Mohon tunggu...
Iqbal RM
Iqbal RM Mohon Tunggu... --______________--

Hari ini adalah besok pada hari kemarin.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi | Manusia di Ambang Keterasingan

14 Januari 2020   22:28 Diperbarui: 15 Januari 2020   18:50 210 10 4 Mohon Tunggu...
Puisi | Manusia di Ambang Keterasingan
Karya dari DestinyBlue.

Pada malam-malam yang sehangat perapian; hangat dan nampak mencekam di perjalanan panjang. Ratapan-ratapan muram yang kita khawatirkan, takkan selesai walaupun waktu habis ditelan peradaban.

Kita telah sampai di persimpangan. Enggan melepas harap, namun hati semakin berkarat. Tak ada satupun ungkap yang kita tinggal dalam perapian, sebagai bukti bahwa kita pernah menjadi manusia, walau tak menemukan kepastian.

Kita berjalan; tak melekat; bahkan lambat. Kita berdiri di atas hasrat akan materi, pertimbangan akan pandangan, modus eksistensi yang bertumpu pada keramaian; bising dan seolah mempedulikan.

Kita duduk dan meratapi kehidupan; di tepian jalan, kita anggukkan kepala dan menyambut hari depan. Tetapi apa? Yang kita dapatkan hanyalah ilusi kepedulian, hasrat semu kebahagiaan; kita hanya menemukan identitas diri yang menghancurkan. Kita kehilangan arah; kehilangan naluri; kehilangan daya; kehilangan asumsi; kehilangan diri sendiri; kebebasan kita telah mati.

Inilah kesalahan kita: bertumpu pada pandangan orang, bersikukuh dalam kesementaraan; bersemayam dalam keangkuhan; melakukan sesuatu yang bahkan tak membahagiakan; bahkan yang lebih menyakitkan: terabaikan dalam ketiadaan. Kita hanya mempedulikan keberadaan melalui nilai-nilai dari dunia luar. Kita tak pernah menanamkan nilai pada dunia kita sendiri.

Sampai di ujung jalan, kita bertepuk tangan atas angkara dunia; cinta-cinta yang tertunduk lesu; bertransformasi menjadi sesuatu yang keji dan teralienasi. Sampai akhirnya dunia menyadari bahwa kita tidak pernah saling mencintai.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x