Mohon tunggu...
Iqbal RM
Iqbal RM Mohon Tunggu... --______________--

Hari ini adalah besok pada hari kemarin.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Idiom Traumatik

25 Januari 2020   00:25 Diperbarui: 25 Januari 2020   00:48 32 2 1 Mohon Tunggu...
Idiom Traumatik
http://indraismail.blogspot.com

Terduduk aku sejenak, bertemankan sebotol aqua dan sodoran kopi hitam yang legam dan diaduk dengan air mata keheningan.

Akan kuulang betapa kehidupan yang terekam di dalam ingatan; tentang bagaimana kita berusaha merawat ingatan yang menikam kewarasan yang normal. Aku tidak ingin bersedih dan menangis; tak ingin menyempit pada suatu garis yang menolak sebuah senyuman; tak ingin kembali mengulang kejadian yang tak terelakkan; bertanya takdir yang pernah kita rasakan.

Takdir tak pernah menjawab sebuah pertanyaan; sebagaimana ingatan yang terlontar, terlempar, terperosok jauh ke dalam kenangan yang menyakitkan.

Masih kita ingat betapa lembaran-lembaran koran itu menutupi pandangan kita, melalui jendela; tentang bagaimana jalan yang menutupi langkah kita, menutup alur yang membujur membentuk lajur yang berbeda; sebuah pelepasan ikatan yang menikam hati kita, terdesak oleh keadaan yang mencekam; kita lihat betapa selembar kertas dengan bubuhan pena di atasnya mampu membuat kita menitikkan air mata; kita menangis kala ruang-ruang halu berubah menjadi sendu, saat orang-orang asing mulai mencuri kehidupan kita, menggunakan alat kesalahan sebagai wujud kebenaran.
Kita bersembunyi di bilik-bilik kamar dengan degup derita; mengubah isi ruangan menjadi sesosok tangis dan penyesalan. 

Ingatkah kita pada sebuah lampu-lampu padam; di sebuah kehidupan kita terpental pada sore itu. Lorong-lorong tabu; menutup kemungkinan baru; segel yang terkunci pada ranting-ranting besi; tangis kita tak membuahkan apa-apa lagi.

Kepada anak sekecil itu, merasakan sebuah penderitaan dengan kualitas yang sama; dengan air mata kehilangan bersama; dengan dendam yang menggumpal di bawah payung yang sama. Tentu kita ingat, betapa kita terlalu menyadari hal itu terlalu dini. Aku berjalan menyusuri ruang dan waktu, dengan peluh menetes meminta ampunan. Kugeluti berbagai keharusan sebagai wujud pemberontakan kehidupan; sedang kesia-siaan telah membuntutiku sedari awal.

Ruang makan yang dulu sempat merajut kebersamaan, hingga berbagai ramadhan kita teguk segelas coco pandan yang menyenangkan, kini hilang, bahkan menjadi sebatas tempat suguhan makanan, tanpa sempat kembali merangkai angan-angan yang belum sempat diutarakan. Ruang di mana kita bisa berkumpul bersama; kini tersekat oleh permasalahan yang pernah menimpa, hingga berbuntut pada kegelisahan bersama.

Apakah kita bisa semesra dahulu? Apakah kita akan kembali memeluk, dan membuang tangis itu di sela-sela hidangan yang memilukan itu? Setelah lama kita bertanya-tanya, setelah hidup mengharuskan kita untuk pergi merangkai mimpi sendiri, di manakah kita mampu bercerita tentang hari itu? Kita hanya bisa diam, merindu bersama lantunan suara angin yang membisu.

Diam kita terpikat, menatap di balik sekat tanpa alamat. Mendekorasi ulang generasi yang hampir teralienasi; pada destruksi yang mematahkan nyali; pada sebuah hegemoni hitam yang menutup warna-warna baru. Kita menatap remang-remang cahaya pada sebuah masa yang hendak kita capai; sebuah mimpi yang pernah kita rangkai; mengungkap bahwa hidup bukan sebatas bunga bangkai yang digilas hidup yang lemah gemulai. Kita bukanlah tangis yang menjengkelkan, namun terkadang, kita ditutupi oleh perasaan seram yang tidak pernah terbayangkan.

Bisakah kita kembali berjalan, melepas belenggu yang memenjarakan kita pada perasaan yang pernah terciptakan oleh keadaan? Bisakah kita hidup di tengah-tengah perapian?

Ketahuilah: Bersenang-senanglah di ujung pandang tanpa harus terbenam di dalam penyesalan; kehidupan adalah kematian yang menyenangkan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x