Mohon tunggu...
Rizki Muhammad Iqbal
Rizki Muhammad Iqbal Mohon Tunggu... Penulis - Suka makan ikan tongkol

Hari ini adalah besok pada hari kemarin

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Apakah Aneth Memang Sudah Gila?

8 Oktober 2021   19:19 Diperbarui: 8 Oktober 2021   19:43 272
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Gambar: dream.co.id logo

"Temui aku di halaman gedung mall kota dalam 30 menit ini. Aku ingin menunjukkan sesuatu hal yang menyenangkan." ucapnya tiba-tiba.

Nooot... nooott....

Telepon ditutup dengan segera. Kata-kata itu juga menjadi penanda berakhirnya obrolan kami di telepon. Aku bingung. Mengapa dia justru mengajakku ke mall kota? Apakah dia ingin membeli sepatu? Aku ingat bahwa sepatunya sudah terlampau lusuh bagi seorang perempuan kelas menengah seperti dirinya. Atau mungkin mencari produk kecantikan? Apakah dia pada akhirnya akan segera membeli kepuasan dan kesenangan yang tersaji dalam kemegahan gedung mall? Ah, rasanya dia tidak akan membeli itu. Lagi pula, sebagian besar orang setidaknya pernah merasakan kesenangan dengan membeli kepuasan dalam kemewahan gedung mall. Lantas mengapa?

Sebelum menemuinya di mall kota, kusempatkan untuk berganti pakaian. Aku ingin terlihat sebagai sosok yang keren dan tampan di hadapannya. Kusemprotkan parfum di tubuhku ini agar dia selalu nyaman di dekatku. Aku akan menjadi saksi bagaimana Aneth akan berhasil melakukan sesuatu yang belum pernah orang lain rasakan, katanya---meskipun aku sudah menduga bahwa dia adalah orang aneh yang selalu melakukan hal-hal yang tidak penting untuk dilakukan.

***

Tepat 30 menit kemudian, aku sampai di mall kota. Kuparkirkan motorku di halaman parkirnya. Begitu aku berjalan menuju halaman mall, kulihat ada kerumunan yang berdesak-desakan. Ada yang mengambil gambar, ada pula yang menutup mulut dengan tangannya. Suara-suara yang ada tidak begitu terdengar jelas. Suara-suara itu tumpang-tindih tanpa adanya kejelasan yang mampu ditangkap oleh telingaku. Begitu aku menyerobot masuk ke dalam kerumunan, kulihat sesosok perempuan dengan pakaian yang bukan saja kukenali, namun sesuai dengan apa yang biasanya dikenakan. Perempuan itu mati menggelepar dengan kepala yang hancur bersimbah darah. Wajahnya menjadi sulit dikenali. Namun aku mengenali wajah itu. Aneth sudah meninggal seketika.

***

Media hari ini ramai memberitakan Aneth yang bunuh diri dengan melompat dari atas gedung mall lantai empat. Dia jatuh di atas aspal panas dengan membenturkan kepalanya terlebih dulu. Beritanya meluas sampai ke media kawakan. Kematiannya juga dijadikan sebagai bahan diskusi di televisi. Selain itu, muncul asumsi-asumsi yang menyatakan bahwa Aneth diduga menderita bipolar, skizofrenia, gangguan mental, bahkan ada pula yang mengatakan bahwa dia depresi karena persoalan keluarga. Menurutku, keluarga Aneth itu baik-baik saja. Aneth masih bisa merasakan kasih sayang dari orang tuanya.

Lantas mengapa? Apakah Aneth memang sudah gila?

Aku juga dipanggil oleh pihak kepolisian untuk dimintai keterangan. Ponsel milik Aneth ada di pihak kepolisian untuk diamankan dan dijadikan barang bukti. Sebelum Aneth bunuh diri, dia memang sempat meneleponku. Terdapat riwayat panggilanku di ponselnya. Namun penjelasanku tidak memuaskan bagi mereka. Aku hanya menjelaskan tentang apa yang dibicarakannya lewat telepon saat itu. Aku juga mengatakan bahwa aku membawa tas yang dikenakannya saat bunuh diri. Ketika aku menyadari bahwa perempuan yang tergeletak saat itu adalah Aneth, aku memang langsung mengambil tasnya sebelum ambulan datang.

Besoknya aku akan dipanggil kembali untuk menyerahkan barang bukti berupa tas untuk kebutuhan investigasi lanjutan. Namun aku ingin membuka tas kekasihku itu terlebih dulu. Kutemukan buku harian yang tidak pernah kuketahui sebelumnya. Tepat di hari kematiannya, dia menulis sesuatu:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun