..." G: "Saya berasal dari Indramayu, pasti sering dengar kan?" Saya : "Oh, iya iya... Terus teman-teman Mbak yang lainnya? G : "Sama sih, banyak juga yang satu daerah sama saya, juga banyak yang dari timur" Lalu ia berkata "Bentar ya, Mas. Ntar saya balik lagi" Mbak G kemudian beranjak untuk menghampiri seorang pengendara sepeda motor yang berhenti tidak jauh dari tempat kami duduk.

*  *  *

Tidak lama berselang, kemudian Mbak G sudah berada didekat kami dengan kawannya yang terlihat agak sedikit berumur, ya sekitar 30an. Kawan 1 : "Gimana, Mbak? Kok ga jadi" G : "Tau tuh orang, nawarnya pelit bener udah murah juga, eh masih mau yang lebih murah lagi. Emang dia pikir punya gw ini aset milik negara apa...!" Kami tertawa bareng, mendengar perkataan terakhir dari Mbak G itu. Terus, teman Mbak L yang baru datang ikutan menimpali. "Yah, lo sih semua kesini cuma duduk-duduk doang, males gw nemenin orang yang ga ada duitnya. Gw cabut dulu ya, G..." Kawan saya yang dari tadi diam saja, ikutan komentar, Kawan 2 : "Kenapa tuh Mbak, kayaknya sewot amat. Padahal Mbak G aja yang dari tadi ga apa-apa ya." G : "Tau lah, mungkin dia lagi kesel aja. Dari tadi belum dapet pelanggan. Makanya dia bete ngeliat gw cuma nongkrong sama lo pada." Kawan 1 : "Emangnya, Mbak sudah dapet berapa...?"

*  *  *

Akhirnya dari mulut Mbak G, ia bercerita tentang profesi yang dia lakuin selama ini. Soal bagaimana ia mendapatkan uang perharinya, terus disetorkan sama siapa saja. Resiko dikejar-kejar aparat karena razia, ditipu mentah-mentah oleh pelanggannya. Kemudian juga soal teman-temannya yang pada mudik dikampung, alih-alih istirahat selama puasa, malah melanjutkan di sepanjang jalur Pantura, warung remang-remang... Dan juga tentang bagaimana, selama di bulan puasa ini, meskipun tidak berkerja sebulan penuh, namun pontang-panting harus tetap menyisihkan uang untuk keluarganya di kampung agar anak dan saudaranya bisa membeli baju lebaran dan memasak ketupat... Tak terasa saat melirik jam, sudah lewat pukul 04. Meskipun seru dan menarik, tapi sudah mau Imsak. Dan juga, mau ga mau, perbincangan ini harus disudahi. Akhirnya, kami beranjak pamit kepada Mbak G. Tak lupa, kawan kami yang tadi disemprot (kawan 3) menyepalkan selembar uang kertas berwarna biru sebagai pengganti uang ngobrol. Dengan senyum yang terlihat menawan, Mbak G mengucapkan terima kasih dan berpesan supaya kami sering-sering mengobrol dengannya?

*  *  *

...terpisah dari ramai, berteman nyamuk nakal

dan segumpal harapan

kapankah datang tuan berkantong tebal...

habis berbatang-batang tuan belum datang

dalam hati, resah menjerit bimbang...

apakah esok hari

anak-anakku dapat makan...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2