Choirul Huda
Choirul Huda wiraswasta

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Pelukis Yayak Yatmaka kembali Gelar Pameran Tunggal di TIM

4 Mei 2014   09:48 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:53 308 1 1
Pelukis Yayak Yatmaka kembali Gelar Pameran Tunggal di TIM
13991387161039389990

[caption id="attachment_305923" align="aligncenter" width="491" caption="Galeri lukisan Yayak Yatmaka (foto koleksi pribadi: www.kompasiana.com/roelly87)"][/caption]

Pelukis Yayak Yatmaka kembali menggelar pameran tunggal di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Pameran tunggal di TIM itu merupakan yang kedua kalinya setelah 2013 dan 2004. Menjadi menarik, mengingat pria kelahiran Yogyakarta, 1956 ini sempat "dicekal"  karena dinilai nakal. Tidak hanya oleh pemerintah, bahkan oleh sesama seniman pun.

Itu diakui Yayak kepada saya saat menghadiri pamerannya di Galeri Cipta III TIM, Sabtu (3/5). Sebagai penikmat seni, kehadiran karya dari pelukis yang dikenal nyentrik ini tentu tidak bisa dilewatkan. Kebetulan, kemarin merupakan hari libur, yang bisa digunakan sambil berkeliling menikmati suguhan 120 lukisan bertema "Anak dan Perempuan Perkasa".

Awalnya, sempat kaget juga ketika mendengar kabar Yayak benar-benar bisa mengadakan pameran tunggal di TIM. Apalagi setelah mengetahui bahwa saat pembukaan dihadiri Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Agum Gumelar pada hari sebelumnya (2/5). Maklum, Maret lalu ramai diberitakan  pihak TIM menolak keinginan Yayak untuk kembali mengadakan pameran tunggal.

Alasannya jelas, lukisan karya Yayak dikenal sangat kritis dan terlalu memprovokasi masyarakat. Namun, berkat kegigihannya melobi sana-sini, baik itu Komisi Hak Asasi Manusia (HAM), DPR, Kementerian Pendidikan Nasional, dan juga Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama. Akhirnya, pihak TIM setuju dan memberi kesempatan bagi Yayak untuk menggelar pameran pada 2-13 Mei.

"Ya, mau gimana lagi mas. Yang penting, kita berusaha untuk terus berkarya dan memperlihatkannya kepada masyarakat umum," kata Yayak ketika berbincang dengan saya di lantai dasar Galeri Cipta III TIM, kemarin.

Sambil menerangkan riwayat beberapa lukisan yang memiliki nilai historis saat pembuatannya, termasuk yang berjudul "Anak Bangsa Perkasa Itu Bernama Marsinah, Munir, dan Thukul", Yayak melanjutkan, "Saya sudah sejak 1990 menggelar pameran tunggal. Awalnya memang di Eropa, yaitu di beberapa kota Prancis. Hingga, 2005 lalu saya kembali ke Jakarta. Ini merupakan pameran tunggal saya yang ketiga di TIM setelah 2004 dan 2013."

Sebagaimana lazimnya seniman lainnya, Yayak tidak terlalu peduli dengan persepsi "nakal" yang kerap ditujukan padanya. Yang terpenting, bagi dirinya adalah dapat berkarya dan bisa dipertanggung jawabkan saat memamerkannya kepada masyarakat umum. Itu dikatakan sosok yang juga aktif di dunia blogger mengenai rencana menggelar pameran selanjutnya.

"Untuk pameran, saya biasanya bekerja sama dengan sponsor. Soal harga yang ditawarkan terhadap suatu lukisan itu bervariasi nominalnya," tutur pria yang menjiwai karya seni yang bersinggungan langsung dengan masyarakat umum. Itu bisa dilihat dari karya berjudul "Awas Ada Amerika, Ha Ha Ha". Lukisan yang dibuat pada 2009 itu menyoroti perilaku konsumtif rakyat Indonesia yang gemar memakai sesuatu dari Amerika Serikat (AS). Mulai dari sandang, papan, hingga pangan dalam denyut kehidupan sehari-hari.

"Banyak yang menilai saya sebagai pelukis nakal. Padahal, bagi saya, lukisan adalah media yang tepat untuk mengungkapkan ekspresi. Bisa jujur dan apa adanya karena memang realistis di kehidupan sehari-hari. Apalagi, karya ini hanya selang sehari  dari peringatan Hari Buruh, 1 Mei kemarin," ucap Yayak yang pada era orde baru pernah menetap di Jerman akibat beberapa karyanya dianggap sangat menyinggung pemerintah saat itu. Termasuk, lukisan yang fenomenal seperti "Tanah Untuk Rakyat".

Hampir dua jam saya menjelajahi hasil karya Yayak di dua lantai gedung Galeri Cipta III TIM. Jika dilihat sekilas, lukisan-lukisan itu tampak biasa. Namun, jika diteliti lebih dalam lukisan Yayak itu seperti memiliki kisah tersendiri karena cerminan dari rakyat Indonesia. Mungkin menjadi ironi karena melalui media kanvas dan kuas, Yayak seperti "menyihir" orang yang melihatnya. Setidaknya, bagi saya yang masih merasa kagum dan terbayang akan arti dari lukisan itu sendiri meski sudah beberapa jam meninggalkan TIM.

*       *       *



Sekilas tentang Yayak Yatmaka

Lahir di Yogyakarta, 1956. Pernah sekolah di Jurusan Desain Grafis FSRD ITB sejak 1977. Sejak 1992 tinggal di Jerman dan pernah menjadi anggota Group Seni Critique Prancis sejak 1998 hingga kembali ke Indonesia pada 2005.

Pameran Tunggal di Indonesia:

2003 - Balai Pemuda, DKS, Surabaya
2004 - "Semau Orang Itu Guru", Galeri Cipta II TIM, Jakarta
2013 - "Gambar Sebagai Senjata Rakyat Merdeka", Galeri Cipta III TIM, Jakarta dan Galeri Semardjo ITB, Bandung
2014 - "Anak Dan Perempuan Perkasa", Galeri Cipta III TIM, Jakarta

*       *       *



1399138896361007560
1399138896361007560

*       *       *




[caption id="attachment_305926" align="aligncenter" width="491" caption="Awas Ada Amerika, Ha ha ha"]

1399138926903244632
1399138926903244632
[/caption]

*       *       *




[caption id="attachment_305927" align="aligncenter" width="369" caption="Pameran Tunggal yang berlangsung 2-13 Mei 2014"]

1399138952823815267
1399138952823815267
[/caption]

*       *       *




[caption id="attachment_305928" align="aligncenter" width="270" caption="Saya mendapat kenang-kenangan dari Yayak Yatmaka (foto kompasianer Trieyas)"]

13991389741108219372
13991389741108219372
[/caption]

*       *       *



Artikel Pameran Sebelumnya:
- Semarak HUT TNI ke-68 di Monas
- Catatan dari Wayang World Puppet Carnival 2013
Kasus Pencurian dan Lemahnya Pengawasan Museum di Indonesia
- Yuk, Meriahkan Karnaval Wayang Dunia 2013
- Tapak Tilas Hari Kemerdekaan di Museum Prangko
- Yuk, Berkunjung ke Pameran Filateli di Museum Prangko

*       *       *



- Jakarta, 5 Mei 2014